Anyer yang kita kenal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Serang Provinsi Banten yang kini merupakan destinasi wisata (tujuan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara). Dalam tulisan singkat ini tidak membahas geografi atau demografinya, tapi terkait sejarah jalan yang dibangun dari titik Anyer hingga ke Panarukan Jawa Timur. untuk pertama kalinya Jalan Anyer-Panarukan atau istilah lain Jalan Raya Pos (Postweg) atau Jalan Raya Daendels dimulai sejak Herman Daendels menjadi Gubernur Jenderal VOC di tahun 1808-1811 M.
Pembangunan jalan tersebut telah banyak menelan ribuan korban orang-orang pribumi. Karakter Daendles yang disiplin militer, keras, kejam, bengis dan ambisius itu menjadi faktor pendorong terwujudnya pembangunan Jalan Raya Pos. Tujuan utama dibangunnaya jalan dari Anyer hingga Panarukan bagi Daendles adalah untuk mobilisasi jalaur angkutan perdagangan monopoli Lada, sekaligus mengontrol potensi-potensi pemberontakan yang timbul sepanjang utara pulau Jawa. Wawasan militer Daendles ini sejalan dengan pemikiran militer mentornya yaitu Napoleon Bonaparte untuk membuka koloni dan mempertahankan koloni yang dikuasainya.
Adalah Peter Carey berpendapat bahwa dibangunnya Jalan Anyer tersebut atas instruksi Gubernur Jenderal William Herman Daendels di tahun 1808 dengan maksud utama memperpendek jarak agar kontrol atas wilayah jajahan bisa mudah, sekaligus niatan Daendels untuk membangkitkan ekonomi baru agar membantu kaeuangan VOC yang sudah terkuras akibat pembiayaan peperangan. Disamping secara kultur tercipta sistem feodalisme yang dipelihara oleh Deandels agar kemapanan dalam menjajah terus berlangsung tanpa pribumi sadari. Sistem nilai yang diciptakan itu untuk membiasakan agar pejabat Belanda ketika nanti melintasi Jalan Raya Pos ( Postweg ) orang-orang pribumi wajib menunduk atau membungkuk sebagai tanda patuh dan setia pada kompeni Belanda.
Menurut beberapa catatan sejarah bahwa jalan yang dibangun Daendels dari Anyer hingga Panarukan, Jawa bagian Timur itu panjangnya mencapai 1000 KM. Namun berbeda dengan apa yang dipercaya orang selama ini, menurut Djoko Marihandoyo ( Sejarawan UI ) bahwa Gubernur Jenderal Daendels selama masa pemerintahannya memang memerintahkan pembangunan jalan di Jawa tetapi tidak dilakukan dari Anyer hingga Panarukan. Jalan antara Anyer dan Batavia sudah ada ketika Daendels tiba. Oleh karena itu dalam Dagh Register bagian Het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14.
Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg (Bogor) menuju Cisarua dan seterusnya sampai ke Sumedang. Pembangunan dimulai pada bulan Mei 1808. Pengerjaan pembangunan jalan yang menembus puncak Cisarua menurut sejarawan J.J Rijal telah banyak memakan korban jiwa para pekerja yang didatangkan Daendels dari Jawa, akibat penyakit malaria dan bukan akibat sistem kerja yang kasar seperti kerja rodi yang selama ini kita ketahui dalam banyak catatan sejarah di bangku sekolah.
Saat pengerjaan jalan di daerah Sumedang, proyek pembangunan jalan ini terbentur pada kondisi alam yang sulit karena terdiri atas batuan cadas, akibatnya para pekerja menolak melakukan proyek tersebut dan akhirnya pembangunan jalan macet. Akhirnya Pangeran Kornel turun tangan dan langsung menghadap Daendels untuk meminta pengertian atas penolakan para pekerja. Ketika mengetahui hal ini, Daendels memerintahkan komandan pasukan zeni Brigadir Jenderal Von Lutzow untuk mengatasinya. Berkat tembakan artileri, bukit padas berhasil diratakan dan pembangunan diteruskan hingga Karangsambung. Sampai Karangsambung, proyek pembangunan itu dilakukan dengan kerja upah. Para bupati di wilayah yang menjadi jalur jalan diperintahkan menyiapkan tenaga kerja dalam jumlah tertentu dan masing-masing setiap hari dibayar 10 sen per orang dan ditambah dengan beras serta jatah garam setiap minggu.
Setibanya di Karangsambung pada bulan Juni 1808, dana 30.000 gulden yang disediakan Daendels untuk membayar tenaga kerja ini habis dan di luar dugaannya, tidak ada lagi dana untuk membiayai proyek pembangunan jalan tersebut. Ketika Daendels berkunjung ke Semarang pada pertengahan Juli 1808, ia mengundang semua bupati di pantai utara Jawa.
Dalam pertemuan itu Daendels menyampaikan bahwa proyek pembangunan jalan harus diteruskan karena kepentingan mensejahterakan rakyat (H.W. Daendels, Staat van Nederlandsch Indische Bezittingen onder bestuur van Gouverneur Generaal en Marschalk H.W. Daendels 1808-1811, ‘s Gravenhage, 1814). Para bupati diperintahkan menyediakan tenaga kerja dengan konsekuensi para pekerja ini dibebaskan dari kewajiban kerja bagi para bupati tetapi mencurahkan tenaganya untuk membangun jalan. Sementara itu para bupati harus menyediakan kebutuhan pangan bagi mereka.
Semua proyek ini akan diawasi oleh para prefect yang merupakan kepala daerah pengganti residen VOC. Dari hasil kesepakatan itu, proyek pembangunan jalan diteruskan dari Karangsambung ke Cirebon. Pada bulan Agustus 1808 jalan telah sampai di Pekalongan. Sebenarnya jalan yang menghubungkan Pekalongan hingga Surabaya telah ada, karena pada tahun 1806 Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Nicolaas Engelhard telah menggunakannya untuk membawa pasukan Madura dalam rangka menumpas pemberontakan Bagus Rangin di Cirebon (Indische Tijdschrift, 1850). Jadi Daendels hanya melebarkannya. Tetapi ia memang memerintahkan pembukaan jalan dari Surabaya sampai Panarukan sebagai pelabuhan ekspor paling ujung di Jawa Timur saat itu.
Wakil Ketua PW Ansor Banten
Menyukai ini:
Suka Memuat...