Basiri Hasilkan Omset Belasan Juta per Bulan dari Budidaya Lele dan Padi Hidroganik
Penulis: Serikat News
Rabu, 6 Januari 2021 - 00:11 WIB
Basiri saat menunjukkan budidaya magot yang digunakan untuk makan lele. (Foto: Imron/Serikat News).
SERIKATNEWS.COM – Pandemi Covid-19 mengakibatkan ekonomi masyarakat banyak yang lesu. Namun, tidak bagi Basiri. Warga Desa Kanigoro, Pagelaran, Malang, itu punya inovasi kreatif untuk bertahan di tengah pandemi, yakni dengan budidaya tanaman padi hidroganik.
Padi hidroganik yang dibudidayakan oleh Basiri ini sama dengan padi pada umumnya. Yang membedakan hanya terletak pada konsep pengembangannya. Basiri tidak menggunakan pupuk kimia dalam menanam padinya itu, tetapi menggunakan pupuk organik.
Bahkan, di bawah tanamannya ia juga membudidayakan lele. Padi yang ditanam Basiri mayoritas bukan di lahan tanah. Dia menanam padi di pot dengan botol plastik lalu diletakkan di atas instalasi paralon.
“Airnya kita alirkan melalui paralon yang dipompa dari kolam lele, sehingga satu kolam juga bisa menghidupi padi sekaligus lele,” ujar Basiri.
Padi yang ditanam di pot dengan botol plastik lalu diletakkan di atas instalasi paralon. (Foto: Imron/Serikat News)
Ada 15 unit instalasi paralon sekaligus kolam lele yang dimiliki bapak dari 3 anak itu. Sedangkan jumlah lele yang berada di masing-masing kolam tersebut mencapai kurang lebih 20 ribu ekor.
“Kalau padi ini panennya 3-4 bulan. Kalau lelenya sekitar 2 minggu sekali sudah panen,” tuturnya. Dalam setiap panen padi, Basiri bisa mendapat 400 kilogram beras.
“Harganya per kilogram rata-rata saya jual mencapai Rp 20ribu. Jadi kalau 400 kilogram, rata-rata omset yang kami dapatkan mencapai Rp8 juta,” ujarnya.
Sedangkan lelenya dalam sekali panen, Basiri mampu menjual sebanyak 1 ton per bulan. “Kalau ditotal dengan harga lele sekarang senilai Rp16 ribu, berarti omset yang didapatkan senilai Rp16 juta per bulan,” tuturnya.
Sementara itu, risiko yang kemungkinan terjadi dalam dua unit budidaya itu cukup minim. Sebab, untuk risiko tanaman padi yang dikhawatirkan hanya gagal panen akibat cuaca. Sedangkan untuk lele risikonya hanya ada di penyakit.
“Kalau risiko padi kami tidak bisa mengelak karena tergantung cuaca. Tapi itu jarang. Kalau lele bisa diatasi asal kita rajin memperhatikan ikan lele kita jika mengalami sakit. Maka segera diobati,” ujarnya.
Cara pengobatannya pun, menurut pria dari 6 saudara itu cukup mudah, yakni tinggal memberi obat antibiotik selama 2 hari. “Biasanya sudah sembuh,” singkatnya.
Berdasarkan pengalaman budidaya yang dilakukan itu, Basiri membagikan tips untuk masyarakat yang juga ingin mengembangkan. “Tinggal kemauan. Siapkan instalasi paralon untuk tempat padi, lalu di aliri air dari kolam lele menggunakan pompa aquarium. Kolamnya pun tidak perlu mengganti air setiap hari. Sebab kotoran yang ada di air akan hilang dan tersaring dengan sendirinya ketika dialirkan ke padi,” tukas Basiri. (Imron)
DI SEBUAH kota kecil di Cirebon, perjalanan intelektual seorang santri dimulai dari rutinitas pesantren yang sederhana: menghafal kitab, belajar falak,
PROBOLINGGO – Kamal, mantan narapidana kasus terorisme asal Probolinggo, berbagi pesan Ramadan yang menarik perhatian. Ia menegaskan pentingnya menahan diri,
BANDUNG – Perjalanan bisnis Sinta Trisnawati membuktikan bahwa kegigihan dan inovasi dapat mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Bermula dari usaha jasa
PAMEKASAN – Media sosial Pamekasan belakangan diramaikan dengan candaan seputar kemiripan nama antara Wakil Bupati Pamekasan terpilih, H. Sukriyanto, dengan