Pasar Terapung sebagai Potret Budaya Kearifan Lokal

59
PASAR

SERIKATNEWS.COM – Pasar Terapung menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Selain aktivitas uniknya, transaksi jual beli di atas perahu di Sungai Martapura, wisatawan pun dimanjakan dengan kuliner dan buah-buahan khas daerah.

Pasar terapung yang disebut turis dengan floating market, di Kalsel ada di dua lokasi: Muara Kuin, bantaran Sungai Barito, dan di Lok Baintan, Kabupaten Banjar. Namun seiring waktu, keberadaan para pedagang berperahu atau orang Banjar mengenalnya dengan jukung, kian tergerus zaman.

Kemajuan infrastruktur, berupa akses jalan, menjadikan masyarakat lebih memilih berdagang di darat, sebab dinilai lebih menjanjikan ketimbang berjualan di atas air. Sementara generasi sekarang, tampak enggan meneruskan bisnis nenek moyangnya yang sudah dilakoni sejak ratusan tahun lalu itu. Kondisi ini juga akibat kurangnya pembinaan terhadap mereka.

“Untunglah Pemko Banjarmasin bergerak cepat mengantisipasi punahnya ikon daerahnya ini,” ujar Fitriati Rangkuti, calon anggota DPRD Kalsel untuk daerah pemilihan (Dapil) Kalsel 1 dengan nomor urut 3 dari Partai Nasdem itu.

Dapil Fitri, panggilan akrab wanita berparas cantik ini, meliputi 5 Kecamatan; Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Barat , Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Utara.

Menurutnya, Pemko Banjarmasin sudah mengambil langkah upaya pelestarian pasar terapung dengan memberdayakan pedagangnya di bantaran Sungai Martapura, dengan menggelar aktivitasnya setiap hari minggu di depan siring yang lokasinya berseberangan dengan Kantor Gubernur Kalsel.

Pemandangan berbeda setiap minggu pagi ini, akan terus bisa dinikmati warga Banjarmasin dan sekitarnya yang kerap melakukan beragam aktivitas di darat, seperti berolahraga atau sekadar berakhir pekan.

Keberadaannya mampu menyedot perhatian warga. Mereka bisa menyaksikan kumpulan puluhan pedagang menggunakan jukung yang didominasi kaum perempuan memadati bantaran sungai.

Baca Juga:  CATATAN KECIL UNTUK ABDON NABABAN

Seperti halnya pasar apung di Muara Kuin dan Lok Baintan, maka para pedagang di pasar terapung ini juga menyajikan aneka barang, seperti buah-buahan, sayuran, dan aneka makanan. Bahkan ada juga warung makan yang memanfaatkan bangunan rumah lanting yang saat ini jumlahnya makin berkurang.

“Saya terkesima dengan keberadaan pasar terapung di tengah kota ini. Selain memberikan hiburan kepada warga, juga langkah ini bagus sebagai upaya pelestarian budaya,” ujar Fitri.

Pasar terapung di tengah kota ini, lanjut Fitri, lebih semarak karena dipadati ribuan warga. Jika dibanding dua lokasi lainnya, di Kuin dan Lok Baintan, di lokasi ini sedikit memberi warna.

“Suasananya lebih menyesuaikan dengan zaman. Keberadaannya terpusat di antara kemajuan pembangunan yang pesat, seperti gedung perkantoran, pusat bisnis dan taman kota. Semoga pasar Terapung terus dikembangkan dan dilestarikan sebagai penyelamatan budaya kearifan lokal,” imbuhnya.