Connect with us

Ekonomi-Politik

Blusukan di Keramaian Warga, Gibran Dikira Jokowi

Published

on

Foto: Gibran Sarasehan Bersama Warga Kerten Laweyan, Surakarta. Menyerap masukan dan permasalahan. (Dok, SerikatNews)

SERIKATNEWS.COM- Bakal Calon Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka kembali blusukan ke tengah-tengah keramaian warga. Kali ini putra sulung presiden presiden Jokowi itu menyambangi Kampung Penjalan, tepatnya di RW 4 Gandekan, Surakarta.

Seperti biasanya, Gibran menyampaikan gagasannya perihal pembangunan Kota Solo kedepan sebelum ia melanjutkan mendengar aspirasi-aspirasi masyarakat yang hadir dalam keramaian tersebut.

“Lah suarane koyo bapak-e yo (suaranya seperti Jokowi ya),” ujar salah satu warga yang ikut hadir dalam acara tersebut, Minggu (19/01/2020).

Selanjutnya, Gibran memberi kesempatan kepada warga agar menyampaikan masalah yang sedang dihadapi. Kesempatan itu diberikan kepada Ibu Sukarno yang ketakutan karena rumahnya terancam digusur akibat program normalisasi Kali Pepe.

“Saya tinggal di area Kali Pepe, sekarang sudah normalisasi sungai, kabarnya akan dilebarkan sampai 3 meter dari sungai untuk keperluan wisata, otomatis kami warga kena gusur, nanti gimana?,” Ujar Sukarno.

Mendengar keluhan itu, Gibran semakin serius dan bertanya langkah yang dilakukan pemerintah Kota Solo, terutama terkait sosialisasi sebelum rumah-rumah itu dieksekusi.

“Sudah ada sosialisasi, ada 12 KK, tapi jumlah ganti ruginya belum tahu berapa, katanya dihargai 100 ribu/meter,” lanjut Sukarno.

Gibran pun berjanji menindak lanjuti perihal ini ke pihak terkait. Gibran tidak ingin ada satupun warga Solo yang dirugikan dengan program pemerintah Kota Solo.

“Saya cek dulu ya Bu, Pak, Programnya itu masih berjalan apa tidak, dan jika masih akan saya check proses ganti ruginya seperti apa,” jawab Gibran.

Tidak hanya itu, kesempatan selanjutnya diambil oleh salah satu warga yang memiliki anak difabel yang meminta kaum disabilitas lebih diperhatikan lagi.

“Saya punya anak difabel, tunarungu, sudah pakai BPJS, tapi bagi saya alat bantu dengar itu masih mahal karena harganya 22 juta. Tolong Pak Gibran, apabila ada dana dari pemerintah apabila nanti Jadi Pak Wali untuk men-support kaum difabel, kami pun butuh tim advokasi untuk komunitas kami, dari pemerintah juga tidak ada pendataan bagi komunitas kami,” ujar Ari Budiono.

Baca Juga:  Menkeu Tanggapi Positif Keputusan Bank Sentral AS

Mendengar masalah tersebut, Gibran langsung menghampiri anak Ari Budiono yang masih balita dan mengajak berbicara lebih dekat dengan kedua orangtuanya. Gibran juga mencatat di buku kecil semua masalah yang disampaikan para warga tersebut.

Advertisement

Popular