Pada tulisan sebelumnya saya pernah menyatakan keberatan tentang “Sekolah Ibu” yang digagas Wakil Bupati Bandung Barat Kang Hengky Kurniawan. Melihat tanggapan pembaca yang beragam saya sangat apresiatif, ada yang mendukung dan tidak. Bahkan ada pula yang mengangap sebagai penggiringan opini yang sesat. Sehingga mendorong saya untuk melanjutkan catatan mengenai sekolah tersebut.
Terkait keberatan saya, pertama tentang alasan dibalik konsep Sekolah Ibu, yang menjadikan Ibu sebagai penyebab tingginya angka perceraian di Kabupaten Bandung Barat. Memang kita tidak menutup mata jika yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama saat ini mayoritas adalah perempuan.
Hal itu bukan tanpa alasan, keberanian Ibu untuk mengambil keputusan mungkin ada ketidakharmonisan yang disebabkan kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran ekonomi atau diduakan oleh suami. Jadi bukan hanya karena Ibu yang sudah tidak patuh terhadap suami, atau tidak sayang pada anak-anak.
Jika alasannya begitu, mengapa tidak disediakan pula Sekolah Ayah, Sekolah Anak atau Sekolah Keluarga yang tujuannya adalah memberi pengajaran tentang bagaimana bisa saling menghormati antar anggota keluarga, suami-istri dan anak-anak dengan dasar cinta serta kasih sayang. Ditambahkan pula materi manajemen konflik, agar sebagai orang tua ketika menghadapi persoalan rumah tangga mampu keluar dari masalah tanpa harus berpisah.
Setelah mendapat banyak protes dari para perempuan penggerak, Kang Hengky melalui akun pribadinya di media sosial menjelaskan bahwa ia tidak berrmaksud menyalahkan Ibu dalam kasus perceraian. Tetapi ia juga melakukan studi banding program “Sekolah Ibu” ke Kota Bogor yang diklaim telah berhasil menekan angka perceraian.
Meski masih belum ada penelitian lebih lanjut mengenai informasi kaitan antara Sekolah Ibu dengan pengurangan angka perceraian itu, tetapi melansir kabar dari detiknews.com saya mencatat beberapa hal. Konsep Sekolah Ibu di Kota Bogor berjalan karena berangkat dari fenomena sosial, tingginya angka perceraian, tawuran pelajar, dan peredaran narkoba yang semakin meresahkan. Ini terjadi akibat melemahnya peran dan fungsi keluarga dalam masyarakat.
Kegiatan pembelajaran Sekolah Ibu di Kota Bogor dilaksanakan dua kali dalam satu minggu, yakni Senin dan Kamis pada Pukul. 13.00 wib, dengan memanfatkan fasilitas aula di masing-masing kelurahan. Adapun materi yang diberikan terdiri dari 3 bab dengan total 18 item turunan. Sementara itu materi dalam bab pengajaran antara lain berisi tentang menuju gerbang pernikahan. (bab 1). Membangun keluarga bahagia (bab II), dan membangun generasi unggul. (bab III).
Jika menilik pada materi yang disampaikan, saya masih meragukan Sekolah Ibu akan efektif karena hanya menitikberatkan pada Ibu sebagai satu-satunya penjaga kebahagiaan keluarga, dan mendidik generasi unggul tanpa melibatkan peran Ayah dalam pola pengasuhan bersama.
Tetapi dengan melihat nilai anggaran Sekolah Ibu di Kota Bogor yang mencapai Rp. 4,080 miliar dan jumlah peserta di angkatan kedua sebanyak 1.020 perempuan, akan sangat disayangkan jika program ini tidak tepat sasaran.
Alih-alih memberi akses pada perempuan, malah menjadi blunder dan mematikan peran perempuan dalam kehidupan yang lebih luas. Meredupkan potensi kemanusiaan perempuan, yang sejatinya setara dengan laki-laki agar mampu bersikap kritis terhadap sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya. Sehingga keadilan gender benar-benar bisa terwujud dengan nyata.
Mungkin kita bisa melihat contoh nyata Sekolah Ibu yang sudah berjalan di Komunitas Tanoker Ledokombo Kabupaten Jember Jawa Timur. Dengan mengusung tema “Pengasuhan Gotong Royong”, modul Sekolah Bok-Ebok (bahasa Madura Ibu-Ibu), dibuat dan menjadi acuan dalam pelaksanannya.
Dalam modul setebal 102 halaman yang saya baca versi digitalnya, memuat tentang materi Peran Perempuan dalam Keamananan untuk menangkal pemahaman radikalisme yang masuk dalam keluarga, dengan menanamkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Lalu Peran Perempuan dalam Pembangunan agar Ibu punya rasa memiliki terhadap lingkungan, dan berpartisipasi dalam perubahan sosial yang terjadi disekitarnya.
Kemudian materi berikutnya tentang Peran Perempuan dan Lelaki dalam Keluarga serta Masyarakat, dan Pengasuhan Gotong Royong. Dimana Ayah dan Ibu punya tanggung jawab yang sama dalam mengelola masalah rumah tangga, serta mendidik anak agar menjadi generasi unggul dan berkualitas di masa depan.
Yang paling menarik tentang Sekolah Bok-Ebok di Ledokombo ini, juga memasukkan materi perspektif gender, karena dianggap sangat penting agar dapat melengkapi perspektif perempuan sehingga Ibu mampu membuat analisis masalah kehidupan secara lebih tepat, dan membuat keputusan yang adil baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Nah itu baru dinamakan “Sekolah Ibu”, jika mulai dari konsep, metode pembelajaran hingga muatan materi yang disampaikan mengedepankan prinsip kesalingan, kesetaraan dan keadilan gender. Jadi jika Kang Hengky serius mau menggarap program Sekolah Ibu, sebaiknya libatkan para perempuan penggerak, mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan Ibu. Atau kalau perlu lakukan studi banding ke Komunitas Tanoker di Kabupaten Jember.
Apabila langkah demikian yang diambil, saya yakin semua ibu akan semakin semangat untuk belajar, dan para penggerak perempuan pun siap untuk terlibat sharing gagasan, bersinergi dan bekerjasama. Mewujudkan program Sekolah Ibu dengan konsep yang baru.
Penulis Adalah Aktivis Perempuan, Penggila Baca, Penyuka Sastra dan Hobi Menulis. Tinggal di Indramayu
Menyukai ini:
Suka Memuat...