DI ERA digital yang serba cepat, istilah FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once) semakin populer di kalangan anak muda. Keduanya mencerminkan cara generasi muda, khususnya Gen Z, memandang kehidupan, membangun relasi, hingga menentukan pilihan sehari-hari.
FOMO menggambarkan rasa takut tertinggal dari tren, informasi, atau pengalaman yang sedang terjadi. Biasanya, rasa ini muncul karena seseorang merasa orang lain lebih bahagia, sukses, atau produktif dibanding dirinya.
Media sosial menjadi faktor utama yang memperkuat fenomena FOMO di kalangan anak muda. Melalui unggahan orang lain, seseorang dapat merasa kehidupannya kurang menarik sehingga menimbulkan kecemasan dan rasa tidak percaya diri.
Menurut penjelasan dari laman Yankes.kemkes.go.id, FOMO erat kaitannya dengan kesehatan mental. Jika tidak dikendalikan, perasaan ini dapat memicu stres, overthinking, bahkan depresi pada sebagian orang.
Contoh sederhana FOMO adalah ketika seseorang merasa wajib ikut nongkrong, traveling, atau membeli barang terbaru karena takut dianggap ketinggalan zaman. Padahal, kebutuhan tersebut sering kali tidak sesuai dengan kondisi finansial maupun prioritas hidupnya.
Berbeda dengan FOMO, konsep YOLO muncul sebagai motivasi untuk menikmati hidup sebaik mungkin. Ungkapan “kamu hanya hidup sekali” sering dijadikan alasan untuk mencoba pengalaman baru, berani mengambil risiko, atau melakukan hal-hal yang dianggap menyenangkan.
Tren YOLO banyak diikuti oleh anak muda sebagai bentuk semangat positif dalam menjalani kehidupan. Melalui prinsip ini, mereka terdorong untuk lebih berani keluar dari zona nyaman dan menghargai setiap momen yang ada.
Namun, YOLO juga bisa berdampak negatif bila dilakukan tanpa kendali. Pola pikir “hidup hanya sekali” terkadang membuat seseorang mengabaikan perencanaan masa depan dan cenderung konsumtif.
Sebagai contoh, ada orang yang terlalu sering menghabiskan uang untuk gaya hidup hedon dengan alasan YOLO. Akibatnya, mereka justru mengalami kesulitan finansial di kemudian hari.
FOMO dan YOLO sebenarnya memiliki sisi positif jika dijalankan dengan seimbang. FOMO bisa menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman, sedangkan YOLO dapat menumbuhkan keberanian untuk mengambil peluang baru.
Namun, anak muda perlu bijak dalam mengendalikan kedua tren ini agar tidak terjebak dalam pola hidup yang merugikan. Keseimbangan antara menikmati hidup dan tetap realistis menjadi kunci utama agar tidak kehilangan arah.
Pakar psikologi menyarankan agar anak muda lebih fokus pada tujuan pribadi, bukan sekadar membandingkan diri dengan orang lain. Dengan begitu, rasa FOMO bisa dikurangi dan semangat YOLO dapat diarahkan ke hal-hal yang lebih produktif.
Selain itu, penting juga untuk membatasi konsumsi media sosial agar tidak terjebak dalam ilusi kebahagiaan orang lain. Mengatur waktu penggunaan gawai dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Pada akhirnya, FOMO dan YOLO hanyalah istilah yang mencerminkan gaya hidup modern. Bagaimana dampaknya akan bergantung pada cara setiap individu mengelola pola pikir, emosi, dan tindakannya sehari-hari.
Jika dikelola dengan bijak, FOMO bisa menjadi dorongan untuk berkembang dan YOLO menjadi pengingat bahwa hidup memang patut disyukuri. Namun bila berlebihan, keduanya justru bisa menjebak dalam siklus kecemasan maupun keputusan impulsif yang merugikan. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...