SERIKATNEWS.COM – Insiden yang terus memanas di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia bukanlah konflik baru. Peristiwa itu merupakan bagian dari sisa perang dingin yang masih bertahan hingga saat ini, meskipun beberapa pihak menyatakan perang dingin sudah lama usai dengan ditandai runtuhnya tembok Berlin serta bubarnya Uni Soviet.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Dosen Studi Keamanan Internasional Program Studi Hubungan Internasional (HI) UII, Irawan Jati, S.IP., M.Hum., MSS., Ph.D (Cand.) dalam pemaparannya di forum International Relations In Conversation dengan tema Russia-Ukraine Updates: What Happens Next, Kamis petang, 24 Februari 2022, yang dilaksanakan secara virtual.
Ia menjelaskan bahwa apa yang saat ini dilakukan Rusia bukan merupakan hal yang baru karena pernah terjadi di 2014 saat Rusia mencoba menganeksasi kembali dan mengklaim Ukraina sebagai bagian sah dari Rusia.
Narasumber lainnya, Mohamad Rezky Utama, S.IP., M.Si., Dosen Studi Kawasan Eropa Program Studi HI UII yang juga hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa situasi yang saat ini terjadi di Ukraina tidak terlepas dari ekspansi NATO yang mulai melebarkan pengaruh di Eropa Timur.
Hal itu, lanjut Rezky, membahayakan Rusia karena berpotensi memindahkan rudal balistik yang awalnya ditempatkan di Rumania ke Ukraina dan berpotensi menjadi ancaman terbuka bagi Rusia.
Lebih lanjut lagi, Rezky menjelaskan bahwa, sebelum 2014, Ukraina sangat dekat dengan Rusia dan menjadi buffer zone antara Rusia dan Eropa. Namun setelah revolusi 2014, pemerintah Ukraina berpindah haluan, dari sebelumnya dekat dengan Rusia beralih mendekati NATO. Hal ini menyebabkan Belarusia menjadi satu-satunya buffer zone antara Rusia dan negara-negara Eropa.
Menurutnya, invasi yang dilakukan oleh presiden Putin menjadi salah satu cara untuk mengembalikan Ukraina sebagai salah satu sekutu Rusia dengan mengganti rezim pemerintah Ukraina melalui dukungan kelompok separatis di Donetsk, Luhan, dan Krimea.
Adapun dukungan yang diberikan Rusia, kepada kelompok separatis Ukraina, kata Irawan, itu tidak terlepas dari konsep the enemy of my enemy is my friend yang diadopsi Rusia.
“Rusia mencoba memaksimalkan potensi kelompok-kelompok separatis untuk mempertahankan dan memperkuat kedudukan mereka di negara-negara tersebut,” ujarnya, dilansir dari laman resmi UII.
Lebih lanjut lagi, Rezky Utama juga menambahkan, bahwa hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Rusia dengan mendukung kelompok separatis Georgia setelah negara tersebut mulai memihak kepada Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Adanya indikasi konflik yang mengarah ke perang dunia ketiga, agaknya masih terlalu jauh melihat kondisi yang saat ini terjadi. Salah satu indikatornya adalah bantuan militer yang diberikan oleh negara-negara anggota NATO seperti Turki, Kanada dan Spanyol lebih bersifat bantuan individu, alih-alih atas nama organisasi.
“Hal ini ditambah dengan pernyataan Joe Biden, Presiden Amerika Serikat yang tidak akan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina,” ungkap Irawan.
Salah satu faktor penghambat lainnya adalah Uni Eropa dan NATO yang cukup berhati-hati dalam mengambil langkah untuk menghindari perang dunia ketiga karena hal ini bisa menyebabkan Eropa menjadi teater perang dunia lagi.
“Ancaman sanksi ekonomi dan embargo untuk mendorong Rusia menghentikan perang tidak banyak berpengaruh karena Rusia merupakan suatu wilayah yang cukup sustain sehingga mereka masih bisa survive menghadapi embargo tersebut,” tutur Irawan Jati.
Ia pun menilai jika pendekatan diplomasi dipandang menjadi salah satu solusi meskipun cukup bertele-tele. Hal tersebut disebabkan legitimasi militer negara-negara di sekitar Rusia belum cukup kuat sehingga apabila memaksakan penyelesaian konflik lewat cara militer malah akan mengarah pada invasi yang lebih besarD
Sementara penyelesaian konflik melalui PBB, anggapan Rezky, belum bisa dilakukan karena Rusia masih memiliki hak veto di United Nations Security Council (Dewan Keamanan PBB) yang bisa menghambat langkah-langkah penyelesaian konflik. Ia berpendapat bahwa NATO dan EU harus turun tangan dan terlibat dalam perjanjian damai untuk menyelesaikan konflik kedua negara ini.
Menyukai ini:
Suka Memuat...