Oleh: M Yusuf Chudlori (Pengasuh Pondok Pesantren API Salafi Tegalrejo Magelang
JEPANG merupakan wakil Asia yang paling bersinar di penyisihan grup. Jepang finish di posisi runner up dan mengunci tiket ke babak 32 besar. Australia juga lolos, bertengger di peringkat kedua di bawah Amerika. Tapi performa Jepang lebih meyakinkan. Serangan Jepang lebih tajam dengan membobol 7 gol, Australia hanya bisa mengoleksi 2 gol. Australia juga terpaut satu digit dalam perolehan poin.
Sementara delegasi Asia yang lain sungguh memalukan. Irak, Tunisia, Yordania, Uzbekistan, Qatar, harus angkat koper. Keikutsertaan mereka hanya merusak citra piala dunia. Irak, Tunisia, Yordania, Uzbekistan tersungkur di dasar klasemen dengan perolehan poin yang nihil. Qatar juga menjadi juru kunci; hanya mengantongi 1 poin dan harus lebih dulu pulang ke negaranya.
Korea Selatan berada di Grup A dengan kekuatan merata. Meksiko, Afrika Selatan dan Republik Ceko tidak lebih menonjol daripada Korsel. Kekuatan mereka seimbang. Hanya saja Meksiko lebih diuntungkan karena bertindak sebagai tuan rumah. Meksiko melibas tiga kemenangan dan berhasil melangkah ke fase gugur. Korea Selatan terkunci di posisi ketiga. Posisi ini “menyandera” Son Heung-min dan kawan-kawan. Mereka belum boleh pulang, tapi nasibnya bergantung pada hasil pertandingan di grup lain.
Mental Kuat dan Permainan Kolektif
Menghadapi Belanda di laga pembuka, Jepang membuktikan diri sebagai wakil Asia yang tidak mudah diremehkan. Belanda di atas kertas lebih diunggulkan. Tim Oranye yang unggul di setiap lini mampu mendominasi penguasaan bola. Tapi Jepang yang memperagakan permainan kolektif dan bertahan dengan solid menyulitkan Belanda menjebol gawang Zion Suzuki.
Belanda baru berhasil membuka keunggulan di babak kedua. Pertandingan berjalan lebih hidup setelah Virgil van Dijk mencetak gol di menit 51. Gol pembuka ini tidak membuat mental Jepang runtuh. Hanya berselang 6 menit, Jepang bisa menyamakan kedudukan.
Saat Belanda kembali memimpin di menit 64, Jepang tetap bermental baja. Jepang tidak terpancing bermain terburu-buru. Skema serangan tetap dibangun dari kerjasama antar lini. Skuad besutan Hajime Moriyasu ini akhirnya membuyarkan kemenangan Belanda. Bola defleksi Daichi Kamada gagal ditepis oleh Bart Verbruggen.
Saya menilai, Jepang datang ke perhelatan akbar Piala Dunia di Amerika dengan mental yang kuat dan taktik yang matang. Hajime Moriyasu tidak memiliki satu dua pemain yang menjadi pemain pembeda di lapangan. Skill dan talenta pasukan yang membela Negeri Matahari Terbit ini merata. Materi pemain dengan skill merata ini harus diorkestrasi dengan tepat.
Hajime Moriyasu sangat cermat menangani Jepang dengan menekankan anak asuhnya bermain secara kolektif. Pendekatan yang mengusung kerjasama dan kohesivitas tim betul-betul dipersiapkan secara matang. Keberhasilan Jepang menjebol gawang Belanda, Tunisia dan Swedia tidak bergantung pada satu, dua pemain.
Ayase Ueda dan Daichi Kamada memang mengoleksi 2 gol. Tapi Jepang tidak mau ketergantungan pada dua pemain ini justru akan membuat serangan menjadi buntu jika keduanya tidak on fire.
Hajime Moriyasu tetap kokoh pada titik tekan agar skuad Jepang memiliki karakter kuat untuk konsisten bermain dinamis dan kolektif. Penekanan ini membuka peluang bagi tiap pemain bisa mencetak gol. Dan terbukti, pemain sayap seperti Keito Nakamura, Junya Ito dan Daizen Maeda berhasil menyumbangkan gol.
Jika Argentina memiliki Messi, Perancis memiliki Mbappe, Norwegia memiliki Haaland sebagai mesin gol, Jepang memilih tidak mau bergantung pada individu pemain.
Jepang juga merupakan kekuatan dengan disiplin yang tinggi. Ketika Jepang menyerang, lalu terkena serangan balik, tiap pemain segera kembali ke posisi masing-masing untuk menjaga area yang menjadi tanggungjawabnya.
Bermain dengan disiplin yang tinggi ini menciptakan keseimbangan bagi tim. Jepang tidak tabu menyerang, tapi mereka tidak mau meninggalkan celah di lini pertahanan yang memudahkan lawan menyerang secara mematikan.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...