Aktor Pembunuhan Ala Meksiko Tak Berhenti Di Soenarko Dan Kivlan Zen?

701

Rancangan pembunuhan terhadap Tito Karnavian, Wiranto, dan kawan-kawan adalah pembunuhan ala para penjahat di Meksiko dan Italia. Pembunuhan di dua negara itu menyasar para pejabat negara yang melawan para penjahat. Tercatat 37 walikota dibunuh penjahat narkoba yang tidak mau tunduk pada kemauan penjahat.

Demikian pula ratusan para hakim di Italia yang anti penjahat dibunuh. Permusuhan dan penebaran ketakutan hendak dibangun di Indonesia dengan diawali oleh pembunuhan terhadap pejabat tinggi.

Tujuan Pembunuhan

Kebetulan Jenderal Polisi Tito Karnavian adalah musuh teroris dan bandar narkoba. Plus musuh Cendana yang menangkap Om Tommy Soeharto di Bintaro. Maka menjadi sangat relevan dia menjadi sasaran para penjahat. Tujuan pembunuhan terhadap Tito dan Wiranto adalah untuk menebarkan ketakutan di TNI/Polri. Kedua adalah untuk menyemangati gerakan people power.

Kisruh pembunuhan politik akan dijadikan alat untuk membangun opini, bahwa Indonesia tidak aman. Para pendukung 02 akan disulut untuk melakukan kerusuhan, berawal dari rancangan kerusuhan 22-25 Mei 2019, yang abortive, yang terpaksa muncul pada 21 dan 22 Mei 2019. (Ini terjadi karena kejelian TNI/Polri, BIN, Bais, dan Tim Khusus yang bekerja untuk mengulik gerakan tersebut.)

Pembunuhan politik ini hendak dipraktikkan oleh pendukung die-hard Prabowo: Kivlan Zen dan Soenarko. Rancangan pembunuhan sudah mereka susun rapi. Ada eksekutor (Iwan), ada penyandang dana (Habil Marati), ada penyedia senjata (Heriansyah), ada penyerah duit dan penunjuk pembunuhan (Kivlan Zen). Lengkap.

Bak gangster mafia kelas teri, kedua orang tersebut melakukan persiapan rapi. Pemesanan senjata lewat Iwan dan Heriansyah. Pemalsuan surat Pendanaan oleh Habil Marati, kawan akrab – penampung dana BLBI yang licin bukan main – yang akhirnya putus asa lalu merencanakan jihad politik: membunuh pejabat tinggi negara.

Baca Juga:  Fenomena Gerakan Subordinasi Fungsioneris Parpol Pindah Dukungan

TNI/Polri Kejar Aktor Intelektual Kerusuhan

Polri secara cerdas melakukan langkah melawan narasi sesat. Narasi yang dibangun oleh media baik TV, radio, koran dan media online. Seolah Soenarko dan Kivlan Zen adalah pejuang. Bukan. Senjata yang dipesan untuk perencanaan pembunuhan bukan rongsokan. Kolaborasi sempurna Bais, BIN, dan Polri dalam mengungkap aktor rancangan kerusuhan.

(Maka Polri langsung menyampaikan konferensi pers. Momen pers konferensi yang diambil pun sejalan dengan kegiatan narasi Paslon 02, pengambilan nomor perkara. Langkah Polri ini menjadi penyeimbang narasi yang dibangun oleh Bambang Widjajanto terkait Mahkamah Konstitusi (MK) yang digiring untuk mengikuti kemauan narasi, obrolan omong kosong hukum, delusi.)

Serta-merta muncul bukti-bukti papar di publik. Kivlan Zen telah menjalankan tahapan rapi untuk merancang pembunuhan itu. Mereka bersama tersangka calon eksekutor melakukan pemetaan. Soenarko menguasai senjata ilegal. Kalau Soenarko tidak kekurangan uang.

Kivlan memang bermasalah. Dia mendorong demonstrasi di KPU, dan Bawaslu. Dia, yang pernah dituduh oleh Andi Arief sebagai pebisnis massa, bisnis massa demonstrasi yang dulu dilakukan dalam Pam Swakarsa (Pengamanan Swakarsa), juga mendorong massa untuk demonstrasi.

Maka berlangsunglah demonstrasi pendukung Prabowo. Publik terbakar oleh suntikan dan provokasi dorongan para pentolan pendukung Prabowo. Fadli Zon, Amien Rais, Eggi Sudjana, Soenarko, Kivlan Zen, dan para kompor mendorong demo dengan dalih konstitusional. (Dan, sekaligus pada saat bersamaan para perusuh yang sudah disiapkan, termasuk korban tewas, yang diambil cepat-cepat (sebagian oleh keluarganya) dan orang tidak jelas.)

Meledaklah kerusuhan. Dalam bukti yang dipaparkan Polri, lewat CCTV tampak ambulan Gerindra memasok perusuh yang belakangan ditangkap. Juga pembagian uang di lapangan. Semua adalah bukti tak terbantahkan bahwa kerusuhan dilakukan by design, direncanakan.

Baca Juga:  Menjaga Pemilihan Anggota Legislatif dan Pilpres Bersih

Untuk itu, seluruh rangkaian peristiwa dan bukti-bukti akan dipaparkan satu-satu. Sesuai dengan dinamika waktu ke waktu. Ini dilakukan untuk meredam narasi pembelaan terhadap perusuh. Perusuh yang tewas yang dibela oleh Prabowo, Fadli Zon, dan Anies Baswedan, kubu 02 sejak awal. Padahal mereka para perusuh dan penjarah, yang membunuh pun tidak jelas.

Akhir Kisah

Pada waktunya, political bargaining cerdas melalui kasus kerusuhan itu, akan membuahkan hasil yang Jokowi takes all.

(Sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) pun tidak akan dihadiri oleh pendemo bahlul bayaran. Karena para bohir sudah tidak ada. Tercekik dalam ketakutan seperti Habil Marati. Bude Titiek atau Om Tommy pun akan menjaga jarak, meski pada tanggal 23 Mei 2019 dini hari masih bersikukuh untuk melanjutkan perjuangan ala mereka. Sandi dan Prabowo sudah tidak akan ngomong gak karuan lagi,kecuali untuk hiburan.)

Political and legal standing (posisi politik dan hukum) itu telah dimulai dari Istana ketika Jokowi mengambil sikap. Para perusuh dan aktor intelektual tidak akan berhenti di Kivlan Zen dan Soenarko.

Atau Habil Marati yang bergelimang harta dan erat dengan kasus BLBI. Bohir besar akan diciduk. Jika bohir di atas Marati tidak terciduk, maka yang akan ditangkap pun akan semakin tinggi.

Pun, tentu Kivlan Zen dan Soenarko tidak akan bersedia menjadi korban dan pahlawan kesiangan demi Habil Marati dan kawan-kawan atau para pendana. Atau demi Prabowo. Tidak. Penderitaan ancaman penjara Kivlan, Eggi, Soenarko, dan Habil akan ditularkan ke atas, samping dan bawah.

Dan, para jenderal purnawirawan pun setuju dengan Jokowi untuk menegakkan supremasi hukum. Gatot Nurmantyo pun menyampaikan hal yang sama: “Semua orang harus menghormati supremasi hukum termasuk presiden. Siapa pun harus ditindak jika melanggar hukum.”