JAKARTA – Nasi menjadi makanan pokok di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, dan hampir selalu hadir dalam setiap waktu makan. Sebagai sumber karbohidrat utama, nasi berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi harian tubuh.
Sebagian besar orang terbiasa mengonsumsi nasi selagi hangat karena rasanya lebih pulen dan menggugah selera. Namun, di balik kebiasaan tersebut, muncul perdebatan mengenai mana yang lebih baik bagi kesehatan antara nasi hangat dan nasi dingin.
Melansir Times of India yang dikutip Beautynesia, perbedaan suhu nasi ternyata memengaruhi cara tubuh mencerna karbohidrat. Dampaknya pun berkaitan erat dengan gula darah, berat badan, dan kesehatan pencernaan.
Nasi hangat dikenal lebih mudah dicerna oleh tubuh. Saat dikonsumsi, nasi hangat dapat memberikan energi dengan cepat karena karbohidratnya langsung dipecah menjadi glukosa.
Namun, kemudahan cerna ini juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Nasi hangat cenderung menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih cepat dibandingkan nasi dingin.
Kondisi tersebut membuat nasi hangat kurang ideal bagi penderita diabetes atau resistensi insulin. Selain itu, nasi hangat juga kurang direkomendasikan bagi mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan.
Meski demikian, nasi hangat tetap memiliki keunggulan tersendiri. Bagi orang dengan aktivitas fisik tinggi, nasi hangat dapat menjadi sumber energi instan yang dibutuhkan tubuh.
Berbeda dengan nasi hangat, nasi dingin atau nasi yang sudah didiamkan beberapa jam mengalami perubahan struktur karbohidrat. Proses pendinginan ini mengubah sebagian pati menjadi pati resisten.
Pati resisten dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah. Efek ini membuat nasi dingin dianggap lebih ramah bagi penderita diabetes.
Selain itu, pati resisten berfungsi mirip seperti serat. Konsumsi nasi dingin dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu mengontrol nafsu makan.
Manfaat lain dari pati resisten adalah mendukung kesehatan usus. Pati ini difermentasi oleh bakteri baik dan menghasilkan asam lemak yang bermanfaat bagi sistem pencernaan.
Tidak hanya itu, pati resisten juga dikaitkan dengan peningkatan daya tahan tubuh. Proses fermentasi di usus membantu menjaga keseimbangan mikrobiota yang berperan dalam sistem imun.
Meski terdengar lebih sehat, nasi dingin juga memiliki risiko jika tidak ditangani dengan benar. Nasi yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruangan bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Bakteri tersebut dapat memicu gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, hingga kram perut. Risiko ini meningkat jika nasi tidak disimpan dengan baik setelah dimasak.
Oleh karena itu, nasi dingin sebaiknya segera disimpan di lemari pendingin. Saat akan dikonsumsi kembali, nasi perlu dipanaskan dengan benar hingga benar-benar panas.
Secara umum, baik nasi hangat maupun nasi dingin sama-sama aman dikonsumsi. Pilihan terbaik sangat bergantung pada kondisi kesehatan dan tujuan masing-masing individu.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...