SERIKATNEWS.COM – Ketua Dewan Pertimbangan DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) KH. Ma’ruf Amin meyakini bahwa ekonomi syariah sangat potensial untuk menjadi variabel panting terciptanya arus baru ekonomi di Indonesia.
Hipotesis tersebut setidaknya didasarkan atas beberapa hal, pertama adanya keniscayaan Middle Income Group. KH. Ma’ruf mengatakan data Bappenas menunjukkan bahwa pertumbuhan masyarakat golongan bependapatan menengah di Indonesia akan mendominasi perekonomian sampai dengan tahun 2040.
Secara statistik diproyeksikan pada tahun 2010 jumlahnya 45 juta atau 18,8% dari total populasi 239 juta, tahun 2020 jumlahnya 85 juta atau 31,3% dari total populasi 271 juta, tahun 2030 jumlahnya 165 juta atau 55,7% dari total populasi 296 juta, kemudian di 2040 jumlahnya mencapai 237 juta atau 75,7% dari total pupulasi 313 juta.
“Sebagian besar dari mereka adalah umat Islam, sehingga bisa dikatakan kelas menengah muslim mengalami peningkatan. Dan itu menunjukkan semakin besarnya kekuatan ekonomi umat Islam di Indonesia,” kata Ma’ruf Amin di acara Muktamar IV IAEI, di Jakarta, Jumat (23/8/2019).
Wakil Presiden terpilih ini mengatakan umat Islam inilah yang akan membawa perubahan besar bagi Indonesia. Setelah selesai dan terpenuhi kebutuhan pokoknya, mereka akan terus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan lainnya, yaitu kebutuhan berekspresi dan kebutuhan pemenuhan spiritualitas.
“Ekonomi syariah dapat menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut. Ekonomi syariah yang dibangun di atas sistem ekonomi Islam yang bersumber dari ajaran Islam, diyakini lebih membawa keadilan ekonomi,” kata Ma’ruf.
Kedua adalah Middle Income Group dan Nasabah Lembaga Keuangan Syariah. Ma’ruf Amin memaparkan data jumlah masyarakat berpendapatan menengah dengan jumlah nasabah Lembaga Keuangan Syariah. Di tahun 2010, jumlah pemegang rekening Lembaga Keuangan Syariah (LKS), termasuk Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) diperkirakan mencapai 40 juta orang, atau 89% dari total masyarakat berpendapatan menengah yang berjumlah 45 juta orang.
“Hal ini menunjukkan tingginya akseptasi umat Islam terhadap Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia, walaupun secara aset masih kecil dengan pangsa pasar 5% di tahun itu. Rendahnya pangsa pasar dari sisi aset menunjukkan akseptasi yang besar dari umat Islam itu belum dibarengi dengan penguasaan kekuatan ekonomi. Nantinya apabila kelas menengah muslim mengalami penumbuhan signifikan, maka secara otomatis akan menaikkan pangsa pasar ekonomi syariah,” ungkapnya.
Selanjutnya terkait akselerasi pasar keuangan syariah. Mengambil basis data tahun 2010, di mana porsi masyarakat berpendapatan menengah 18,8%, porsi pemegang rekening LKS 16%, pangsa pasar aset 5%, dan proyeksi masyarakat berpendapatan menengah di tahun 2020 mencapai 31,3%, menurut Ma’ruf Amin tidak berlebihan jika diharapkan pangsa pasar LKS di tahun 2020 mencapai 9,1%.
Namun, hal ini dapat tercapai dengan asumsi Konversi Lembaga Keuangan di Aceh menjadi Syariah yang saat ini sedang berlangsung akan tuntas pada tahun 2020. Fenomena ini diduga akan diikuti oleh daerah lainnya. Kemudian konversi beberapa Bank Umum Konvensional yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) menjadi Bank Umum Syariah sesuai dengan keputusan yang telah diambil dalam RUPS masing-masing bank tersebut. Fenomena ini juga diduga akan menjadi pilihan terbaik Bank Umum Syariah yang memiliki UUS dengan aset di bawah Rp10 triliun.
Pokok pemikiran lainnya seperti sistem jaminan sosial kesehatan dengan prinsip syariah, sistem jaminan sosial tenaga kerja dengan prinsip syariah, rumah sakit syariah dan industri farmasi halal, serta wisata inklusif dan ekonomi kreatif. Ma’ruf Amin juga menantikan unicorn syariah pertama di dunia akan muncul dari Indonesia.
“Dengan pokok-pokok pemikiran tersebut, saya optimistis ke depannya Indonesia akan menjadi pusat kebangkitan ekonomi Islam,” tegasnya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...