Penulis: Serikat News
Minggu, 2 Juli 2017 - 10:06 WIB
Foto: Dewinta Pringgodani
Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Dewinta
Filosofi tentang ” IKHLAS” yg selama ini mungkin dari kita semua blm dpt memahami sesungguhnya , nilai diri tentang IKHLAS hidup didunia ini.
Mengapa kita sll marah, selalu kesal dan selalu menggerutu, ketika harapan yg tengah kita nantikan berujung tdk sesuai kenyataan. Ibarat seorang anak yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat orangtua nya yg tidak pernah ada dlm kehidupannya.
Sang anak hendak mengejar Ibrahim, bapaknya. dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?”
Ibrahim terus melangkah meninggalkan nya tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh.
Remuk redam perasaannya si anak” terjepit antara pengabdian dan pembiaran.
Dan masih terus mengejar bapaknya, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?”
Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim.
Butir pasir seolah terpaku kaku.
Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan sang anak yg bernm Ismail membuat semua terkesiap.
Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”. Ismail kecil pun”… berhenti mengejar. Lalu..dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin. “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan aku di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga ku”
Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Ismail dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.
Itulah ikhlas.
Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak.
Ikhlas adalah kepasrahan bukan mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk.
Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain.
Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir, Ikhlas tak pernah berhitung.
Ikhlas tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menujuNya. Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya.
Ikhlas adalah ikhlas. Titik.
“Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Ismail dan perginya Ibrahim?” Dan aku, kamu, serta kita, semuanya tertunduk pasrah bersama Malaikat, butir pasir dan angin.
YOGYAKARTA – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta menggelar pengajian bagi klien pemasyarakatan di Griya Abhipraya Purbonegoro, Selasa, 28 April
PAMEKASAN — Puluhan aktivis yang tergabung dalam Forum Mahasiswa dan Masyarakat Revolusi (Formaasi) bersama Tim Pencari Fakta Nusantara (TPF-N) menggelar
YOGYAKARTA – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan status gizi pelajar masih menghadapi persoalan serius terkait keamanan
JAKARTA — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak serikat pekerja/serikat buruh (SP/SB) tidak hanya berperan dalam advokasi, tetapi juga menjadi penggerak peningkatan
JAKARTA – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan bahwa perkembangan dunia kerja saat ini menuntut pekerja tidak hanya mengandalkan ijazah.
GROBOGAN — Upaya mengintegrasikan pembangunan lingkungan dan ekonomi desa mulai diwujudkan melalui gerakan penanaman alpukat yang diinisiasi Ikatan Pemuda Penggerak