Imajinasi yang Hilang

354

Bila anda melihat atau mendengar kata ‘marmer’ apa yang ada di benak anda? Kemungkinan hal yang paling utama anda akan mengatakan batu, keras, warna yang indah, dan yang terakhir, mahal. Jarang sekali orang melihat marmer kemudian secara otomatis berkata ‘marmer adalah batu kristalin kasar yang berasal dari batu kapur atau dolomit’ layaknya copy paste dari Wikipedia. Sepertinya cara pandang kita sederhana ya? Tidak, justru sebaliknya ini adalah bentuk bahwa manusia adalah makhluk perasa, makhluk yang memaknai pengalaman dari panca inderanya. “Batu” adalah kata hasil pengalaman yang pernah dilihatnya, sedangkan kata “keras, warna yang indah, mahal” menunjukkan sebuah rasa dan nilai yang ada di balik benda batu tersebut.

Namun lebih daripada itu, ini juga sebagai bukti bahwa manusia sebenarnya punya potensi sebagai seorang seniman, karena setiap manusia tidak lepas dari unsur estetika di dalam dirinya. Buktinya? Sederhana saja, apakah anda hari ini masih memikirkan mau pakai baju apa, warna apa, atau juga anda berkaca dan masih merasa gelisah mengapa masih ada satu jerawat nempel di hidung, singkatnya adalah kita semua memedulikan akan unsur keindahan dalam diri kita sendiri.

Apabila anda tidak merasa sebagai seorang seniman saat ini tidak mengapa, karena lumrah kalau kita lupa. Tapi saya akan ingatkan kembali, bahwa kita semua pernah menjadi seorang seniman, yang memiliki daya imajinasi dan kreatif luar biasa. Kapan? Ketika kita masih kecil. Seperti yang dikatakan oleh Pablo Picasso ‘evey child is an artist’. Tidak ada satupun di antara kita yang waktu masa kecilnya tidak mencoret-coret atau bernyanyi, bukan? Hal ini penting untuk terus kita ingat, karena sebenarnya kehidupan ini tidak bisa dikotak-kotakan antara imajinasi dengan logika, keduanya harus berselaras berdampingan, namun seringkali daya imajinasi kita tercecer di tengah jalan kehidupan kita.

Baca Juga:  Land Reform Jaman Now

Pentingnya imajinasi dalam hidup, seperti yang diungkapkan oleh Benedetto Croce, seorang filsuf Itali, adalah imajinasi menghubungkan kognisi dengan emosi, dan keduanya akan menyatu dalam ekspresi. Jadi itulah mengapa ketika dewasa, daya imajinasi kita berkurang atau mungkin hilang karena kita terlalu mengedepankan kecerdasan kognisi atau rasional saja. Laut akan selalu biru, bukan ungu atau pink, padahal dulu waktu kita kecil, mungkin saja kita mewarnai gajah dengan warna hijau polkadot.

Kembali ke pembahasan marmer di atas, bahwa batu marmer hanyalah akan menjadi seonggok batu yang biasa saja, apabila Michaelangelo tidak pernah membuat patung David atau Pieta. Michaelangelo dapat memandang marmer lebih dari yang disodorkan oleh sifat fisik dari marmer tersebut, seperti yang diungkapkan oleh filsuf Heidegger dalam esainya ‘The Origin of the Work of Art’, yaitu Michaelangelo mampu menampilkan keindahan hakiki dari marmer, the splendour. Inilah yang membedakan antara science (sains) dengan art (seni). Bambang Sugiharto menyampaikan pada bukunya “apa itu seni” bahwa sains menggunakan logika yang memang memiliki maksud menjelaskan realitas, berkomunikasi pada ranah nalar, namun seni berdialog pada perasaan dan imajinasi.

Kedua ranah tersebut sebenarnya tidak selalu berseberangan tetapi juga bersinggungan dengan erat. Bila dalam sains tidak ada unsur seninya sama sekali, maka tidak ada penemuan apa pun di dalam dunia ini, karena penemuan atau sebuah inovasi dibutuhkan keberanian untuk menciptakan model baru yang tidak lazim.

Oleh sebab itu, saya ingin kita merenungkan sejenak mengenai pendidikan, terutama pendidikan formal di Sekolah Dasar. Apakah pendidikan di Indonesia selama ini sudah menyeimbangkan antara pembelajaran nalar/logika dalam sains dengan pelajaran yang menyentuh rasa dan imajinasi seperti kesenian? Sepanjang perjalanan saya sebagai pengajar di perguruan tinggi pada Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan juga yang pernah penyusun kurikulum di Sekolah Dasar Swasta, porsi antara kedua ranah tersebut sangatlah timpang. Masih ada kecenderungan bahwa siswa masih dikotak-kotakkan antara seni dan sains, serta ilmu sosial.

Baca Juga:  TGKH Zainuddin Abdul Madjid: Juru Damai dari Timur

Meskipun pada kurikulum 2013 pemerintah sudah berusaha membuat sebuah kurikulum yang interdisipliner, namun “kebiasaan” sekolah maupun pengajar di Indonesia masih belum terbiasa dan mampu menggunakan kurikulum tersebut dengan baik, sehingga kembali, pengajaran yang terjadi masih terfragmentasi dalam ranahnya masing-masing. Sampai sekarang, masih jarang sekolah yang mau melirik jam pelajaran seni untuk sama besarnya dengan pelajaran matematika.

Pertimbangan selanjutnya yang ingin saya angkat adalah penyusunan silabus pada pelajaran seni itu sendiri. Pelajaran Seni Budaya dan Kesenian (SBK) dibuat begitu kompleks sehingga guru harus bisa menguasai empat bidang yaitu seni tari, seni drama, seni visual dan seni musik. Hal ini mengakibatkan sehingga penyusunan tiap aspek tersebut tidaklah mendalam tetapi hanya sekedar pengetahuan, bukan sesuatu yang dipahami. Tangga dalam mencapai skill untuk mendalami pelajaran seni, contohnya seni rupa juga tidak jelas. Kalau dalam matematika, tangga pengetahuan disusun dengan runut yaitu dari perkenalan bilangan, penambahan, pengurangan, perkalian baru pembagian, dan seterusnya. Sedangkan dalam pembelajaran seni visual, siswa langsung diminta untuk menggambar tanpa ada dasar-dasar seni visual seperti pengetahuan mengenai elemen dan prinsip dasar seni rupa atau juga teori warna. Tidak heran kita semua merasa ‘saya bukan orang seni’ karena kita tidak dimodalkan untuk belajar dengan tepat di sekolah kita dahulu. Padahal kenyataannya, kita adalah makhluk yang berestetika, memiliki emosi dan rasa keindahan.

Sebagai kesimpulan, saya ingin kita sama-sama melirik kembali tentang betapa pentingnya keseimbangan logika dengan perasaan dalam kehidupan kita melalui pembelajaran sains dan kesenian. Sebagai orang dewasa janganlah kita menghilangkan imajinasi anak-anak ketika mereka beranjak remaja dengan selalu menyodorkan logika tanpa rasa. Namun apabila saat ini anda juga sudah kehilangan rasa itu, mari saya ajak kita bersama untuk kembali berani berpikir liar dalam imajinasi kita, bebaskan sejenak pikiran kita yang terlalu rasional, toh gunung tidak selalu biru, tidak selalu hanya dua jumlahnya dan tidak selalu ditemani matahari yang muncul setengah di antaranya.