Bila judul lagu dangdut menyatakan, “Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati”, di masa pandemi ini berlaku sebaliknya. Hidup seseorang akan menjadi lebih runyam ketika ia menderita sakit gigi saat penularan COVID-19 begitu mudah terjadi. Virus Sarscov-2 penyebab COVID-19 lebih mudah memapar pada benda dan makhluk hidup sehingga ketika dilakukan pengujian dengan RT-PCR maupun Rapid Test Antibodi/Antigen, virus akan terdeteksi dan menambah angka kasus positif pada data surveilans. Virus Sarscov-2 ini juga disebut sebagai penyebab kematian hingga 3% dari seluruh jumlah warga masyarakat yang terdeteksi, yang hingga hari ini telah mencapai angka 1 juta kasus positif.
Sarscov-2 memerlukan media cairan tubuh manusia (droplet) dari sistem pernafasan, hidung dan tenggorokan untuk dapat hidup dan berpindah inang. Dengan kata lain, virus Sarscov-2 hanya dapat menular melalui droplet yang berasa dari hidung dan tenggorokan. Hal ini lah yang menjadi permasalahan bagi para pasien dan dokter gigi, juga dokter-dokter lainnya. Pemberitaan media yang masif meningkatkan kewaspadaan sampai pada level ketakutan/paranoia. Berbagai cara dilakukan untuk mencegah virus menempel dan memapar pada tubuh, termasuk dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) maksimal, seperti hazmat.
Keruwetan ini yang menyebabkan masyarakat, baik tenaga kesehatan, dokter, dokter gigi, perawat dan juga anggota masyarakat malas untuk saling bertemu. Sebisa mungkin tetap #DiRumahSaja, meskipun itu berarti menahan sakit gigi, sakit kepala, bahkan rasa lapar. Semua dilakukan untuk mencegah virus Sarscov-2 masuk ke dalam tubuh, meskipun banyak virus, bakteri dan patogen lain yang berada di sekeliling manusia. Ini pula yang menyebabkan pasien sakit gigi enggan berkunjung ke klinik atau rumah sakit, demikian pula dengan tenaga kesehatan yang melayani, yang menjaga jarak sejauh mungkin dari pasiennya.
Seperti yang diceritakan dalam artikel berikut ini:Susahnya Sakit Gigi Kala Pandemi. Pasien sakit gigi harus menahan bengkak giginya dan dilayani secara virtual untuk menanyakan keluhannya. Tindakan langsung? Nanti dulu, pasien harus melewati rangkaian pemeriksaan dulu, termasuk lolos uji RT-PCR ataupun Rapid Test. Ini bukan hanya berlaku di dokter gigi, namun juga di rumah sakit-rumah sakit untuk pelayanan umum maupun spesialisasi, termasuk untuk penderita penyakit berat seperti kanker, bahkan ibu hamil yang sedang dalam proses melahirkan. Tak jarang akhirnya, ibu hamil yang melahirkan mengalami kematian bayi dalam kandungan karena keterlambatan penanganan. Penanganan pasien dengan latar belakang penyakit apapun memang jauh dari standar pelayanan kesehatan. Pasien yang sudah masuk isolasi akan diasingkan tanpa kerabat, dan dijenguk hanya sewaktu-waktu saja. Ini juga yang terjadi pada ibu-ibu melahirkan.
Bisa membayangkan, proses kelahiran, dengan pembukaan-pembukaan yang menyakitkan tanpa ada yang menemani?
Jadi, apa yang sebenarnya harus dilakukan di masa pandemi ini? Benarkah lebih baik sakit hati daripada sakit gigi atau sakit-sakit lainnya?
Ingat kembali bahwa virus Sarscov-2 hanya menular dalam droplet melalui hidung dan tenggorokan. Dengan demikian, kita hanya perlu menutup hidung dan tenggorokan untuk mencegah penularan, tidak perlu sampai menutup tubuh dengan ketat menggunakan hazmat. Bila pasien mengalami sakit gigi, sehingga tidak mungkin menggunakan masker, maka dokter dan perawat lah yang menggunakan masker medis. Mengingat bahwa tidak bisa menjaga jarak dari pasien, dan bahwa efektivitas masker hanya sekitar 80-90%, maka petugas medis juga bisa menambahkan penggunaan face shield. Penggunaan APD seperti ini secara logika dan faktual efektif untuk mencegah penularan virus Sarscov-2. Perlu ditambahkan bahwa baik pasien sebagai anggota masyarakat juga tenaga kesehatan harus tetap menjaga kesehatan fisik dan mental agar imunitas tubuh tetap mumpuni dalam melindungi diri dari virus dan patogen yang ada.
Menyukai ini:
Suka Memuat...