SERIKATNEWS.COM – Dalam rangka meninjau produksi sayur mayur dan peternakan yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat Bandung Utara, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan ke wilayah Bandung Utara, pada Rabu (14/10/2020).
Menurut Dedi, yang memprihatinkan dari kunjungan tersebut adalah jatuhnya harga sayuran.
“Harga komoditi pertanian jatuh total terutama komoditi holtikutura seperti cabai, tomat, kol, sawi, yang saya lihat antara biaya produksi dan penjualan malah jauh,” tutur Dedi saat dihubungi pada Kamis (15/10/2020).
Dedi mencontohkan harga jual sawi air yang hanya Rp500 per kilogram, sementara harga produksi mencapai Rp1.500 per kilogram.
“Jadi ruginya sangat tinggi. Harus ada intervensi, perhatian khusus kepada para petani,” ungkapnya.
Dedi menyampaikan bahwa selama ini perhatian pemerintah hanya berpihak kepada sektor industri saja.
“Selama ini yang dapat perhatian selalu sektor industri. Para petani harus mendapat perhatian khusus terutama yang bekerja sebagai buruh tani. Karena otomatis ketika harga jatuh, buruh tani kehilangan pekerjaan,” jelasnya
Dedi juga menilai bahwa pemerintah harus memperbaiki tata ruang di wilayah Bandung Utara yang dikepung oleh properti.
Imbas dari banyaknya properti di kawasan Bandung Utara adalah sektor peternakan. Padahal komoditi susu sapi menjadi salah satu ikon di daerah Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
“Di Bandung Barat, di Lembang, habitat pengembangan sapi perah mengalami penurunan. Sumber makanan ternak, areal rumput menyempit karena serbuan properti. Peternak terpaksa mengambil rumput di pinggir jalan atai lapangan yang tidak sesuai mutu yang akhirnya produksi susu sapi mengalami oenurunan dan kualitas,” tegasnya.
Harapan Dedi, udara dingin di kawasan Bandung Utara tetap terjaga. Dengan cara menghentikan pembangunan properti di Lembang dan sekitarnya agar lahan yang masih tersisa dapat dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan.
“Penataan ruang harus memadai jangan terus menerus udara dinginnya dinikmati oleh kalangan menengah ke atas yang punya properti di Bandung Utara sedangnkan habitat hidup masyarakat sekitar yang ditakdirkan terlahir di situ dan hidup dari pertanian dan peternakan justru mengalami kehilangan pekerjaan,” imbuhnya.
Banyaknya properti di wilayah Bandung Utara akan menyebabkan efek negatif untuk kelestarian lingkungan.
“Harus ada sikap yang tegas keberpihakan terhadap para peternak. Caranya tidak terus memberikan tata ruang untuk kepentingan di luar dunia peternakan. Kalau properti menyerbu, kemudian ruang terbuka semakin sempit udara dingin berubah jadi panas,” pungkasnya.
Menyukai ini:
Suka Memuat...