Connect with us

Opini

Novel Origin dalam Tinjauan Madilog

Published

on

Sumber: www.nytimes.com

Di penghujung tahun 2017 pengarang fiksi “bestseller international” Dan Brown meluncurkan novel terbarunya berjudul “Origin”. Mengapa Origin ini menarik untuk dibicarakan? Karena sebagai sebuah fiksi, buku ini memasukkan isu ilmiah mutakhir dan peranan agama-agama dunia. Sebagai sebuh fiksi buku ini tentu saja dapat menerobos berbagai halangan apa yang sedang berlaku hari ini baik di bidang teknologi, tradisi, politik melalui imajinasi yang ditawarkan pengarangnya. Dan Brown adalah pengarang yang mahir meramu sejarah masa lampau, dunia hari ini dan ramalan masa depan. Melalui fiksi, Dan Brown dengan imajinatif mengajukan isu yang juga digeluti Karen Armstrong seorang penulis perempuan berkebangsaan Inggris dan komentator terkemuka masalah agama-agama yang terkenal dengan buku “History of God”.

Dalam novel Origin, Dan Brown kali ini memilih Spanyol sebagai lokasi ceritanya. Mengapa pengarang memilih Spanyol bukan negara Eropa lainnya? Spanyol merupakan negara di Eropa yang dibangun di atas dua peradaban. Selama berabad-abad, Spanyol menjadi ibukota Dinasti Umayah yang ber-ibukota di Cordoba tempat kediaman Filosof Ibnu Rusyd alias Averoes yang mengembalikan Aristoteles dan para filosof Yunani kepada murid-murid Eropanya. Setelah jatuhnya Cordoba, maka Spanyol dibangun ulang kembali menjadi peradaban Katolik terkemuka. Di Spanyol tepatnya di kota Barcelona terdapat berbagai bangunan kolosal karya arsitek Gaudi yang dijadikan oleh pengarang sebagai lokasi cerita tokoh-tokohnya.

Origin bercerita mengenai petualangan Robert Langdon seorang profesor Simbolog Harvard yang diundang untuk menghadiri presentasi muridnya Edmond Kirsh, seorang ilmuwan komputer yang miliarder di Museum Guggenheim Spanyol. Kirsch yang ateis, sesumbar temuannya akan mengubah wajah dunia selamanya. Temuan yang diklaim akan menjawab dua pertanyaan fundamental eksistensi manusia itu digelar secara langsung melalui internet dan disiarkan ke seluruh dunia.

Baca Juga:  Isra’ Mi’raj dan Pengalaman Kaum Sufi

Lantas apa hubungan novel Origin dengan Madilog-nya Tan Malaka?

Bangsa Indonesia seharusnya bahagia mempunyai “Bapak Republik” seorang “futurolog” yang memakai Madilog untuk menganalisa masa depan Indonesia dalam situasi Dunia. Madilog yang diakui pengarangnya sebagai pusaka yang diterima dari dunia Barat memasukkan teori ilmu pengetahuan terdepan dalam bukunya. Teori Relativitas Einstein dan Teori Evolusi Darwin adalah yang paling penting diantaranya buat perkembangan sains hari ini.

Dalam novel Origin melalui tokoh ceritanya mengajukan pertanyaan terbesar ilmu pengetahuan: “Dari mana, Mau ke Mana, manusia dalam alam semesta ini?” Selain Gaudi yang dijadikan ikon pencerahan dari masa lalu terdapat juga penyair Inggris “William Blake” dan politikus “Winston Churchill” yang pernah mendapat hadiah Nobel Sastra karena pidato-pidatonya.

Untuk tokoh-tokoh hari ini, pengarang mengangkat Monarki Spanyol, Vatikan yang diwakili uskup Valedirno, Teknologi Informasi mutakhir, LGBT, Ateisme, Fisikawan Teoretis Stephen Hawking, Taksi on line melalui Uber, kapitalisme, dan masih banyak lagi.

Sedangkan untuk masa depan, Brown menampilkan komputer quantum yang memungkinkan terwujudnya Artifisial Inteligen yang diberi nama Winston sebagai salah satu contoh kelanjutan evolusi Manusia.

Einstein pernah berkata “Imaginasi lebih penting dari Ilmu Pengetahuan”. Perkembangan ilmu dan teknologi hari ini semua bermula dari imajinasi. Tanpa imajinasi, ilmu akan mandek berjalan di tempat tidak bisa melakukan terobosan dari keterbatasan teknologi saat ini. Imajinasilah yang menjadi “mesin waktu” untuk melampaui keterbatasan dan menjadi proyeksi masa depan. Melalui karya seni baik puisi, novel, lukisan, seni rupa, arsitektur, film, dan sebagainya imajinasi tersebut diproyeksikan dalam pikiran manusia.

Gagasan-gagasan dalam Origin ini sebenarnya jauh hari sudah pernah ditulis Tan Malaka dalam Madilog. Berbagai pertanyaan penting dalam Origin adalah hal baru sekaligus usang. Yang mengagumkan dari Tan Malaka selain imajinasi politiknya adalah imajinasi sainsnya. Ambil contoh misalnya ketika Stalin menolak Teori Relativitas Einstein karena alasan dogmatis politik, para ilmuwan Uni Soviet kala memperingatkan pemerintah bahwa Rusia tidak akan mampu mengembangkan teknologi Nuklir. Sedangkan Tan Malaka dalam Madilog telah membahas Teori Relatifas untuk dipikirkan.

Baca Juga:  Ditolak Itu, Karena Menolak

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah para politisi Indonesia pada hari ini “miskin imajinasi” dibandingkan Tan Malaka dahulu yang melihat visi Indonesia melalui Madilog? Melalui novel Origin pembaca diajak pada isu-isu mutakhir di Dunia Barat. Dahulu pada masa lampau, Tan Malaka juga pernah melakukan hal yang sama buat pembaca memperkenalkan hal yang paling mutakhir di dunia Barat, sejarah Indonesia dan Dunia, dan proyeksi Masa Depan kelak. Apa yang diceritakan pengarang Dan Brown ini juga pernah dirintis oleh Tan Malaka. Seandainya Dan Brown mengenal dan membaca Tan Malaka, boleh jadi dia akan menjadikan Tan Malaka salah seorang tokoh pahlawannya dalam ceritanya.

Di penghujung hidupnya, sebelum meninggalkan Yogya untuk pergi bergerilya ke Jawa Timur Tan Malaka berpamitan pada kawan-kawannya. Pada mereka ditinggalkannya naskah Madilog. Ini bukan sebuah buku propaganda, tapi buku yang menetapkan cara berpikir. Tan Malaka berpesan: “Madilog sebuah buku pedoman, ajal saya bukanlah kenyataan yang gawat, karena Madilog sudah ada.” Melalui Madilog lah termuat “Tan Malaka Code” yang seandainya dilaksanakan dengan konsekuen maka Indonesia telah menjadi Negara Super Power pada hari ini.

Advertisement

Popular