SEBAGAI salah satu refleksi untuk memperingati hari lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ke-75 pada hari ini, 05 Februari 2022, saya ikut merasa bangga menjadi bagian dari kader hijau hitam, yang telah membesarkan saya dalam dinamika kemahasiswaan dan keumatan. Oleh karena itu, saya perlu berkontemplasi dan beridealisme bahwa HMI bukan hanya bagian dari sejarah panjang yang telah mewariskan pemikiran keislaman, keumatan dan ke-Indonesiaan, akan tetapi HMI harus tetap eksis dan terus mentransformasikan nilai-nilai perjuangan di tengah terpaan berbagai isu nasional yang “mendistorsi keutuhan kita dalam berbangsa” dan menggangu akselerasi dalam peradaban global.
Panggung sejarah Indonesia dari setiap generasi yang dilahirkan oleh para aktivis dan figur HMI, telah memberikan semangat kepada setiap kita untuk senantiasa merawat persatuan dan kemajuan bersama. Para tokoh bangsa yang dibesarkan oleh HMI dan telah berkontribusi besar terhadap kemajuan di berbagai bidang, tentu saja marupakan manifestasi dari proses pengkaderan yang dilakukan secara ketat dan serius.
Ultah HMI kali ini bukan hanya dimaknai sebagai harapan bagi Indonesia-sebagaimana pernyataan panglima besar Jendral Sudirman bahwa “HMI adalah harapan masyarakat Indonesia”, sebuah ungkapan dan apresiasi yang luar biasa. Saya masih haqqul yakin bahwa ekspektasi itu tetap dirindukan oleh siapa pun, akan tetapi sebagai harapan besar momentum peringatan milad HMI ke-75 ini hendaknya benar-benar dijadikan kilas balik dengan prestasi yang telah dilakukan oleh para tokoh besar direpublik ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat kesempatan ini saya berikhtiar untuk mengajak adik-adik kader HMI melakukan transformasi nilai perjuangan dan peradaban bangsa yang lebih maju sebagaimana tema milad HMI ke-75, Berdaya Bersama menuju Indonesia Emas 2045.
Pertama sebagai salah satu jalan untuk menuju tangga Indonesia emas tersebut adalah melalui gagasan-gagasan besar yang berorientasi pada dimensi kemahasiswaan, ke-Islaman dan ke-Indonesian. Dunia perguruan tinggi sebagai penempaan ilmu pengetahuan dan intelektualitas juga harus difungsikan sebagai laboratorium sosial untuk mengawal pemikiran-pemikiran produktif bagi pembangunan SDM yang berkualitas.
Demikian juga, tradisi lingkaran diskusi untuk membicarkan persoalan kebangsaan, kebijakan publik dan memberikan alternatif solusi yang biasa dilakukan oleh adik adik kader aktivis monggo terus dipertahankan untuk mengolah problem solving. Begitupun sambil memikirkan metodologi yang lebih efektif menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dirumuskan. Sebagaimana kaidah fiqhyah “al- muhafadlatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”.
Secara kelembagaan, konsepsi pembinaan dan pengembangan program di masing masing bidang, pada setiap tingkatan institusi HMI mulai tingkatan komisariat sampai tingkat PB, saya yakin sudah mengakomodasi kebutuhan kader dari isu-isu lokal dan nasional yang berorientasi pada konsistensi peningkatan SDM yang unggul untuk kader masa depan. Oleh karena itu, design tersebut harus berbanding lurus dengan motivasi kader untuk terus menempa diri melaui ilmu pengetahuan dalam konteks kemahasiswaan.
Dalam pandangan yang lain, refleksi milad seperti ini sering digelorakan HMI back to campus. Dalam pengertian yang sebenarnya HMI kembali ke kampus adalah pandangan untuk menyemangati kader dalam prestasi belajar sebagai insan akademis. Bukan menguasai jabatan-jabatan strategis kemahasiswaan di kampus.
Di samping itu, gagasan pembaharuan yang bermuara pada sikap dan tindakan kader ketika menghadapi problem keumatan dan kebangsaan harus peka merespons berbagai macam persoalan tersebut dengan melandaskan pada prinsip mission HMI yang memuat lima kualitas insan cita; pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah SWT. Prinsip mission HMI bukan termenologi klasik, tetapi tugas dan tanggung jawab kader harus senantiasa merefleksikan hal tersebut.
Kesegaran pada setiap diri kader untuk melakukan capacity building dan aksi-aksi sosial. Tentunya penting untuk selalu diarahkan dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader, agar pada gilirannya transformasi pemikiran dan peradaban berdaya bersama menuju Indonesia emas 2045.
Saya merasa bersyukur dalam proses berkader walapun hanya sebutir pasir di laut yang luas bisa banyak belajar kepada para senior dan kawan-kawan seperjuangan di komisariat hingga cabang di HMI Sumenep. Bahkan hingga saat ini, saya tetap belajar melalui silaturrahmi untuk tetap menjaga ukhuwah. Barang kali ini yang perlu ditanamkan kepada diri kita setiap kader karena kesuksesan dan kemajuan adalah pekerjaan yang harus dilakukan secara terus menerus untuk diperbaiki, karena dengan jalan itulah kita dapat berlari jauh dan tetap fokus pada satu titik HMI menuju Indonesia emas 2045.
Semoga peringatan dies natalis HMI kali ini menjadi napak tilas bagi kader-kader harapan bangsa, agar senantiasa berhikmad pada keislaman dan kebangsaan, dengan semangat kemandirian dan pengabdian yang tinggi kepada masyarakat, bangsa dan agama. Meneruskan perjuangan Rasulullah dan membumikan nilai nilai qur’ani.
Selamat MILAD HMI ke-75!!
Pengurus Majlis Silaturrahim KAHMI Timur Daya Kabupaten Sumenep dan Ketua LAKPESDAM MWC NU Batang-batang.
Menyukai ini:
Suka Memuat...