Kisah Waloejo Sedjati

214
foto: cielsorra.wordpress.com
foto: cielsorra.wordpress.com

Oleh: Ari Suwari

Di sekitar tahun 1960, ratusan anak muda cemerlang dikirim Presiden Soekarno untuk belajar ilmu dan teknologi di berbagai universitas di dunia. Ada yang belajar sastra, ilmu teknik, kedokteran, pertanian dan sebagainya. Atas biaya negara, mereka dianggap sebagai mahasiswa ikatan dinas (mahid).

Anak-anak muda ini tengah sibuk-sibuknya mengejar ilmu ketika di Tanah Air, peristiwa G30S/PKI meletus di tahun 1965. Beberapa lama setelahnya, nasib mereka berubah mendadak: paspor para mahasiswa ini ditarik dan tak lagi diakui negara. Mereka terbangun di pagi hari di Beijing, Moskwa, Pyongyang, dan kota-kota negara kiri lainnya dan mendapati diri mereka bukan lagi bagian dari tanah airnya.

Mereka menjadi layang-layang putus yang tak pandai menunggangi angin. Raganya di timur jauh dan Eropa, cinta mereka ke Indonesia, tapi tanpa pegangan dan penanda sebagai warga negara.

Inilah kisah Waloejo Sedjati, satu dari layang-layang putus dari Indonesia itu. Lelaki yang lahir 27 Juli 1935 di Desa Legokkalong, Kecamatan Karanganyar, Pekalongan, Jawa Tengah ini menuangkan kisahnya yang panjang dan getir dalam buku “Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa dan Paris”.

* * * * *

Usianya 25 tahun saat itu. Ia yang pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, meraih beasiswa bersama seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran untuk belajar ilmu kedokteran di Pyongyang, Korea Utara.

Waloejo ingat benar, ia meninggalkan Indonesia pada pukul 11, tanggal 11, bulan 11, tahun 1960. Di apron penumpang Bandara Kemayoran, ia dilepas ayah dan orang sekampungnya dengan air mata kebahagiaan: seorang pemuda Legokkalong kini dikirim Presiden untuk belajar di negeri yang asing.

Waloejo pergi dengan sekoper pakaian yang terselip di dalamnya oleh-oleh wayang Gatotkaca. Saat duduk di dalam pesawat, ia geli membayangkan Gatotkaca di rak bagasi itu betul-betul sedang terbang di angkasa. Begitu pesawat melintas di atas lautan, pramugari datang membawa nampan berisi hidangan dan selembar sertifikat untuknya dengan tulisan indah: “Telah Melewati Garis Khatulistiwa”.

Pesawat itu tidak langsung membawanya ke Pyongyang di Korea Utara, tapi transit di Singapura, Yangon di Myanmar, bermalam di Kunming di China lalu ke Beijing. Empat hari di Beijing, diurus orang kedutaan Indonesia, ia kemudian naik kereta api menuju Pyongyang.

Salju sedang turun di kota Pyongyang ketika kereta tiba. Dan itulah pertama kalinya Waloejo melihat salju. Ia disambut begitu megah di Stasiun Pyongyang, dengan drum band dan karangan bunga. Tiba di hotel, ucapan selamat datang dan hadiah seperangkat pakaian musim dingin, disampaikan kepadanya dengan pesan “langsung dari Marsekal Kim Il Sung”.

Pada malam harinya, ia dijamu pemimpin Liga Pemuda Demokrasi. Atas semua itu, Waloejo bertanya dalam hati: “apakah sudah begitu pentingnya kedatangan kami ini?”

Baca Juga:  Mahasiswa yang Radikal itu Nyata

Di Korea “dinding pun punya kuping”. Bulan-bulan pertama di Pyongyang, ia belajar bahasa Korea di Universitas Kim Il Sung. Ia belajar bersama para mahasiswa asing lainnya dari Eropa Timur, Afrika dan Asia. Lalu pada bulan September 1961 ia pun memulai masa delapan tahun belajar ilmu kedokteran di Institut Kedokteran Pyongyang. Di sana, di kalangan mahasiswa ia menjadi “bintang”. Selain karena ia tak berseragam seperti mahasiswa lain, ia dianggap “datang dari negeri kapitalis untuk menimba ilmu di negara sosialis”.

Ia sempat mendampingi kontingen olahraga Korea Utara yang datang bertanding di Ganefo, pesta olahraga negara-negara Asia yang digagas Bung Karno di Jakarta sebagai tandingan Olimpiade di tahun 1963. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk pulang kampung ke Karanganyar.

Ia juga menyaksikan kunjungan bersejarah Bung Karno ke Korea Utara di awal musim gugur tahun 1964, beberapa bulan setelah dibentuknya hubungan diplomatik Indonesia-Korea Utara. Sambutan kepada Soekarno di Pyongyang itu merupakan pesta terbesar yang pernah diadakan untuk menyambut tamu kepala negara asing. Pesta penyambutan digelar selama tiga hari di jalan-jalan dengan aneka acara, seluruh kota berhias dan dipercantik, ribuan lampu menyala di malam hari dengan display huruf “Selamat Datang” dan “Hidup Persahabatan” dalam bahasa Indonesia dan Korea.

Selama kunjungan itu, Waloejo dikontrak Radio Pyongyang sebagai penerjemah siaran berita.

Ia juga menjadi saksi kedatangan Ketua CC PKI, DN Aidit pada September 1963. Aidit saat itu menyerukan: “Kelak, kalau PKI menang, ya seperti Koreanya kawan Kim Il Sung inilah sosialisme Indonesia akan kami bangun”. Ucapan Aidit segera jadi bahan propaganda dalam negeri Korea Utara, dicetak khusus lalu disebarkan ke seluruh negeri. Harian partai Rodong Shinmun memuatnya sebagai headline, radio dan televisi menyiarkannya berulang-ulang.

Kunjungan terakhir petinggi Indonesia ke Pyongyang yang ia ingat adalah delegasi MPR yang dipimpin Ketua Chaerul Saleh di minggu keempat bulan September 1965, hari-hari menjelang sebuah peristiwa besar meletus di Tanah Air.

Beberapa hari sepulangnya delegasi MPR itu, pada 1 Oktober 1965 pagi, siaran radio Australia berbahasa Indonesia membawa kabar bagai bisul yang pecah di Pyongyang: Tanah Air berguncang oleh peristiwa G30S, penculikan dan pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat di Jakarta pada 30 September 1965, lewat tengah malam.

Dalam kebingungan yang galau, kata Waloejo, “kami orang-orang Indonesia di Pyongyang — ketika itu ada tujuh mahasiswa dan dua sarjana yang sedang melakukan riset — hanya bisa meraba-raba.”

Berhari-hari tak ada berita resmi, kecuali kabar dari radio-radio luar negeri. Bahkan KBRI di Pyongyang pun tak bisa menjawab. “Perasaan kami dicengkam kecemasan luar biasa,” kata Waloejo.

Baca Juga:  Pemuda; Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

Begitulah. Waktu berjalan dalam ketidakpastian. Pada awal 1967, Waloejo mendengar seorang Kolonel Angkatan Darat dari Indonesia tiba di Pyongyang. Beberapa hari kemudian, Waloejo dan kawan-kawan menerima surat pencabutan paspor Indonesia. Ia tak menyesal. “Apa artinya paspor dicabut dibanding kawan-kawan di Indonesia yang dikejar, disiksa dan dicabut nyawanya?”

Sejak itu, Waloejo Sedjati menjadi manusia tanpa negara, bagai layang-layang putus, tak tahu ke mana angin mengibaskannya. “Aku bukan siapa-siapa lagi. Hanya seorang pengembara tanpa identitas,” katanya.

Bekalnya kini sebagai manusia hanya satu buku kecil tipis yang diperpanjang setiap dua tahun: Izin Tinggal Orang Asing di Korea Utara.

Dalam status tak jelas itu, toh ia tetap melanjutkan kuliah. Ia lulus menjadi dokter setelah sembilan tahun. Saatnya meninggalkan Korea Utara. Tapi hendak ke mana?

Pada 5 Maret 1970, Waloejo meninggalkan Pyongyang dengan keharuan yang dalam. Ia hanya menyalami piket penjaga, seorang pengurus kantin dan dua staf yang mengurusi makanannya bertahun-tahun lamanya, lalu seorang guru pembimbing yang menyerahkan paspor dan tiket pesawat. Waloejo menuju Moskwa.

Di ibukota Uni Soviet itu, akhirnya ia tahu, ada ratusan mahasiswa Indonesia ikatan dinas yang belajar di berbagai perguruan tinggi, puluhan di antaranya di Universitas Patrice Lumumba. Mereka semua “orang-orang yang terhalang pulang”, orang Indonesia yang paspornya telah dicabut, tak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Orde Baru.

Waloejo kemudian masuk Universitas Patrice Lumumba, ia mendalami ilmu bedah sembari berpraktik di sebuah rumah sakit. Ia juga menjalankan penelitian untuk gelar doktor di bawah bimbingan Profesor Chumakov, perintis transplantasi jantung di Uni Soviet. Keahlian Waloejo yang terasah adalah operasi transplantasi buah zakar dari mayat korban kecelakaan yang masih segar ke pasien dengan masalah scrotum! Dalam rentang 1973-1980, ia sukses melakukan operasi pemindahan biji lelaki itu setidaknya 30 kali.

Ia akhirnya menjadi dokter spesialis bedah, dan sekaligus meraih gelar doktor setelah menghabiskan 400 ekor tikus putih untuk eksperimen di laboratorium.

Dengan gelar doktor dan dokter ahli bedah, di bulan Desember 1981 Waloejo Sedjati meninggalkan Moskwa. Ia berkereta menuju Budapest, Hongaria lalu ke Yugoslavia. Tujuan utamanya hendak pindah ke Paris, ibukota Perancis — ibukota peradaban Eropa. Ia memanfaatkan kedekatannya sesama orang Indonesia yang terbuang serta jaringan sesama dokter lulusan Moskwa di kota-kota itu untuk sekadar singgah. Ia tak memegang paspor, hanya selembar surat keterangan tanpa warga negara (stateless) dengan huruf Rusia.

Di setiap kota yang disinggahinya itu, ia tetap membuka praktik pengobatan.

Baca Juga:  Plus Minus Ustadz Abdul Somad 

Akhirnya, Waloejo tiba di Paris pada bulan Februari 1982 di saat kota itu “sudah muak kebanjiran imigran”. Banyak pencari suaka ditolak. Tapi sebagai dokter ia akhirnya diterima. Ia kemudian menetap di Paris dalam naungan UNHCR.

Pada suatu hari di tahun 1982, ia berhasil mendatangkan ayah dan ibu, serta adiknya ke Eropa. Itulah perjumpaan yang sangat mengharu-biru setelah 25 tahun perpisahan. Dan akhirnya, ia mendengar cerita dari tanah air tentang ayahnya yang dituduh sebagai pemimpin PKI oleh orang sekampung di Legokkalong, Karanganyar itu karena kepergiannya sekolah ke Pyongyang dulu — tapi tak seorang pun yang bisa membuktikannya. Kata ibunya: “Bapakmu mengucapkan kata komunis saja belum pernah kok disuruh mengaku pemimpinnya!”

Keluarga ini selamat meski hubungan dengan orang sekampung, bahkan dengan sanak kerabat, sudah berubah. Di kampung itu banyak yang mati dibantai dituduh sebagai PKI. “Tak ada sahabat, tak ada saudara. Dituduh maling atau garong, atau pelacur bahkan anjing masih mungkin mencari selamat. Tapi kalau dituduh komunis, pasti habis,” kata sang ayah.

Dari ayah dan ibunya ia mendengar cerita menyayat hati tentang pembunuhan massal orang-orang kampung oleh kerabat sendiri, oleh polisi dan tentara, karena tuduhan sebagai PKI. Mayat-mayat mereka bertebaran dan membusuk. Sungai Loji di pantai utara bahkan seperti tersumbat oleh banyaknya mayat.

Begitulah. Sebulan ia berkumpul dengan ayah ibunya. Lalu sepulang mereka kembali, kehidupan yang keras dimulai lagi.

Baru pada 11 Oktober 1994 ia memperoleh kewarganegaraan Perancia — sesuatu yang sesungguhnya tak ia inginkan karena tetap mengingat Indonesia. “Tapi saya ingin pulang ke Tanah Air. Untuk itu saya harus punya status warga negara,” katanya.

Dengan paspor Perancis di tangan, Waloejo bebas pergi ke seluruh negeri di muka bumi, tentu saja kalau punya uang. Dan negeri pertama yang hendak ia datangi adalah Indonesia, tanah kelahirannya, yang 35 tahun telah ia tinggalkan.

Dipenuhi rasa gamang, pada 13 September 1995, pukul 10.00 pagi, pesawat yang membawanya dari Paris mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. “Ketika kakiku menginjakkan lantai bandara, terasa ada satu getaran ajaib. Tanah tumpah darahku. Tempat aku dilahirkan.”

Selanjutnya adalah perjalanan nostalgia sebagai turis Perancis berwajah Melayu yang pada paspornya ada visa turis dengan izin 60 hari sahaja.

* * * * *

Begitulah.

Semua kisahnya itu ia tuliskan dalam sebuah buku: Bumi Tuhan, Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa dan Paris.

Buku ini adalah memoarnya, kisah hidupnya di rantau dan tak pulang-pulang sampai akhir hayatnya. Waloejo Sedjati meninggal di Paris pada 3 September 2013.

Hanya kisahnya ini yang tertinggal.