Oleh: M Yusuf Chudlori (Pecinta bola, pengasuh pondok pesantren API Salafi Tegalrejo Magelang)
Brazil menang dengan mudah melawan Haiti. Matheus Cunha mencetak brace. Tambahan satu gol disumbangkan Vinicius Junior. Maroko juga mengantongi poin penting. Ismael Saibari mencetak gol tercepat di Piala Dunia 2026. Skotlandia dikejutkan oleh sepakan keras Ismael Saibari di menit 76 yang berbuah kemenangan bagi Maroko.
Brazil dan Maroko merupakan tim unggulan di grup C. Di laga terakhir fase penyisihan, Brazil hanya membutuhkan hasil seri untuk lolos ke babak 32 besar. Skor akhir imbang bisa juga meloloskan Maroko, dengan catatan Skotlandia gagal mengalahkan Brazil. Brazil dan Maroko tampil sangat mendominasi. Maroko membukukan tembakan lebih banyak; 12 berbanding 9. Hanya saja lini depan Selecao memiliki kualitas finishing lebih klinis ketimbang anak asuh Mohamed Quahbi.
Saya sebagai penggemar berat MU tentu senang Matheus Cunha dipercaya menjadi starter. Perasaan senang makin membuncah karena penyerang tengah andalan Michael Carrick ini berhasil mengonversi peluang menjadi gol. Gol pembuka diciptakan pada menit 23. Tendangan Vinicius yang tidak sempurna diblock oleh Johny Placide menghasilkan bola reborn. Pantulan bola inilah dilesakkan Cunha ke ruang kosong gawang.
Pemain yang bergabung dengan MU pada 1 Juni 2025 ini kembali mengubah papan skor 2-0 pada menit 36. Menerima umpan dari Vinicius, ia menggiring bola ke sisi kiri lalu melepaskan tembakan keras. Bola mengarah ke pojok atas kiri tiang dan menjebol jala Haiti.
Di English Premier League, koleksi gol Cunha hanya 10, tidak sebanding dengan Igor Thiago yang mencetak 22 gol. Tapi, menurut saya, Cunha merupakan pemain yang lebih dibutuhkan untuk mengisi lini serang tim Samba. Cunha bukanlah seorang striker murni. Bersama MU, dia biasa beroperasi sebagai false nine dan second striker. Striker tunggal MU dipercayakan kepada Benjamin Sesko.
Saat menghadapi Haiti, Ancelotti memakai formasi 4-4-2 dengan menduetkan Cunha dan Raphinha di lini depan. Tapi posisi ini tidak manjadi halangan bagi dirinya untuk tidak bergerak aktif. Inilah nilai lebih Cunha dibanding Igor Thiago.
Ketika Cunha dimainkan, serangan Brazil lebih cair. Sementara Thiago memposisikan dirinya sebagai seorang finisher dan pergerakannya cenderung pasif. Menuntut pergerakan Thiago lebih aktif musykil dilakukan karena gaya permaianan Thiago berbeda dengan Cunha.
Saya berharap Ancelotti kembali memberikan kepercayaan kepada Cunha di laga-laga berikutnya. Brazil era sekarang bukan Brazil era puncak keemasan dengan striker haus gol seperti Ronaldo dan Pele. Gol tidak harus lahir dari seorang striker. Pemain sayap yang memiliki ketajaman seperti Vinicius dan Raphinha tetap menjadi ancaman berbahaya.
Begitu pula dengan Cunha. Ia tidak harus dituntut menjadi mesin gol. Pergerakan Cunha yang membuat serangan Selecao lebih dinamis dan cair, sehingga membuka peluang bagi pemain lain mencetak gol.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...