SERIKANEWS.COM – Universitas Islam Malang (Unisma) memperkenalkan program barunya, “Jumat Bersarung”. Program yang baru dimulai pada Jumat (29/8/2020) ini akan dilaksanakan secara bertahap dari unsur pimpinan, staf, dosen sampai mahasiswa.
“Sistem seragam baru ini (akan terus dilaksanakan) di setiap Jumat, jadi bukan Jumat (hari) ini saja,” ujar Rektor Unisma, Prof Masykuri seperti dikutip dari Republika, Jumat (29/8/2020).
“Jumat Bersarung” menunjukkan sisi unik dari Unisma dibandingkan kampus-kampus lainnya. Apalagi berdirinya Unisma berkat perjuangan para kyai dan cendekiawan yang banyak belajar dari pesantren. Sehingga tradisi sarung yang identik dengan pesantren memang layak dipertahankan dan tak boleh lenyap dari kehidupan.
“Walaupun kita sudah mengenal teknologi informasi, tapi hal-hal yang baik harus tetap kita pertahankan sembari juga mengambil hal-hal yang lebih baik lagi,” imbuh Masykuri.
Masykuri juga menegaskan bahwa kehadiran program “Jumat Bersarung” juga karena terinspirasi dari perguruan-perguruan tinggi besar di Timur Tengah, seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Umm Al-Qura dan kampus-kampus Islam lainnya.
Pada pelaksanaan program “Jumat Bersarung”, para civitas akademika diwajibkan mengenakan sarung dan kopiah (untuk laki-laki) setiap hari Jumat. Selain itu, mereka juga diminta memakai sepatu slop, baju koko dan jas (para staf dan dosen).
“Yang belum punya sepatu selop, paling tidak pakai sendal. Bukan sendal jepit tapi secara bertahap gunakan sepatu slop,” katanya.
Namun demikian, program Jumat Bersarung tidak lantas diwajibkan juga kepada mahasiswa non-Muslim. Mereka mendapatkan pilihan antara memakai pakaian yang sesuai aturan maupun sebaliknya. “Tidak ada paksaan maupun sanksi dari kampus untuk kalangan mahasiswa tersebut,” katanya.
Menurutnya, setiap dekan di setiap fakultas mendapatkan tanggung jawab untuk memantau pelaksanaan program yang baru ini. Jika terdapat civitas akademika yang tidak melaksanakannya, maka yang bersangkutan akan ditegur secara halus. “Tidak ada sanksi apa pun kecuali rasa malu akibat teguran yang diterima para civitas akademika,” tambah Masykuri.
Dengan adanya program yang satu ini, Masykuri berharap nuansa religius Unisma semakin kuat. Simbol-simbol seperti sarung dapat meneguhkan Unisma sebagai kampus Islam. “Artinya, tidak hanya dari kurikulumnya tapi unsur spirit keislaman yang tertanam di dalamnya,” pungkas Masykuri.
Menyukai ini:
Suka Memuat...