Connect with us

Opini

Persiapan Menuju Babak Akhir Koalisi Incumbent Vs Koalisi Oposisi

Published

on

ilustrasi (Net)

Koalisi Incumbent (KI) terdiri dari 6 + 3 parpol setelah pertemuan ketua umum berlanjut dengan sekretaris jenderal. Ketika elit tertinggi menyatukan diri agar tak ada dusta diantaranya, elit operasional berkumpul untuk menyatukan gerak sebagai Tim Pemenangan.

Bagaimana dengan nama wapres yang tak kunjung juga diumumkan ? Ini bagian dari strategi. Maksudnya jelas agar 6 + 3 parpol diatas tak terkontaminasi. Maklum saja pihak lawan memiliki banyak jurus maut, iming-iming yang memabukkan yang dapat membubarkan KI.

Baca Juga: Presiden Ingin Zikir dan Doa Jelang Peringatan Kemerdekaan Jadi Tradisi

Namun tampaknya kesepakatannya adalah calon wakil presiden bukan dari parpol, bisa melengkapi Jokowi, tanggap dalam meladeni isu-isu agama dan berpengalaman dipemerintahan. Kalau persyaratan berhenti sampai disini maka dua tokoh memenuhi syarat Mahfud MD dan TGB.

Bila ada penekanan tambahan syarat berusia muda – agar dapat menarik bagi pemilih muda yang berkisar antara 38% dari total pemilih maka tinggal TGB yang memenuhi syarat.Bila tambahan penekanan syaratnya intelektual maka Mahfud MD lebih terpilih. Karena ke depan menghadapi perkembangan dunia syarat pemimpin yang intelek mengemuka.

Disamping itu tim dari Jokowi di pemerintahan sebenarnya sudah cukup solid. Menteri luar negeri, menteri dalam negeri, menteri pertahanan termasuk menko polhukam sudah padu. Mungkin menteri hukum dan HAM yang harus dicari tokoh yang tepat.

Di bidang perekonomian setelah menerima masukan dari mereka yang ada di luar pemerintahan, perlu memasukan darah baru yang mumpuni, memperkuat yang telah ada. Selainnya adalah kementerian teknis yang menteri-menterinya bisa diambil dari kader partai terbaik.

Bagaimana Koalisi Oposisi (KO)

Koalisi Oposisi (KO) – akhirnya memang dapat mematri 4 parpol utama Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS serta diluar itu PBB, Berkarya dan Garuda. Calon presiden Prabowo tampaknya tidak goyah bahkan semakin kuat ketika SBY mentahbiskannya sebagai calon presiden yang didukung oleh Demokrat. Prabowo dan SBY secara sendiri-sendiri melakukan pertemuan dengan PAN dan PKS maupun PA 212.

Baca Juga:  Pro dan Kontra Bercadar

Sementara itu sebagian ulama mengusulkan dua tokohnya menjadi calon wakil presiden Prabowo yaitu Habib Salim Segaf Al Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS). Jadi paling kurang ada 3 calon kuat pendamping Prabowo, AHY, Salim Segaf dan UAS.

Bila diajukan Prabowo – AHY memang akan memperkuat gabungan Gerindra dan Demokrat yang bilamana masa y.a.d ada penyederhanaan partai dapat bergabung menjadi satu partai besar. Namun pasangan ini tentu sulit diterima PAN dan PKS. Dari body language nya PKS jelas ingin Salim Segaf sementara PAN mendukung UAS. Demokrat diharapkan bisa legowo dan mengalah hingga pilihan antara Salim Segaf dan UAS yang akan dihitung oleh Tim KO. Salim Segaf lebih intelektual dan menguasai birokrasi ketimbang UAS. Namun UAS jauh lebih populer. Sementara itu pertarungan itu untuk merebut pemilih yang rerata pendidikannya kelas 7-8 sehingga pilihan Tim KO untuk mengusung Prabowo-UAS lebih masuk akal dan probabilita kemenangannya lebih besar. Kalau ini yang dipilih oleh Tim KO, apa boleh buat sejatinya memang populisme mengalahkan akal sehat demokrasi. Apa boleh buat pula Gatot Nurmantyo maupun Anies Baswedan tersingkir sebagai pendamping Prabowo. Apalagi sebagai calon presiden KO.

Bila KO memenangi pertarungan maka membentuk pemerintahan tidak sulit karena terlalu banyak orang pandai yang ada di luar pemerintahan KI saat ini. Untuk perekonomian KO dapat merekrut Rizal Ramli. Demikian pula untuk porto folio lainnya disamping kader terbaik dari ke-4 partai serta partai pendukung lainnya, para elit disekitar Tim KO pasti sudah menyiapkan diri.

BABAK AKHIR JOKOWI – TGB VS PRABOWO- UAS

Seandainya skenario ini yang terjadi maka akan menjadi pertarungan yang seimbang. Tim KI 9 plus 3 parpol kendati bersatu padu harus bekerja keras untuk memperkuat basis di akar rumput agar tidak goyah tergerus oleh ajakan-ajakan Tim KO. Jurus-jurus dalil-dalil agama yang dikemukakan UAS tentu akan dimentahkan oleh TGB. UAS akan bekerja all out – berkeliling Indonesia di mana telah tersedia pesawat khusus. UAS pengajiannya dipenuhi oleh warga umat Islam jadi lebih mudah baginya dalam memobilisasi massa.

Baca Juga:  Setelah Endgame Yang Dilakukan Oleh Avengers Yang Tersisa Ini Patut Kita Jadikan Pelajaran

Lalu jurus apa yang akan dipakai KI? KI harus mengajarkan rakyat berpikir tenang. Indonesia telah menjadi negara yang PDB nya diatas USD 1 Trilyun. Termasuk 20 negara besar di dunia. Jadi rakyat harus mengetahui kemajuan yang telah dilakukan KI seperti dibidang kesehatan, pendidikan, pertanian, kesejahteraan maupun infrastruktur. Bantuan desa yang tiap tahun semakin besar agar menjadikan desa-desa dapat mandiri bahkan BUMDes dapat dikembangkan menjadi profit sektor yang mensejahterakan rakyat di desa.

Memang belum semuanya terlihat tapi arahnya sudah jelas. Korupsi yang besar-besar sudah teratasi. Justru itulah OTT KPK tinggal yang recehan saja. Jadi rakyat harus diyakinkan kemajuan pasti lebih cepat ketika Jokowi memerintah untuk jabatan kedua. Karena kebocoran semakin kecil maka dana besar untuk kemaslahatan rakyat pasti dinikmati semua pihak. Tim pemenangan KI semua kader parpol 9 + 3 harus bekerja cepat, cermat dan sistematis. Serta harus tahan banting dan tak kenal takut karena di daerah mereka akan berhadapan dengan kader-kader KO yang militan dan keras. Dimana pengalamanan di pilkada DKI 2017 cenderung melakukan teror. Teror akan berhasil bila lawannya lemah. Kalau pihak yang diteror itu kuat maka teror apapun akan gagal.

Masalah Indonesia Di Depan Mata

Siapapun presiden yang terpilih akan menghadapi masalah yang ada didepan mata. Perang dagang Cina dengan USA pasti berdampak pada ekonomi kita. Bagaimana mengantisipasinya apalagi kalau perang dagang berkepanjangan. Apa dampak negatifnya seraya kita melihat peluang yang mungkin kita kerjakan.

Pertama penyediaan pangan dan energi harus disiapkan. Upayakan pangan tidak import atau import sekecil mungkin. Pengadaan makanan pokok (sembilan bahan pokok) keharusan disiapkan kecukupannya dan harganya serendah mungkin. Keuntungan pedagangnya diatur secara wajar.

Baca Juga:  Demokrasi Konstitusional vs Khilafah Tanpa Bentuk

Energi masalah besar karena harga listrik semakin naik. Bagaimana memproduksi listrik murah agar terjangkau rakyat namun PLN mendapatkan untung. PLN sendiri harus efisien dan menghentikan KKN nya.

Harga BBM diperkirakan akan naik karena harga minyak mentah akhir tahun diprediksi akan diatas 100 USD (sekitar USD 120) per barel. Apakah Pertamina akan merugi ? Berapa harga BBM dan gas yang dipatok untuk rakyat. Berapa subsidi yang harus dikucurkan.

Yang utama adalah bagaimana mengupayakan pemasukan dana untuk pemerintah baik dari pajak maupun non pajak. Bagaimana RAPBN kita tak boleh defisit terlalu besar.

Bagaimana mengupayakan investor asing mau masuk menanamkan modalnya di Indonesia di bidang manufaktur dan bidang-bidang lain. Juga investor lokal memasukan dananya yang parkir di luar negeri, tetap harus diupayakan.

Bila KO yang menang ia harus menyelesaikan proyek-proyek pada pemerintahan Jokowi yang belum selesai karena tak boleh dibiarkan mangkrak. Ini akan merugikan.

Kalau KI menang tentu harus menyelesaikan disamping membuat skala prioritas untuk proyek-proyek seterusnya. Bagaimana pendanaannya, apakah dengan terus menerus berhutang? Berapa besar hutang – bunganya dan rencana pengembaliannya – harus juga jelas.

Kritik yang kritis terhadap pemerintahan saat ini harus dihadapi dan disikapi. Karena merupakan juga tuntutan rakyat banyak – bukan hanya KO saja.

Baiklah kita semua menunggu tanggal 10 Agustus – jam 10 malam WIB – ketika KI dan KO – memasukkan nama pasangannya masing-masing.

Advertisement

Popular