Connect with us

Opini

Ada Pelajaran Kenegarawanan di Balik Penganugerahan Bintang Mahaputra

Published

on

Pemberian Bintang Mahaputra Nararya kepada Fadli dan Fahri © Tempo

Tanggapan atas kontroversi pemberian bintang Mahaputra untuk Fadli Zon dan Fahri Hamzah

Pemberian Bintang Mahaputra Nararya kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah masih menimbulkan polemik. Tetapi, apa motif Presiden Jokowi memberikan penghormatan kepada kedua figur kontroversial itu? Mungkin saja Jokowi ingin membangun legacy sebagai negarawan yang menghormati kawan dan lawan politik. Jokowi ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu memisahkan antara urusan politik dengan urusan negara. Melalui peristiwa ini, Jokowi sedang memberikan contoh agar kita membedakan antara perbedaan pandangan politik dengan urusan negara.

Saat muncul kabar bahwa Fadli Zon dan Fahri Hamzah akan mendapatkan Bintang Mahaputra Nararya, memang membuat publik terkejut dan membuat geger dunia maya. Ada yang tidak percaya, bahkan seolah “menggugat” pemberian penghargaan yang cukup prestisius itu. Dalam benak publik, sedikitnya ada dua hal yaitu pertama mempertanyakan apa jasa yang luar biasa dari kedua politisi tersebut. Hal kedua adalah menghubungkan dengan sikap “nyinyir” kedua politisi itu khususnya terhadap pemerintahan Jokowi.

Soal penilaian jasa Fadli dan Fahri tentu sudah melalui sejumlah pertimbangan. Salah satunya mungkin dilihat dari pengabdiannya ketika mereka menjadi pejabat negara, yaitu wakil ketua DPR, dan sebagai wakil rakyat. Terkait sikap kritis kedua sosok tersebut terhadap Jokowi dan pemerintah atau sikapnya yang sering nyinyir merupakan persoalan tersendiri yang tidak otomatis menegasikan jasa-jasanya pada saat menjadi abdi negara. Perlu dibedakan antara sikap politik (kepentingan partai) dengan sikap kenegaraan. Perdebatan soal penganugerahan bintang jasa kehormatan tidak hanya terjadi kali ini. Bahkan tak jarang penganugerahan gelar pahlawan juga kerap mengundang perdebatan, pro dan kontra. Ada yang menilai layak dan ada yang menilai tidak layak dengan pelbagai pertimbangan dan alasan.

Baca Juga:  Mewaspadai Gerakan Kelompok yang Mempunyai Imajinasi Negara Khilafah

Pemberian Bintang Mahaputra Nararya kepada Fadli dan Fahri pun menimbulkan kontroversi. Tapi pemberian penghargaan tersebut sudah sesuai peraturan perundang-undangan. Kini Fahri Hamzah dan Fadli Zon sudah menerima Bintang Mahaputra Nararya. Biarlah rakyat yang menilai. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Pertanyaan yang muncul di benak publik sekarang adalah bagaimana sikap Fadli Zon dan Fahri Hamzah setelah mendapat penghargaan prestisius tersebut. Apakah masih nyinyir? Masih akan kritis terhadap Jokowi dan pemerintah?

Menjawab pertanyaan ini kita perlu membedakan antara nyinyir dan kritis. Nyinyir dan kritis sama-sama merupakan kata sifat. Kata “nyinyir” menurut KBBI adalah mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet. Sedangkan makna “kritis” di bagian makna ke 2, menurut KBBI dapat diartikan bersifat tidak lekas percaya; bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam dalam penganalisisan. Oleh karena itu, nyinyir belum tentu kritis, dan kritis belum tentu nyinyir. Ada orang yang sekadar nyinyir tapi substansinya tidak mengandung unsur kritik. Ada juga orang yang kritis terhadap suatu masalah tetapi belum tentu nyinyir. Nah, Fadli Zon dan Fahri Hamzah ini dinilai publik memiliki kemiripan gaya berkomunikasi di ruang publik. Keduanya sama-sama suka nyinyir, sama-sama memiliki sifat kritis.

Masalahnya, jika nyinyir itu sudah menjadi watak dan tabiat, maka sulit untuk mengubah. Beda jika sifat nyinyir tersebut hanya sekadar tuntutan peran seorang aktor politik atau sinetron/film. Nah di sini perlu diuji, apakah kenyinyiran Fadli dan Fahri ini watak atau sekadar peran. Mungkin waktu yang akan menentukan.

Soal sikap kritis, justru baik untuk membangun demokrasi yang sehat. Pemerintahan dalam negara demokrasi perlu check and balances. Namun, yang perlu diperbaiki adalah cara-cara kritik yang kerap melampaui makna kritik itu sendiri. Kritik beda dengan caci maki. Kritik beda dengan fitnah. Maka dari itu, saatnya sekarang mengubah paradigma kritik destruktif menjadi kritik konstruktif agar energi demokrasi menjadi positif untuk memajukan bangsa dan negara yang penuh dengan tantangan.

Baca Juga:  Angin Segar Bagi Eks Koruptor di Pilkada Serentak 2020

 

Advertisement
Advertisement

Terkini

News18 jam ago

Program Kartu Prakerja Sudah Jalani Audit Inspektorat Kementerian, BPK, BPKP, hingga Taati Saran KPK

SERIKATNEWS.COM – Pelaksanaan Program Kartu Prakerja telah menjalani audit, reviu dan evaluasi oleh Inspektorat Jenderal Kemenko Perekonomian, Inspektorat Jenderal Kementerian...

Ekonomi18 jam ago

Program Kartu Prakerja Atasi Tiga Masalah Utama Ketenagakerjaan Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Kondisi ketenagakerjaan Indonesia sebelum masa pandemi Covid-19 ditandai dengan tiga hal yang sangat menonjol. Yakni, rendahnya produktivitas kerja,...

News19 jam ago

Kesiapan UGM Sambut Peserta CBT UM

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak 36.470 peserta mengikuti Computer Based Test Ujian Masuk Univeritas Gadjah Mada (CBT-UM UGM) 2021 hari pertama yang...

News2 hari ago

Brigjen Pol Sukawinaya Jabat Sestama BNN, JARRAK: Sosok Penuh Prestasi

SERIKATNEWS- Sebanyak 12 pejabat Badan NarkotikaNasional (BNN) RI yang terdiri dari pimpinan tinggipratama, administrator, dan penyidik madya dilantiksekaligus melakukan sumpah...

News2 hari ago

PLN Apresiasi Ditjen Minerba dan 48 Pemasok Batu Bara Jaga Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN mengapresiasi dukungan pemerintah dan 48 mitra pemasok batu bara dalam penyediaan bahan bakar pembangkit demi menjaga keandalan pasokan...

News2 hari ago

Sanggar Belajar: Tingkatkan Semangat Literasi Desa melalui Edukasi Alternatif

SERIKATNEWS.COM- Pemuda Jatiurip menyelenggarakan edukasi Alternatif dunia literasi. Program Dunia literasi yang dijalankan ini sesuai dengan program Karang Taruna Desa...

Olahraga2 hari ago

Dukung Ajang PON XX di Papua, PLN Siapkan Perkuatan Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN siap menyukseskan gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang akan digelar Oktober mendatang. Progres pekerjaan kelistrikan untuk...

Populer

%d blogger menyukai ini: