Connect with us

Opini

Pilpres Bukan Masalah Menang atau Kalah

Published

on

Jokowi

Di sore hari tadi, dan baru saya tonton kembali dengan seksama tayangannya, seorang Capres yang terkenal dengan tindakan grasa-grusunya segera melakukan jumpa pers pasca keluarnya hasil Quick Count dari beberapa lembaga survey. Seluruh lembaga survey tersebut memberikan hasil yang ternyata menunjukkan kemenangan Capres lawannya.

Dalam jumpa pers ini ia menyatakan kekecewaan tentang bagaimana Pilpres ini merugikan diri dan pendukungnya, yaitu dengan adanya what-so-called kecurangan seperti TPS buka siang, pemilih tak terdaftar maupun surat suara yang sudah tercoblos, yang sampai pada saat jumpa pers tersebut masih merupakan desas-desus tanpa fakta maupun kejelasan.

Perlu diketahui dan diingat kembali, kubu Capres ini lah yang senantiasa berupaya melakukan deligitimasi pada lembaga penyelenggara pemilu dan membuat isu-isu kecurangan dalam beberapa bulan terakhir, seperti SURAT SUARA TERCOBLOS 7 KONTAINER, lembaga KPU disusupi, sampai pada kasus pencoblosan mandiri di Selangor yang disaksikan oleh Panwas dari kubu 02 dan ketika ditangkap pun pelaku ditengarai berasal dari kubu mereka juga.

Hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus terjadi, atau tidak negara kita tidak pernah beranjak dewasa dalam bernegara. Kalah atau menang itu adalah hal yang biasa saja; yang penting, perbuatan baik apa yang kemudian bisa ditunjukkan sebagai warga negara yang bertanggung jawab membangun negeri ini. Menjadi berguna untuk Indonesia tidaklah harus dalam wujud sebagai pemegang jabatan.

Ketika kita sebagai warga negara biasa turut andil dalam memikirkan masa depan bangsa ini dan ikut aktif mencari solusi-solusi atas persoalan masyarakat secara khusus, dan bangsa ini secara umum, niscaya akan banyak orang-orang yang merasakan kebergunaan dan kemampuan kita. Atas dasar itulah kemudian orang-orang tersebut menularkan rasa kepercayaan pada diri kita kepada anggota masyarakat lain, sehingga akhirnya membentuk suatu komunitas solid yang mendukung kita secara sukarela.

Baca Juga:  Ibuku, Guruku, Pahlawanku¬†

Itulah yang sudah dilakukan oleh Joko Widodo sebelum ia menjadi seorang Presiden Indonesia yang dicintai hampir seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Ia membangun kepercayaan dengan menjadi berguna untuk orang lain. Ia membangun kedekatan dengan kawan-kawannya dalam komunitas pengrajin kayu. Kemudian ia didaulat untuk bergabung dengan salah satu partai besar di Indonesia.

Dengan prestasi dagangnya yang merambah sampai keluar negeri, ia mendapatkan kekaguman masyarakat dan petinggi partai yang kemudian mengajukannya sebagai kandidat walikota Solo. Setelah dua periode berhasil membangun kota Solo, dengan mendapatkan 90% suara masyarakat sebagai pendukungnya di periode kedua, ia kemudian diajukan untuk masuk dalam persaingan pemimpin Ibukota Jakarta.

Dengan prestasinya yang terbukti dalam membangun kota Solo, dan kesederhanaan serta kesigapannya dalam mengatasi masalah, ia terpilih memimpin ibukota Jakarta untuk periode 2012-2017. Dua tahun berikutnya, meskipun belum menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur Jakarta, Joko Widodo dipercaya untuk bersaing dalam kontestasi Pilpres periode 2014-2019. Ia meyakini bahwa permasalahan Jakarta akan dapat diatasi dengan baik dengan kolaborasi kerja antara dirinya sebagai Presiden dan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Wakil Gubernur yang kemudian memimpin sebagai Gubernur periode 2014-2017.

Meski dengan berbagai cemoohan, fitnah dan hoax, Joko Widodo berhasil melalui satu periode jabatannya dengan prestasi gemilang. Ia mampu menjalankan proyek infrastruktur pembangunan jalan yang menghubungkan daerah-daerah kota dan desa serta memintas waktu tempuh yang memudahkan masyarakat untuk saling berinteraksi. Bukan itu saja, Joko Widodo juga sekaligus mengintegrasikan sarana prasarana teknologi digital dengan pertumbuhan masyarakst Indonesia sebagai negara agraris dan maritim.

Joko Widodo melibatkan millenial, yaitu generasi muda yang merupakan bonus demografis pada tahun-tahun belakangan ini. Dengan ide-ide cemerlang serta semangat para millenial, Joko Widodo menyinergikan setiap pertumbuhan dan perkembangan ke arah Indonesia Maju. Dia tidak terhentikan dalam mengejar ketinggalan bangsa ini dari negara-negara lain, dan ia memiliki cita-cita besar untuk Indonesia.

Baca Juga:  Masa Indah Berbulan Madu dalam Sistem Demokrasi

Itulah yang membedakan seseorang yang memiliki visi misi dan langkah strategis dibandingkan orang-orang yang hanya menuruti hawa nafsu tapi tak memiliki kemampuan yang mumpuni. Bila seseorang belum dipercaya dalam kontestasi 2014, ia seyogyanya berusaha menunjukkan kemampuan administratif, manajerial dan pemecahan masalahnya kepada masyarakat. Bukan malah mencari-cari kesalahan lawan yang mengalahkannya dengan ditambahi hoax, fitnah serta caci maki yang kerapkali dilakukan para pendukungnya.

Dan tampaknya, dalam kontestasi 2019 ini orang dan kelompok yang sama tidak juga belajar dari pengalamannya, dan malah mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Mereka kembali lagi berupaya menimpakan kesalahan pada orang lain: KPU maupun lawan politiknya. Mereka sudah meyakini akan menang, mendahului takdir Tuhan, dan menolak bila kenyataannya mereka kalah. Mereka mengancam akan melakukan agitasi massal dengan jargon “people power” alih-alih mengikuti prosedur pelaporan bila memang ada kecurangan.

Entah kapan Indonesia akan terbebas dari kebodohan masif dan terstruktur macam ini. Tugas pemerintah Presiden periode 2019-2024 ini teramat berat, bukan lagi membangun benda mati tetapi membangun jiwa dan logika makhluk hidup bernama manusia Indonesia. Kita sudah harus gerak cepat untuk meng-upgrade kecerdasan literasi dan penalaran kita, juga moralitas dan kebijaksanaan sebagai manusia. Dengan demikian, pada pemilihan berikutnya setiap manusia Indonesia dapat benar-benar menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan intelektual visioner, dan bukan hanya karena sentimen emosional semata.

Advertisement

Popular