Connect with us

Opini

Optimisme, Inovasi dan Kemajuan Republik Indonesia

Published

on

Pada detik proklamasi diucapkan, proklamator menciptakan sesuatu yang baru: yaitu masa depan. Di belakang proklamasi adalah masa lalu: yaitu sejarah ketidakbebasan manusia. Pada detik proklamasi diucapkan, proklamator menghentikan masa lalu, dan memulai masa depan: yaitu medan kemanusiaan yang bebas. Itulah sebabnya disebut Kemerdekaan. “Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Itulah inti sarinya: “menyatakan kemerdekaan!” Sisanya, akan diurus kemudian, yaitu: “hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan (urusan-urusan) lain, akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Yang lain boleh dipikirkan nanti, tetapi kemerdekaan harus sekarang.

Momentum “menyatakan kemerdekaan” itu adalah filsafat politik tertinggi manusia, dan karena itu ia sekaligus menjadi monumen kemanusiaan: politik adalah aktivitas orang merdeka. Merdeka adalah deklarasi dari kehendak bebas, yaitu nasib tertinggi seorang manusia. Merdeka bukanlah hasil kalkulasi politik, atau negosiasi di antara pihak-pihak. Merdeka adalah suatu tindakan politik searah: mau tidak mau harus mau! Jadi, Proklamasi itu pada dasarnya adalah sumber energi sebuah republik. Ia bukan saja sebuah peristiwa historis, tetapi terlebih lagi adalah sebuah peristiwa antropologis. Yaitu realisasi maksimal kemanusiaan itu sendiri. Yang direalisasikan adalah potensi kemerdekaan manusia, yaitu bahwa manusia mampu mengatur dirinya sendiri, bukan dengan dogma keunggulan ras, bukan dengan mitos, bukan dengan doktrin-doktrin semata-mata. Kemerdekaan semakin bermakna dengan merayakan perbedaan dan toleransi dengan penuh kedamaian.

Pendidikan politik diperlukan untuk memberi isi kualitatif bagi instalasi negara modern. Pendidikan politik seharusnya mengaktifkan warganegara, dengan melibatkannya dalam debat-debat publik, dengan menggunakan sepenuh-penuhnya rasio argumentatif, agar demokrasi dapat ditanamkan dalam kebiasaan hidup sehari-hari. Penanaman nilai demokrasi yang berbasis rasionalitas warga adalah sekaligus pemastian bahwa politik akan diselenggarakan semata-mata berdasarkan pilihan bebas warganegara, yaitu berdasarkan kalkulasi-kalkulasi keadilan sosial. Dengan cara itu kita dapat mempertahankan kondisi kehidupan publik dalam tingkat persaingan ideologis modern. Dengan cara demikian kita sedang mempersiapkan dan membentuk manusia merdeka.

Baca Juga:  Sepakbola Kita: Bagaimana Bisa Lepas dari Cengkeraman Mafia?

Persaingan ideologis modern dimaksudkan untuk memproduksi proposal-proposal dan inisiatif politik yang membangun, yaitu berbagai usulan kebijakan politik yang dapat diakses dan dikritisi oleh seluruh warganegara. Kemajemukan warganegara menjadi ukuran dalam pedagogi yang memerdekakan. Kemajemukan itu juga menjadi jaminan bahwa keadilan sosial dapat diakses secara sama oleh warganegara yang berbeda. Prinsip ini menjamin bekerjanya sistem demokrasi yang menjamin partisipasi non diskriminatif pada semua tingkat pembuatan kebijakan publik.

Kredibilitas yang dimiliki pemerintahan Jokowi saat ini merupakan modal besar untuk mewujudkan kemerdekaan warganegara yang sesutuhnya. Kredibilitas adalah modal sosial sebuah pemerintahan. Dengan kredibilitas, pemerintah memperoleh energi politik untuk menjalankan negara. Kredibilitas adalah investasi untuk memperoleh legitimasi rakyat. Dalam hal ini, pemerintahan Jokowi berpijak pada kredibilitas dari rakyat, untuk menjalankan amanat kemerdekaan yang dicanangkan 74 tahun lalu.

Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan tahunan 16 Agustus 2019, merupakan upaya untuk membawa kemerdekaan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi, yakni memerdekakan manusia. Program peningkatan kualitas sumber daya manusia, melalui berbagai bentuk pendidikan, merupakan cara terbaik untuk mewujudkan cita-cita pendiri bangsa: menghasilkan manusia yang bebas dan merdeka. Manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memajukan kehidupan dan gerak bangsa ke depan. Kemajuan teknologi di masa kini dan ke depan, memerlukan manusia-manusia yang mampu beradaptasi dan menguasai perangkat teknologi dalam budaya digital yang saat ini kita hidupi. Dengan demikian kita bisa menatap masa depan dengan keyakinan dan kepastian.
Kemerdekaan merupakan ayah kandungnya optimisme, inovasi dan kemajuan.

Dirgahayu Republik Indonesia 17 Agustus 2019

Advertisement

Popular