Probolinggo – Pemuda Pancasila Kota Probolinggo tidak ketinggalan dengan turut menunjukkan kekecewaan kepada Walikota Probolinggo dr. Aminuddin yang malah mendatangkan Mobil Dinas (Mobdin) baru dibanding merealisasikan janjinya.
Di tengah adanya efisiensi anggaran, justru bukan untuk menetapi janji menyejahterakan guru ngaji yang hingga kini masih belum terlaksana dan malah memangkas insentif guru ngaji.
Sebelumnya, kebijakan Walikota Probolinggo dr. Amin mendatangkan kendaraan dinas baru beberapa waktu lalu mendapat banyak sorotan dari berbagai pihak, tak terkecuali Ansor Kota Probolinggo dan guru ngaji.
Ketua Pimpinan Cabang SAPMA Pemuda Pancasila Kota Probolinggo, Fajar Ilyas menagih janji politik dengan menolak kebijakan pembelian mobil dinas walikota.
“Urgensi mobil dinas tidak terlalu signifikan jika harus dibandingkan dengan insentif guru ngaji yang sudah lama merasa tidak sejahtera. Padahal janji politik dari Walikota Probolinggo itu salah satunya akan menyejahterakan guru ngaji,” kata Fajar, Kamis (19/3/2026).
Tentunya, menurut Fajar, dengan mendatangkan kendaraan dinas baru, keberpihakan walikota kepada guru ngaji patut dipertanyakan. Terlebih anggaran guru ngaji dipangkas 2 Miliyar dengan alasan efisiensi.
“Akan tetapi membeli mobil dinas tidak masuk dalam program efisiensi. Sangat terkesan sekali kalau hal ini mengorbankan rakyat, seharusnya walikota harus membela kebijakan pemerintah yang pro rakyat, bukan mengorbankan rakyat,” ujar Fajar.
Pengorbanan guru ngaji, lanjut Fajar, jangan sampai dikesampingkan. Hanya karena duduk berdiam diri di sebuah musolla kecil bukan berarti tidak berguna. Namun, dari didikan guru ngaji itulah, masa depan bangsa terselamatkan.
“Guru ngaji itu bukan beban, melainkan aset bangsa dalam menjaga moral anak-anak bangsa. Hormat kepada guru ngaji, sama halnya menjaga masa depan generasi muda,” pungkasnya.
Wartawan Serikat News Probolinggo
Menyukai ini:
Suka Memuat...