Nasionalisme Benteng Generasi Muda dari Paham Radikal
Penulis: Serikat News
Selasa, 8 Februari 2022 - 10:13 WIB
Ilustrasi nasionalisme benteng generasi muda dari radikalisme. (Foto: Net)
SERIKATNEWS.COM – Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa harus dibentengi dari paham-paham yang ingin merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seperti intoleransi, radikalisme dan terorisme. Generasi muda harus dibentengi dengan nasionalisme dan kejayaan bangsa.
“Generasi muda harus tahu bagaimana pejuang meraih kemerdekaan, juga kiprah Wali Songo yang menyebarkan agama Islam dengan penuh toleransi tanpa harus menyakiti agama lain. Juga bagaimana dulu kerajaan-kerajaan besar lewat peninggalan-peninggalannya yang luar biasa,” ujar Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Habib Luthfi bin Yahya, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa, 08 Februari 2022.
Habib Luthfi mengaku telah mempelajari makna kebinekaan dan toleransi di Indonesia. Dari situ ia mengaku kagum dengan para pendahulu bangsa yang mampu menyatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam bingkai NKRI.
Ia pun berkesimpulan bahwa setelah membolak-balik sejarah, bangsa Indonesia ternyata bukan keturunan bangsa penjajah, tetapi bangsa yang rasional, intelektual. Ini menjadi tantangan bersama agar NKRI tetap jaya di tengah gangguan berbagai paham-paham transnasional.
“Yang jadi pertanyaan, apakah generasi penerus ini sudah dipersiapkan untuk menjawab tantangan tersebut,” tanya Habib Luthfi.
Habib Luthfi saat menjadi narasumber Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan BNPT dengan Forkopimda, Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Agama Dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme Provinsi Banten, di Pondok Pesantren Nurul Falah, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Senin (7/2). (Foto: Antara)
Dalam hal ini, Habib Luthfi mendukung upaya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam melindungi generasi muda dari paham radikal terorisme. Menurutnya, kegiatan Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan ini sangat bagus untuk menggugah pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk bersatu memerangi paham kekerasan tersebut, sekaligus memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya nasionalisme.
“Generasi muda harus mencontoh bagaimana dulu Kerajaan Majapahit mampu menyatukan Indonesia. Saat itu Raja Hayam Wuruk atau Brawijaya dalam melakukan pendekatan terhadap umat Islam sampai memberikan tanah di Ampel. Pada waktu itu, Menteri Pertanian dan Menteri Ekonomi yang diangkat adalah Maulana Malik Ibrahim, sementara Menkeu Maulana Asmorodono,” kata Habib Luthfi. (*)
JAKARTA – Advokat Moh. Ali Murtadho kembali menunjukkan perannya dalam pendampingan perkara hukum nasional dengan mendampingi Wakil Gubernur Bangka Belitung,
PROBOLINGGO – Pembangunan Hotel Azana Style Probolinggo resmi dimulai melalui prosesi groundbreaking atau peletakan batu pertama di Kecamatan Kraksaan Kabupaten
YOGYAKARTA – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk mendukung terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang bersih dari handphone ilegal,
YOGYAKARTA — PT Taru Martani kembali menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan pekerja dan nilai kemanusiaan. Direktur Utama PT Taru Martani, Widayat
JAKARTA – Sengketa internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali mengemuka setelah kuasa hukum penggugat mempertanyakan keabsahan Muswil IX Jawa Barat.
JAKARTA — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menandatangani Nota Kesepahaman Bersama dengan Wadhwani Foundation dan PT Indosat Tbk untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan