JAKARTA – Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menyentuh angka tertinggi sepanjang sejarah yaitu sebesar 4,72 juta ton. Capaian ini menunjukkan ketahanan pangan nasional yang semakin kokoh dan terkelola dengan baik.
Capaian ini menurut Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman merupakan hasil kerja keras lintas sektor dalam memperkuat stok pangan strategis nasional. Stok CBP bisa melonjak drastis bukan kebetulan, tetapi berkat langkah cepat dan kolaborasi lintas sektor.
Sebelumnya capaian tertinggi berada di kisaran 2,684 juta ton. Dari angka tersebut kemudian meningkat signifikan dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton dalam waktu dekat.
“Ini kerja keras kita semua, terutama teman-teman Bulog. Mungkin ini capaian tertinggi sejak Bulog berdiri,” ujar Mentan Amran di Kantor Bulog, Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Capaian CBP sebesar 4,72 juta ton tidak datang secara instan. Namun, melalui proses panjang yang penuh tantangan, terutama di awal pemerintahan ketika keterbatasan anggaran menjadi hambatan utama.
“Dulu uangnya Bulog tidak ada. Kami sampaikan langsung ke Bapak Presiden, dan dalam hitungan menit langsung direspons. Kebutuhan Rp16,6 triliun langsung direalisasikan,” ujar menteri Amran.
Menteri Amran mengatakan dukungan anggaran terus mengalir seiring meningkatnya kebutuhan untuk memperkuat stok pangan nasional. Setelah itu, pemerintah kembali mengalokasikan kebutuhan sebesar Rp39 triliun untuk memastikan CBP berada pada level aman.
“Ini menyangkut hajat hidup 115 juta orang. Jadi penguatan CBP bukan pilihan, tapi keharusan,” katanya.
Perjalanan menuju capaian ini tidak selalu mulus. Namun, seluruh tantangan dihadapi dengan semangat yang sama, yakni untuk kepentingan bangsa dan negara.
Mentan Amran menegaskan bahwa keberhasilan penguatan CBP tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Presiden yang responsif serta soliditas antar kementerian, khususnya dukungan dari Kementerian Keuangan dalam memastikan ketersediaan anggaran.
Dengan capaian ini, pemerintah optimistis CBP akan menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas harga, mengantisipasi gejolak pasokan, serta menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia. “Kelihatannya sederhana, tapi dampaknya dirasakan seluruh Indonesia. Ada 115 juta saudara kita yang hidup dari sektor ini,” pungkasnya. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...