Perayaan Hari Santri Nasional 22 Oktober saat ini sudah memasuki tahun ke empat. Semarak kegiatan untuk menyambut HSN digelar dari tingkat nasional hingga ke pesantren-pesantren di daerah. Hal itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, karena telah mampu mempertahankan kemerdekaan yang telah dianugerahkan untuk Indonesia, dimana santri punya peran penting dalam menggerakkan arek-arek Surabaya, sehingga lahirlah Hari Pahlawan 10 Nopember.
Selama perjalanan pergolakan kemerdekaan bangsa ini, apa tantangan yang harus dihadapi oleh para santri milenial?. Yakni santri yang tumbuh dan berkembang pada masa informasi digital. Jika di zaman pergerakan, para santri berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka sudah menjadi tanggung jawab santri pula untuk memajukan bangsa dan negara.
Sementara tantangan terbesar santri, selain harus mampu membumi bersama rakyat, ia juga harus melek teknologi terutama media digital online. Dimana ujaran kebencian dan berita hoaks menjadi hal yang meresahkan serta menjadi pemicu disintegrasi bangsa.
Jika Ketua Umum PBNU KH. Said Aqiel Siradj melalui NU Online mengatakan bahwa dalam memperingati Hari Santri, ada beberapa tugas atau jihad yang kini menjadi menjadi persoalan krusial yang harus diselesaikan.
Pertama, jihad melawan segala bentuk anarkisme, radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Kedua, jihad memerangi kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. Ketiga, jihad melawan narkoba, dan bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai negara yang bersih dari peredaran narkoba.
Menurut penulis selain ketiga jihad yang dijelaskan Kiai Said, menyebarkan berita baik dan melawan hoaks serta ujaran kebencian juga merupakan bagian dari jihad santri. Karena dengan menjaga Indonesia dari perpecahan juga adalah pengejewantahan dari sikap “Hubbul Wathan Minal Iman.”
Jadi mengendalikan jari-jari tangan ketika menggunakan media sosial hari ini, sama pentingnya dengan mengangkat senjata pada masa penjajahan. Jika dahulu musuh kita adalah bangsa penjajah dari negara lain, maka saat ini musuh kita adalah hoaks dan ujaran kebencian yang banyak bertebaran di media sosial dan online.
Selain melakukan perlawanan, bagi santri yang memiliki kemampuan menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan, maka sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya untuk menulis serta menyebarkan tulisan kepada khalayak yang lebih luas.
Terutama sekali menjelaskan kembali hal-hal yang dianggap sebagai hoaks, atau informasi yang tidak benar tentang sesuatu hal. Apabila kita mempunyai informasi pembanding yang meluruskan atau membantah wacana yang berkembang, maka wajib bagi kita untuk menyampaikan hal itu.
Sedangkan jika bagi yang kurang memahami, maka mencari tahu informasi lain, atau tabayyun, cek dan kroscek kepada orang yang dianggap tahu atau lebih mengetahui tentang wacana tertentu. Kalau sudah mendapatkan informasi itu, wajib pula membagikannya kepada yang lain. Agar hal buruk tentang persepsi yang salah bisa dihindari. Dan kebenaran akhirnya yang akan bicara.
Kata santri sendiri sebagaimana menurut Cendekiawan Muslim Nurcholis Madjid, yakni berasal dari “Cantrik” (Bahasa Sansakerta atau Jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedangkan versi lainnya menganggap kata santri sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong). Sehingga santri diharapkan mampu menjadi manusia baik yang suka menolong.
Dalam kondisi sosial dan politik tahun-tahun ini, peran santri menjadi sangat penting untuk mencegah perpecahan menjadi lebih luas, dari pertarungan antar Calon Presiden atau Partai Politik. Agar kompetisi dan proses demokrasi berjalan sehat, sesuai dengan aturan main yang berlaku.
Sehingga tantangan santri milenial, sebagai manusia baik yang suka menolong, memindahkan medan jalan kebaikan. Dari zaman dulu di arena perang dengan senjata fisik, maka sekarang berpindah ke media online dan digital. Jadi, wahai santri mari kita berjihad melawan hoaks serta ujaran kebencian, dan atau memilih menyebarkan kebaikan melalui tulisan.
Penulis Adalah Aktivis Perempuan, Penggila Baca, Penyuka Sastra dan Hobi Menulis. Tinggal di Indramayu
Menyukai ini:
Suka Memuat...