Headline Kompas – Demokrasi Makin Matang. Apa benar ? Saya tidak setuju dengan istilah matang yang dipersamakan dengan buah. Bagaimana kalau menjadi terlalu matang alias menjadi busuk? Bukankah tidak bisa dinikmati? Artinya kalau tidak matang juga sulit. Setengah matang lalu diperam dan matang dikarbit?
Yang seharusnya diupayakan adalah demokrasi yang cocok dengan budaya kita. Selama ini kita menggunakan demokrasi barat yang terlalu bebas. Akibatnya potensi perpecahan amat besar. Sementara itu rasa kesatuan dan persatuan yang padu belum terbentuk secara kuat. Terbukti ketika kampanye hal-hal itu masih dikemukakan oleh elit kita, bahkan dari mantan seorang militer tertinggi di negara kita. Apa artinya ? Pendidikan bernuansa dan berdasarkan Pancasila hampir disemua jenjang dan sektor di negeri kita terabaikan. Apakah hanya untuk memenuhi syahwat kekuasaan ? Wallahualam. Tapi ini realitas yang muncul.
Ada dua negara besar di Asia (lebih besar dari Indonesia) yaitu RRC dan India. India mengadopsi demokrasi barat yang sudah lama dikenalkan oleh penjajahnya Inggris. Sementara kita dijajah Belanda yang sampai mereka ditaklukan Jepang-pun belum pernah membentuk parlemen. Belanda hanya membentuk semacam Dewan Rakyat (Voklsraad) kepanjangan tangan pemerintah penjajah. India suku bangsanya tidak banyak – bahasanyapun hanya beberapa. Namun kristalisasi sudah terjadi dimana parena agama mereka memecah diri dengan membentuk Pakistan. Sementara tuntutan keadilan dan pemerataan secara geografis, Pakistan memecah diri dengan Banglades. Namun ditiga negara itu demokrasinya mengikuti cara Inggris, di mana ada yang memerintah dan ada oposisi – memerintah saling bergantian. Juga adanya kesepakatan-kesepakatan tertulis dan tidak tertulis yang sudah lama dipraktikan. Kita tahu proses demokrasi-nya berdarah-darah.
Sehingga kita bisa saksikan bahwa cara-cara itulah yang terjadi selma ini di India, Pakistan dan Banglades.
RRC sebelumnya diawal abad 20 – Dr.Sun Yat Sen menjatuhkan kekaisaran China yang sudah terbentuk ribuan tahun. Ia mengenalkan San Min Chu-i , tiga dasar negara yaitu Nasionalisme, Sosialisme dan Demokrasi. Republiknya Sun Yat Sen berjalan terus dimana ia menghadapi tekanan barat dan Jepang yang tengah naik daun hingga sempat menjajah China. Perang Dunia II dapat melepaskan China dari Jepang. Namun pertentangan di dalam negeri menjadikan China terpecah – nasionalis dan komunis. Dalam perang saudara itu komunis menang dan nasionalis tersingkir ke Formusa. China komunis awalnya dijalankan menurut cara Stalin oleh Mao Tse Tung yang berakhir dengan kegagalan dan kemelaratan. Penerus Mao seperti Deng Shiao Ping memadukan cara barat untuk ekonominya dan cara sosialis dalam pemerintahannya – berhasil memakmurkan China dalam bilangan 20-30 tahun saja. Saat ini China menjadi negara terkaya didunia menggeser Amerika Serikat. Pertanyaannya adalah mengapa mereka tidak mau menggunakan demokrasi barat ?
Yang paling mudah untuk bisa mengerti hal itu adalah dengan membaca buku karya William Blum – America’s Deadliest Export Democracy. (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia – Demokrasi Ekspor Amerika Paling Mematikan).
Negara yang belum makmur ketika ia menggunakan demokrasi barat sebenarnya sulit untuk mengontrol demokrasi untuk kepentingan bangsa dan rakyatnya sendiri. Sementara itu mementingkan kepentingan nasional suatu bangsa akan dipandang oleh negara barat sebagai keinginan utk berkuasa selama lamanya – bertindak otoriter sehingga perlu dijatuhkan. Apalagi ketika pemerintahan itu menghalangi masuknya kekuatan korporasi asing untuk mengelola dan menguras sumber daya alam negara tersebut. Keinginan suatu negara untuk sekuat kuatnya berdiri sendiri serta memproteksi rakyatnya untuk maju berkembang pasti akan dihalangi oleh negara-negara besar yang bermodal kuat – karena memperkecil kemungkinan berkembangnya negara besar memperluas pasar serta pengaruhnya. Jadi negara besar yang mengontrol negara lain yang memiliki sumber alam besar pasti akan diupayakan dengan berbagai dalih. Mulai dari HAM sampai lingkungan hidup dan lain sebagainya.
Karena itu saya kira mencari suatu sistem demokrasi yang cocok untuk Indonesia dan mempraktikkannya secara baik adalah suatu keharusan yang tak bisa ditunda lagi. Sebelum kita terlambat tentunya.
Menyukai ini:
Suka Memuat...