BARU-BARU ini masyarakat Jakarta dihebohkan dengan fenomena anak “Citayam” yang hadir di seputaran Dukuh Atas. Lalu berkembang menjadi anak-anak “SCBD” dengan gabungan Sudirman, Citayam, Bojong Gede, Depok. Viralnya anak-anak ini pada ruang publik di salah satu sudut Ibukota Jakarta memberikan warna dan keunikan tersendiri. Media sosial akhir-akhir ini dipenuhi banyaknya konten berita tentang mereka. Ada yang pro dan kontra.
Fenomena ini tak luput juga dari perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno. Mengutip wawancara beliau di beberapa media bahwa fenomena ini merupakan bagian dari Urbantourism (wisata perkotaan). Mereka datang di pojok-pojok kota mengambil gambar. Selain itu, mereka juga menampilkan product fesyen (pakaian) dari daerah, akan tetapi dengan tidak membebani dengan kegiatan yang negatif. Menurut Sandiaga Uno, bila mereka berbakat bisa direkrut sebagai agen-agen promosi dari destinasi wisata itu dengan memberikan pelatihan dan beasiswa politeknik pariwisata.
Dalam lingkup Psikologi Komunikasi, fenomena ini sebenarnya adalah suatu hal yang wajar. Hal ini terjadi karena rasa dan naluri manusia untuk bersosialisasi dan membentuk kelompok sesuai dengan karakteristik dan tujuan tertentu. Mereka ingin menunjukkan sifat, karakter, dan tingkah laku untuk dikenal publik atau masyarakat dengan cara membuat konten ataupun mengambil foto pada sudut-sudut kota secara kekinian. Mereka ingin mengkomunikasikan diri mereka pada ruang-ruang kreatif yang didapat pada ruang publik tanpa mengabaikan aspek kejiwaannya.
Pengertian atau pun maksud dan tujuan mereka akan dapat disampaikan ketika komunikan (masyarakat) menerima rangsangan terhadap isi pesan yang disampaikan oleh komunikator (anak-anak Citayam/SCBD). Dan pada hal ini, anak-anak Citayam ini berhasil mengkomunikasikan eksistensi mereka pada ruang publik di sudut kota Jakarta dengan mengemas konten yang kekinian. Sehingga memunculkan selebgram baru pada komunitas mereka yang dikenal dan ramai diperbincangkan pada media sosial seperti fenomena “Jeje” dan “Bonge”. Konten kreator muda berbakat bermunculan serta menjadikan daya Tarik tersendiri bagi konten kreator yang sudah eksis untuk hadir dan mengajak mereka berkolaborasi. Namun, tak jarang apa yang mereka tunjukan atau viralkan tidak semua proses komunikasi mereka ditujukan untuk membentuk pengertian. Sebagian menunjukkan hanya untuk mencari kesenangan dan menjadikan hubungan mereka sebagai si komunikator menjadi lebih akrab terhadap komunikan.
Dari pembentukan komunikasi mereka kepada publik, anak-anak Citayam atau SCBD ini mampu membuat opini orang lain atau masyarakat dalam mempengaruhi pendapat, sikap, bahkan pikiran mereka terhadap fenomena ini. Ada yang menanggapi hal ini dengan positif, ada pula yang negatif. Bagi yang menanggapi negatif, fenomena kehadiran mereka dengan menjadikan jalanan tempat tongkrongan baru dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada pengguna jalan yang lain. Namun bagi yang pro terhadap anak-anak ini, kehadiran mereka dianggap warna baru di salah satu sudut kota Jakarta asal ketertiban serta tidak membuat kotor lingkungan sekitar.
Namun apa pun bentuknya, sudah sepatutnya negara hadir dalam memberikan ruang-ruang publik yang lebih baik lagi, dalam menopang dan menarik kreativitas anak muda saat ini. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia mendapatkan bonus demografi anak-anak generasi millennial dan generasi Z yang mampu mengubah ruang kreativitas yang baru dalam menunjukkan minat dan bakat mereka. Bahkan anak-anak ini pun mampu mengubah perspektif setiap orang di dalam memandang fenomena yang terjadi di sosial masyarakat. Kita semua tahu bahwa perjuangan untuk bertahan selama dua tahun belakangan ini tentu mengunci segala aspek kreativitas dan keinginan serta ide-ide out of the box dari pada generasi muda millennial dan generasi Z saat ini.
Ruang publik yang tercipta di Jakarta memberikan nuansa tersendiri bagi masyarakat di daerah sekitaran kota Jakarta untuk datang dan berkunjung. Ditambah fasilitas stasiun kereta yang dibangun pemerintah juga ikut menjadi andil di dalam memudahkan masyarakat daerah untuk berkunjung ke Jakarta. Semoga pemerintah di daerah lain juga mampu menciptakan ruang publik yang mampu menarik masyarakat daerah lain untuk datang berkunjung. Adanya fenomena baru “urbantourism” (wisata perkotaan) menjadi salah satu daya tarik sendiri dalam memajukan daerah. Bukti nyata bahwa wisata perkotaan ini juga bisa mendatangkan pemasukan bagi daerah serta memacu pemerintah daerah dalam memberikan ruang publik yang bersahabat bagi masyarakatnya serta ruang kreativitas bagi anak muda.
Pemimpin Umum serikatnews.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...