SERIKATNEWS.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan penelitian terhadap sumber daya genetik (SDG) lokal lahan kering di Indonesia masih sangat terbatas. Biasanya hanya dilakukan dalam jangka pendek. Padahal potensi SDG lokal ini sangat besar untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia.
“Jika dilihat dari kondisi lahan kering di Indonesia, dari potensi luas total lahan kering di Indonesia 144,47 juta ha, sebanyak 81,8 % (118,11 juta ha) adalah lahan kering suboptima/belum terlalu baik. Lahan itu terdiri atas 74,3 % (107,36 juta ha) = lahan kering masam dan 7,5 % (10,75 juta ha) = lahan kering beriklim kering,” ungkap Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP, BRIN, Evert Yulianes Hosang, pada Webinar Teras – TP # 9 dengan tema “Optimasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Lokal Tanaman Pangan”, Rabu (25/9/2024).
Daerah yang termasuk lahan kering masam antara lain Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Papua. Sementara yang termasuk lahan kering iklim kering adalah NTT, NTB, Bali, Sulawesi dan Maluku, tetapi ada juga di Jawa dan Kalimantan.
Khusus untuk di daerah NTT memiliki luas 4,7 juta ha dan terdistribusi antar pulau yang teridiri dari Pulau Sumba 1,105,241 ha, Pulau Timor Barat 1,439,442 ha, Pulau Flores 1,583,160 ha, kepulauan Rote, Sabu, Alor dan Lambata 593,739 ha. Jadi, total luas lahan kering di NTT 3,26 juta ha (69,4 %).
Beberapa jenis SDG lokal tanaman pangan yang sering dikembangkan di NTT pada dataran rendah antara lain jagung, padi gogo, sorgum, kacang nasi, kacang gude, ubi kayu, kacang hijau, dan kacang tanah. Pada datatan tinggi SDG lokal yang dikembangkan seperti padi gogo, jagung, jewawut, jali, kacang merah, kacang parang, ubi jalar, dan gembil.
“Sejarah berjalannya penelitian di NTT, kami telah melaksanakan penelitian SDG lokal sejak sebelum tahun 2023 saat kami bersama-sama Kementerian Pertanian. Kami sudah melakukan karakterisasi cukup banyak SDG lokal di NTT dan juga melakukan pendaftaran dan pelepasan varietas, tetapi masih terbatas pada karakterisasi dalam rangka pendaftaran varietas,” jelas Hosang.
Menurut Hosang, pada tahun 2023 timnya melakukan survey dan identifikasi salah satu komoditas sorgum lokal dan karakterisasi jagung putih lokal TTS di kabupaten Sabu di Pulau Raijua. Pada tahun 2024 juga melakukan pengolahan sorgum untuk pembuatan beras, tepung dan nira sorgum, serta peningkatan produksi jagung putih lokal TTS dengan menggunakan Biochar.
Dasar dilakukan penelitan sorgum lokal di NTT antara lain karena sorgum banyak dikembangkan di lahan kering di NTT seperti Pulau Sabu, Pulau Raijua, Pulau Rote, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Flores Timur dan Pulau Timor pada umumnya. Keberadaannya masih belum dimanfaatkan secara maksimal karena tanaman ini masih ditanam tanpa perawatan yang optimal.
Sorgum masih ditanam dan dikonsumsi langsung menjadi beras padahal memiliki potensi besar, serta pada beberapa daerah sentra produksi, variasi genetik/jenis sorgumnya sudah semakin berkurang.
“Penelitian ini dilakukan secara in situ dan ex situ, karakterisasi morfologi dan agronomi pada bulan Maret – September 2024, dan mempunyai dokumentasi nama-nama lokal sorgum. Penelitian lainnya yang dilakukan adalah pembuatan beras dan tepung sorgum dengan menggunakan sorgum putih dan sorgum merah. Selain itu dilakukan juga pembuatan kecap sorgum, di mana bahannya berasal dari batang sorgum yang di press. Dari 100 kg batang sorgum dihasilkan Nira sorgum (brix 15) 22-25 liter, gula manis (brix 55) 5,5 liter dan kecap 3,5 liter,” ungkapnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa topik penelitian sorgum ke depannya adalah peningkatan produktivitas sorgum lokal dan nutrisi penting (population improvement, mutasi gen atau pembentukan hibrida), perbaikan managemen budidaya (kesuburan tanah, penggunaan Biochar pembenah tanah, pengendalian hama burung), dan penanganan pasca panen (teknologi penyimpanan, peningkatan nilai gizi, dan lain-lain).
“Walaupun program-program pemerintah sudah mengembangkan jagung kualitas unggul baru, tetapi masyarakat petani masih mengembangkan dan kita dapat identifikasi beberapa jenis jagung lokal di antaranya jagung putih kernel keras (pena muti fatu), jagung putih kernel lunak (pena muti kikis), jagung putih umur pendek (pena muti ana), dan jagung kuning (pena molo). Semua ini masih dipertahankan oleh petani,” jelas Hosang.
Hosang menginformasikan bahwa topik penelitian jagung ke depannya antara lain peningkatan produktivitas, tahan kering dan nutrisi penting (population improvement, mutase gen atau pembentukan hibrida), perbaikan managemen budidaya (kesuburan tanah, pengaturan jarak tanam dan populasi atau presisian farming), serta penanganan pasca panen (teknologi penyimpanan, peningkatan nilai gizi dan lain-lain).
“Komoditas lahan kering potensial yang ke depannya perlu kita perhatikan dalam penelitian ini antara lain kacang turis (Cajanus cajan), kacang nasi/tunggak (Vigna unguiculata), kacang merah (Phaseolus vulgaris), ubi jalar (Ipomoea batata), ubi kayu (Manihot esculenta), jewawut (Setaria italica), jali (Coix lacrima-jobi) dan beberapa komoditas yang potensi untuk perbaikan nutrisi masyarakat setempat,” kata Hosang. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...