“Magic mirror, on the wall – who is the fairest one of all?” Ucapan Ratu Jahat dalam film Snow White and the Seven Dwarfs (1973) ini sangat terkenal. Apa enggak salah cetak? Anda mungkin mendengar atau membaca versi yang ini: “Mirror, mirror, on the wall – who is the fairest one of all?” Jika Anda ngotot bahwa yang benar adalah yang kedua, jangan kaget, Andalah yang salah. Anda—seperti saya—bisa jadi terkena Mandela Effect. Apa lagi itu?
Di mana dan kapan Nelson Mandela wafat? Jika Anda mengatakan bahwa pejuang anti-apartheid yang akhirnya jadi presiden Afrika Selatan ini meninggal di penjara pada tahun 1980-an, Anda terkena ‘Mandela Effect’. Dalam bahasa awam, Mandela Effect adalah kesalahan massal yang terus diulang karena dianggap kebenaran. Kita tahu bahwa Nelson Mandela wafat pada 5 Desember 2013. “Ah, yang benar. Bukankah kayaknya beliau sudah lama meninggalnya?” Kalau Anda masih mempertanyakan ini, berarti virus ‘Mandela Effect’ masih bersarang di otak Anda. Wkwkwk.
Kecuali atau Kucuali?
Ada versi yang jauh lebih sederhana. Coba lihat daftar kata di bawah ini. Menurut Anda, yang benar sebelah kiri atau kanan:
Apotek atau apotik?
Bus atau bis?
Risiko atau resiko?
Lesus pipi atau lesung pipit?
Mengubah atau merubah?
Jika Anda katakan yang benar sebelah kanan, artinya Anda sudah mengikuti arus kesalahan yang memang besar sekali sehingga tanpa sadar kita ikut terseret.
Saat menjelaskan itu kepada mahasiswa saya dan para calon wartawan yang pernah saya didik, saya uji coba dengan berkata, “Coba, yang benar ‘kecuali’ atau ‘kuali’?” Atas pertanyaan yang sederhana ini mereka jadi bingung sendiri. Sebagian menjawab ‘kecuali’ yang lain ‘kuali’ yang lain lagi ngomong sendiri dengan tidak jelas. Wkwkwk. Mengapa mereka jadi bingung? Mereka kehilangan rasa percaya diri karena pernah melakukan kesalahan tanpa sadar.
Kesalahan yang Menjadi Kebenaran
Fenomena yang sama sedang terjadi dengan masif di tanah air. Apa itu? Sekelompok orang yang dengan sengaja menyebarkan berita bohong dengan harapan kabar bodong itu ditelan mentah-mentah oleh orang yang tulus atau yang malas melakukan cek and recek, misalnya lewat ‘Clearing House of Information’. Apalagi setelah capres dan cawapres diumumkan. Daftar nama tim pemenangan kedua kubu pun hari-hari ini sebagian sudah diumumkan dan sebagian masih digodok entah kapan matangnya. Wkwkwk.
Mengapa berita bohong itu bisa menyebar dengan cepat dan dianggap sebagai kebenaran? Karena ditunjang oleh para buzzer yang digaji memang untuk menanggapi berita bohong tersebut seolah-olah benar, bahkan menambahi fakta-fakta yang dipelintir agar berita abal-abal itu jadi masuk akal. Masuk akal siapa? Orang yang tidak biasa berpikir nakal.
Mereka meyakini satu hal ini: kebohongan yang terus-menerus diulang-ulang dan disebarkan secara masif lama-lama dianggap sebagai kebenaran. Celakanya, orang-orang yang menyebarkan berita bohong ini—karena terlalu banyak menyebar kabar bodong—lama-lama mereka pun ‘terperangkap’ oleh kebohongannya sendiri sehingga menelan bahwa berita itu benar adanya. Gila, bukan?
Kaca Selalu Transparan?
Tidak ada yang sejujur cermin. Namun, jika cermin itu sudah kotor, bukankah gambar pantulannya pun akan terdistorsi? Seorang istri yang baru pindah ke rumah melihat tetangganya sedang menjemur pakaian.
“Yang,” ujarnya kepada suaminya, “saya harus memberitahu tetangga kita untuk menggunakan deterjen seperti yang saya pakai.”
“Lho, emangnya kenapa?” tanya suaminya.
“Lihat baju putih yang dia jemur tampak kotor dan tidak bersih,” sahut istrinya.
Keesokan harinya, sang istri kaget ketika melihat cucian tetangga kelihatan begitu putih. “Ah, dia pasti sudah ganti deterjen,” jawabnya sok tahu kepada suaminya.
“Tidak sayang. Deterjennya sama. Pagi ini saya membersihkan jendela rumah kita,” sahut suaminya kalem.
Tanpa kita sadari, kita lebih mudah menunjuk hidung noda orang lain ketimbang membersihkan kaca jendela kita sendiri.
Cermin Selalu Jujur?
Cermin yang tidak ternoda seperti kaca jendela yang jarang dibersihkan memang memantulkan apa saja yang berada di depannya. Namun, tanpa sadar kita bisa marah kepada cermin saat melihat wajah kita penuh kerut karena menua. Mengapa mengalami penuaan dini? Karena hati yang senantiasa dipenuhi rasa dengki terhadap keberhasilan ‘lawan’!
Fenomena inilah yang saat ini terjadi di tanah air. Ada orang-orang yang seharusnya sudah masuk jajaran begawan, negarawan atau apa pun namanya, yang masih suka nyinyir terhadap orang yang sedang sibuk-sibuknya bekerja. Orang yang suka mengkritik, jika dikritisi, biasanya menjawab, “Lho, saya memberi kritikan ini bukan untuk character assasination, melainkan untuk membangun nation!” Oke. Namun, mengapa jika dia sendiri yang dikritik, tiba-tiba saja merasa gerah dan menyuruh membungkam orang yang mengkritiknya? Bukankah dia seharusnya berterima kasih karena memiliki lawan tanding yang sebanding? Atau justru meminta orang agar cermin itu dibanting?
Cermin—namanya saja cermin—tugasnya memang mencerminkan apa yang ada di depannya. Apa adanya. Tanpa rekayasa! Suatu saat, begitu bangun tidur kita berdiri di depannya, apa yang kita harapkan? Wajah yang bersih, rambut yang tersisir, pakaian yang bersih dan rapi atau wajahnya yang layu, mata kuyu dan rambut awut-awutan? Orang yang berpikir waras pasti mengharapkan yang pertama. Hanya orang yang sedang bermimpi atau mengalami halusinasi parahlah yang berharap melihat yang kedua. Jika harapan kita berbeda dengan kenyataan di depan mata, apakah kita mau menerima dengan legawa atau membanting cermin karena buruk muka?
Colekan Orang Terdekat
Jika kita mengalami halusinasi yang jika diteruskan akan terus-menerus menipu diri sendiri, obat yang paling mujarab adalah introspeksi. Kita bisa menebus resepsi di apotek kerendahan hati. Bisa juga di pasar saat kita terpapar oleh kebenaran. Kebenaran—bagaimanapun menyakitkan—menyembuhkan.
Seorang istri hendak membeli ayam potong. Dia diantar dan didampingi suami yang setia. Begitu lamanya sang istri ini membolak-balik dagangan di depannya sehingga membuat penjualnya tidak sabar.
“Sebenarnya, ibu mencari ayam potong seperti apa?”
“Ayam potong yang segar.”
Jawaban yang normatif dan wajar ini ternyata membuat sang penjual gusar. Mengapa? Dengan lamanya dia membolak-balik ayam di atas meja penjual itu menunjukkan bahwa dia kesulitan menemukan ayam segar.
“Saya selalu menjual ayam segar. Bukankah semua ayam ini segar?” sergah penjualnya. “Apa ibu tahu ciri-ciri ayam segar?”
“Tahu! Ayam segar kulitnya putih pucat!”
“Bukankah semua ayam saya seperti itu?”
“Tidak! Ayam Bapak kulitnya kehijau-hijauan!”
Ucapan sang istri ini membuat sang penjual naik pitam. Mereka sudah dalam posisi mau berantem jika saja sang suami tidak menengahinya. Dengan kalem dia berkata kepada istrinya, “Ma, tolong lepaskan kacamata Mama!”
Dengan refleks sang istri memegang kacamatanya. Wajahnya memucat. Case closed. Seandainya dia ngotot ngajak berantem dan sang penjual menyanggupinya, bukankah hasilnya berbeda? Pasar bisa geger. Apalagi jika ada teman-teman pedagang ayam yang lebih senang menyaksikan sabung ayam dan rekan-rekan ibu yang kebetulan ada di pasar menganjurkan ibu itu untuk ‘membeli’ apa yang ‘dijual’ pedagang ayam, bukankan pasar jadi bubar?
Ketimbang saling serang seperti yang belum lama ini terjadi antara ‘jenderal kardus’ versus ‘jenderal baper’, bukankah jauh lebih baik jika tercolek oleh kebenaran atau tergaet oleh KPI, kita segera bercermin? Apa yang Idrus Marham lakukan dengan mundur dari jabatannya sebagai menteri dan jabatan lain yang dia sandang patut diapresiasi agar yang bersangkutan bisa fokus terhadap kasus hukum yang dihadapi? Para penegak hukum pun perlu bercermin agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan keadilan dan hati nurani yang diterangi cahaya ilahi dan bukan karena desakan massa yang merasa berhak menjadi hakim yang lebih tinggi. Kasus Meiliana sampai kini masih menjadi kontroversi. Oh cermin, jika engkau retak, siapa yang merusak?
Penulis Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa
Menyukai ini:
Suka Memuat...