Connect with us

Opini

Hanya Prabowo Yang (Seolah- olah) Islami

Published

on

Sebetulnya sholat bukan ukuran seseorang layak atau tidak layak untuk dipilih menjadi presiden RI. Karena yang lebih penting adalah leadership-nya dalam menjalankan roda pemerintahan dan komitmennya dalam melaksanakan ideologi negara dan amanat konstitusi.

Karena itu, mereka yang bahkan bukan pemeluk Islam pun sebetulnya boleh-boleh saja dipilih menjadi presiden RI jika memang layak. Apalagi konstitusi menjamin adanya kesetaraan setiap warga negara di hadapan hukum dan pemerintahan.

Tapi, statemen La Nyalla ini menjadi penting di tengah beragam fitnah anti Islam yang dituduhkan tetangga sebelah terhadap Jokowi. Seolah-olah hanya Prabowolah yang layak dinilai sebagai pemimpin yang Islami, dan sebaliknya tidak bagi Jokowi.

Itu seolah-olah lho ya. Faktanya, Jokowi ditinjau dari aspek apa pun, sebetulnya justru lebih “kaffah” (komprehensif) akhlak Islamnya dibandingkan Prabowo.

Jokowi, misalnya, tak hanya disiplin sholat lima waktu tepat pada waktunya, tetapi juga rutin melaksanakan puasa sunnah Senin-Kamis. Kebiasaan puasa Senin-Kamis Presiden Jokowi ini bahkan mendapat apresiasi positif dari Ustadz Yusuf Mansur, salah satu ustadz yang dikenal kritis kepada Jokowi.

Harapan masih ada. Bahkan di urusan puasa, Presiden Jokowi di atas saya, kemana-kemana beliau puasa Senin-Kamis. Saya tak ada (apa-apanya). Semoga negeri ini, bangsa ini, dan segenap pimpinannya, pusat sampai ke daerah, masyarakatnya, semua bisa saleh salehah. Bisa menyelesaikan semua problematika yang ada. Bertambah cerdas, arif, kuat, dan dapat ridho Allah,” tulis Yusuf Mansyur di akun Instagramnya.

Pada 2003, dua belas tahun sebelum maju Pilpres 2014, Jokowi dan istri juga naik haji. Itu zaman Jokowi masih menjadi pengusaha, bukan pejabat. Berarti juga naik haji dengan biaya sendiri, bukan haji abidin (atas biaya dinas).

Baca Juga:  Menurunkan Tarif Dasar Listrik Melalui Energi Nuklir

Jadi kualitas keislaman Jokowi itu bukan datang tiba-tiba menjelang kampanye saja, ibarat kalian yang sedang PDKT ke calon mertua santri. Tidak.

Keislaman Jokowi sudah inheren, menyatu, dalam perilaku kesehariannya sejak lama. Pada tahun 2001, jauh-jauh hari sebelum terjun ke dunia politik, Jokowi sudah mengasah ilmunya membaca Al Quran.

Ustadz Mudzakir, seorang santri lulusan Mahad Aly Ponpes Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo sekaligus sarjana alumni Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Situbondo, menjadi pendamping Jokowi mendalami Al Quran secara privat selama sekitar setahun lamanya. Mudzakir kini bekerja sebagai guru bahasa Arab di MTsN 3 Bendosari, Sukoharjo.

Saat menjadi walikota Solo, Jokowi juga tegas menutup kompleks pelacuran Silir dan menyulapnya menjadi pasar barang klithikan (bekas). Ia juga menetapkan Solo sebagai kota Sholawat yang kemudian melahirkan Majelis Zikir dan Sholawat Ahbabul Mustofa pimpinan ulama sekaligus sahabat Jokowi, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.

Majelis Ahbabul Musthofa ini semula bernama Majelis Silir Berzikir karena berawal dari daerah sekitar kompleks prostitusi yang ditutup Jokowi tadi. Dan niat awal majelis ini pun semacam untuk terapi spiritual bagi warga Silir dan sekitarnya.

Selain itu, sebelum menjabat walikota Solo, Jokowi juga sudah mendirikan majelis zikir dan sholawat Jamuro (Jamaah Muji Rosul) bersama KH Abdul Karim, pimpinan Ponpes Al Qurani Azzayadi, Mangkuyudan, Solo.

Jadi, rekam jejak keislaman Jokowi sangat jelas dan dapat diverifikasi oleh siapa pun langsung ke sumbernya.

Apalagi rekam jejak keislaman KH Ma’ruf Amin yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Karena sebelum dipilih Jokowi menjadi cawapresnya, Kiai Ma’ruf adalah pemimpin tertinggi NU dan MUI. NU adalah ormas Islam terbesar dengan nyaris seratus juta pengikut di Indonesia. Sementara MUI organisasi yang menaungi hampir seluruh ormas Islam di Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Nahdlatul Wathon, Mathlaul Anwar, LDII, MTA, dst.

Baca Juga:  Apakah Penyebaran Virus Corona Di Wuhan Cina Karena Kebocoran Laboratorium?

Rekam jejak kedua sosok capres-cawapres nomor urut 01 tersebut tentu sangat jauh di atas rata-rata, jika dibandingkan dengan “santri” post-Islamis Sandiaga Uno maupun Prabowo. Sebab, seperti kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (pewaris sah Partai Islam Masyumi), baik Prabowo maupun Sandiaga Uno, “tidak jelas rekam jejaknya dalam gerakan Islam”.

Rekam jejak Prabowo lebih terlihat dalam dinas ketentaraannya yang tak lepas dari kasus-kasus pelanggaran HAM dan berakhir dengan dipecat dari dinas kemiliteran. Sementara Uno lebih terlihat sepak terjangnya dalam bisnis “fund management” melalui grup Saratoga –yang secara syar’i belum terjamin seratus persen kehalalannya.

Karena itu, tak mengherankan jika mantan kader elite Gerindra sendiri, yang tahu keseharian Prabowo, yaitu La Nyalla Mataliti, menilai Prabowo tak begitu memahami ajaran Islam jika dibandingkan Jokowi. Apalagi dibandingkan dengan KH Ma’ruf Amin yang pakar ekonomi syariah dan fuqoha (ahli fikih) senior. Jauuuhhh…

La Nyalla juga menyebut Prabowo bahkan tak berani memimpin sholat. Naudzubillahi min dzalik.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Literasi5 jam ago

Metode Praktik dalam Pembelajaran Kreatif dan Inovatif di TK Dharma Wanita Moyoketen

GURU adalah sosok yang berjasa. Jika ada yang memposisikan guru sebagai seseorang yang pekerjaannya sebagai pengajar tentu tidak salah, tetapi...

Sosial-Budaya6 jam ago

Siswa Harus Cinta Tanah Air dan Kuasai Iptek

SERIKATNEWS.COM – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi menyebut kekhasan lokasi geografis menjadikan Indonesia negara subur dengan...

News6 jam ago

Presiden Jokowi Resmikan Pasar Pon di Kabupaten Trenggalek

SERIKATNEWS.COM – Dalam perjalanan menuju Helipad Menak Sopal, Kabupaten Trenggalek, Presiden Joko Widodo menyempatkan untuk singgah di Pasar Pon, Selasa,...

Politik6 jam ago

Fahri Hamzah: Pemerintah Buka Dong Peluang Bagi Daerah Ajukan Calon Presiden

SERIKATNEWS.COM – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meminta pemerintah membuka peluang kepada daerah untuk mengajukan...

News6 jam ago

Lebih Hemat dan Aman, Ini Sederet Keunggulan Kompor Induksi

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) terus mendorong electrifying lifestyle atau gaya hidup baru dengan menggunakan peralatan serba elektrik yang bebas...

Opini6 jam ago

Nasib Dosen Tetap Non PNS, Pemerintah Bisa Apa?

Oleh: Adil Rahmat Kurnia (Ketua Bidang Perguruan Tinggi PB PMII) BERBICARA tenaga pendidik di lingkungan perguruan tinggi maka akan mengenal...

Ekonomi11 jam ago

Kemendag Dirikan Pusat Promosi Ekspor di Entikong

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendirikan pusat promosi ekspor di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Ditandai dengan penandatanganan nota...

Populer

%d blogger menyukai ini: