Connect with us

Opini

Post-Islamisme dan Dekonstruksi Agama

Published

on

Beberapa saat yang lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai oposisi murni pemerintah yang berkongsi dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Gerindra, mengeluarkan sebuah pernyataan kontroversial mengenai status Sandiaga Sholahudin Uno sebagai calon wakil presiden (Cawapres) pendamping calon presiden (Capres) Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut terekam dalam situs DetikNews 13 Agustus 2018, bertajuk ” PKS Jelaskan Definisi Santri Post Islamisme Sandiaga Uno”. [Sumber: https://news.detik.com/berita/4163864/pks-jelaskan-definisi-santri-post-islamisme-sandiaga-uno]

Perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa sufiks “isme” berasal dari kata Yunani “ismos” yang berarti paham, atau ajaran/kepercayaan. Sufiks ini dipergunakan dalam pelbagai jalur pengetahuan, yang didalamnya melibatkan proses berpikir manusia dan persebaran paham, hingga proses mempertanyakan dan mengubah bentuk yang sudah ada. Yang disebut belakangan sering dikenal sebagai proses dekonstruksi.

Mengemukakan sebuah paham, atau mendekonstruksinya, tentu harus berdasar pada tahap-tahap berpikir yang panjang, dan bukan dengan serta merta mengklaim sesuatu sebagai sebuah keyakinan dan lantas menyatakannya sebagai hal yang bertentangan dengan aturan baku di dalam masyarakat. Akhir-akhir ini, dengan pengetahuan yang sangat terbatas, beberapa kelompok masyarakat di Indonesia malah terjebak dalam istilah-istilah “isme” yang saling bertentangan tetapi malah dikatakan sama. Mereka menyebutkan “Komunisme = Liberalisme”; sebuah ketidaktahuan absurd yang dipertontonkan secara publik dalam sebuah demonstrasi umat beragama.

“Post-isme” dalam sejarah perkembangannya, merupakan suatu paham yang muncul sesudah (post/pasca) isme yang muncul sebelumnya. Dalam kajiannya, “post-isme” muncul sebagai bentuk penentangan terhadap paham yang sudah ada. Sebagai contoh, heliosentrisme adalah paham tentang perputaran bumi dan benda langit lainnya mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya. Paham heliosentris ini merupakan “post-isme” dari geosentrisme yang dinyatakan oleh Ptolemy, seorang astronom asal Yunani. Jadi, ketika sebuah “post-isme” muncul sejatinya ia didahului oleh -isme yang akan ditentangnya. “Post-isme” berasal dari proses berpikir kritis, mempertanyakan paham temuan manusia dengan berbagai fakta dan data baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman.

Baca Juga:  Doel dan Suara Gamang Perempuan

Ketika dari sebuah partai Islam muncul istilah “post-islamisme” ada sebuah pertanyaan menarik; apakah Islam adalah sebuah -isme yang bisa dipertentangkan oleh manusia, menurut khazanah pengetahuan partai tersebut? Walaupun dalam artikel yang memuat definisi post-islamisme ala PKS disebutkan apa itu “post-islamisme”, saya kembali bertanya, apakah sebuah paham dan keyakinan hanya terbatas pada gaya berpakaian? Dan apakah parameter penilaian kebaikan yang dianut oleh PKS untuk memastikan bahwa Sandiaga Uno, yang meski pernah bersekolah di sekolah Katolik, ia memiliki moralitas seorang santri?

Kita tidak perlu membahas tentang wujud pribadi seorang Sandiaga Uno, tetapi mari pertanyakan bagaimana moralitas seorang calon wakil presiden yang ditengarai memiliki hubungan “bisnis” dengan beberapa kampus universitas di Indonesia. Lihatlah bagaimana seorang Ketua Senat Mahasiswa Universitas Islam Riau berani membakar simbol jenazah Presiden RI, sedangkan Presiden RI tersebut belum meninggal dunia dan tidak sepantasnya diperlakukan hina sebagai representasi ujung tombak NKRI. Ketua Senat bernama Hengki Primana itu ternyata telah melakukan pertemuan dengan Sandiaga Uno 6 hari sebelum demo barbar hiperbolis pada 10 September 2018 lalu.

Pun ia berkelit bahwa demo yang dilakukannya tidak bersifat politis, namun menemui seorang calon wakil presiden lalu selanjutnya melakukan demonstrasi bermuatan tuntutan pada Presiden dengan mengabaikan fakta pencapaian yang ada, maka siapapun dapat menyimpulkan bahwa demonstrasi ini jelas bermuatan politis. Itulah salah satu bentuk moralitas yang ditunjukkan oleh Sandiaga Uno sebagai santri “post-islamisme”. Alih-alih merunutkan visi misi untuk kelanjutan pembangunan di Indonesia, ia berkunjung ke kampus-kampus, dan setelahnya kampus tersebut bergerak untuk berdemonstrasi mengganggu jalannya pembangunan.

Post-islamisme yang diusung oleh PKS melalui penunjukkan Sandiaga Uno sebagai representasi “santri” ala mereka, menunjukkan bentuk dekonstruksi terhadap nilai-nilai keislaman. Apa yang disebut PKS bahwa “post-islamisme” Sandi lebih bersifat substantif dan bukan superfisial, sekali lagi menunjukkan bagaimana kelihaian PKS mengolah data yang bertolak belakang menjadi fakta yang terpercaya. Atau paling tidak menurut orang-orang yang masih enggan menggunakan akalnya. Tentulah kita masih ingat bagaimana tim Prabowo Subianto terlanjur bersujud syukur atas data kemenangan yang disampaikan PKS, yang menurut mereka telah didukung oleh bukti sebanyak 10 kontainer, namun tak ada jejaknya hingga hampir 5 tahun masa kepemimpinan kelompok lawan, yaitu Presiden kita Joko WIdodo.

Baca Juga:  Fungsi dan Ancaman Generasi Milenial

Islam bukanlah pergerakan, atau paham ciptaan manusia yang dapat disesuaikan dengan kepentingan politik. Ustadz dan ulama dalam Islam adalah orang-orang yang telah melalui pendidikan keislaman yang shahih, dengan penggunaan akal dan perwujudan tutur kata yang sejalan dengan perbuatan kebaikan. Mereka tidak latah menggunakan jubah dan sorban untuk ikut dalam huru-hara politik, tetapi hadir saat dibutuhkan dalam berbagai pertimbangan untuk kebaikan negara. Mereka adalah santri-santri yang tak pernah selesai mempelajari kaji Ilahi tentang semua hal dalam kehidupan, termasuk tentang bagaimana menjaga dan membela keutuhan tanah air, meskipun hidup dalam perbedaan.

Advertisement

Terkini

News3 jam ago

99 Pegawai Pinjol Ilegal Diamankan Polda Metro Jaya

SERIKATNEWS.COM – Polda Metro Jaya mengamankan 99 pegawai pinjaman online. Mereka diamankan setelah Polda Metro Jaya menggerebek kantor Pinjol ilegal...

News3 jam ago

Dukung Energi Hijau, PLN Siap Serap Listrik dari PLTSa Terbesar di Jawa Tengah

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) siap menyerap listrik sebesar 5 megawatt (MW) yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Surakarta...

News3 jam ago

Cara Mudah Reaktivasi Nomor Telkomsel Prabayar yang Sudah Hangus

SERIKATNEWS.COM – Kini layanan reaktivasi (mengaktifkan kembali) nomor Telkomsel Prabayar yang telah hangus dapat dilakukan pelanggan dari mana saja dan...

News9 jam ago

PBHI Sumut Kecam Kerangkeng di Kediaman Bupati Langkat

SERIKATNEWS.COM – Adanya temuan dugaan perbudakan modern berupa kerangkeng atau penjara manusia di kediaman Bupati Langkat non aktif Terbit Rencana...

News12 jam ago

Kepala BPIP Populerkan Salam Pancasila Ke TNI AD Papua Barat

SERIKATNEWS.COM – Untuk menguatkan semangat kebangsaan, Salam Pancasila perlu dibudayakan kembali di kalangan masyarakat Indonesia. Salam Pancasila diperkenalkan oleh Presiden...

Olahraga17 jam ago

Anthony Martial Gabung Sevilla Hingga Akhir Musim

SERIKATNEWS.COM – Manchester United meminjamkan Anthony Martial klub Spanyol, Sevilla. Anthony Martial gabung Sevilla dengan status pinjaman di sisa musim...

News18 jam ago

PB PMII Soroti Pembangunan Power Plant PLTPB 2 di Gunung Dieng

SERIKATNEWS.COM – Pembangunan PLTPB 2 di Gunung Dieng dinilai tidak sesuai dengan UU nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan...

Populer

%d blogger menyukai ini: