Connect with us

Opini

Politik Post Truth: Sukses di Barat Kurang Berhasil Di Indonesia

Published

on

Tema Post Truth yang sudah dua tahun ini trend di Amerika Serikat dan Inggris kelihatanya sudah masuk ke Indonesia. Secara ilmiah post truth politik merujuk pada perdebataan atau konstetasi politik yang dipenuhi dengan unsur false news atau fake news, kebohongan, propaganda palsu, bahkan fitnah untuk mempengaruhi opini publik para pemilih.

Post Truth politik di Indonesia sudah berlaku dalam, politik pasca kebenaran sudah sedemikian rupa itu membuat masyarakat percaya akan kebohongan yang terus menerus disampaikan. Untuk mengatasi fenoma politik paska kebenaran masyarakat sebaiknya menyiapkan kekuatan “Ingatan Kolektif” untuk mencegah terulangnya kekerasan, seperti apa yang disampaikan Maurice halbwachs (1877-1945) pada tahun 1950 diterbitkan post-hume bukunya berjudul La Memoire Collective (ingatan kolektif) pemikiran tentang ingatan ini bagi Halbwach merupakan perjuangan politik.

Strategi politik yang dilakukan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, terlihat berulang-ulang mengeluarkan False News dan Fake news, puncaknya saat memberikan konfrensi pers atas penganiayaan terhadap Ratna Sarumpet September 2018 silang dan Issue surat suara tercoblos 7 kontainer di Tanjung Priok awal tahun ini, yang jelasnya hanya sebagai berita hoax yang dibuat secara sistematis,

Dari situ, saya melihat dalam model kampanye Prabowo – Sandiaga ada mis hubungan antara ilmu politik dan etika sebagai suatu hubungan yang membatasi ilmu politik, terutama praktek politik. Etika mengatakan apa yang harus dilakukan, tetapi disamping itu menetapkan batas-batas, pada apa yang wajib disiarkan. Etika memberikan moral pada politik. Hilangnya etika BPN Prabowo-Sandi maka akan kita dapati politik yang bersifat “Machiavellistis”, yaitu “politik sebagai alat untuk melakukan segala sesuatu, baik atau buruk, tanpa mengindahkan kesusilaan“.

Mengamati strategi politik terbaru dari pasangan usungan partai Gerinda adalah pidato kebangsaan Prabowo Subianto, pada senin (14/1), saya mencoba menangkap isi komunikasi politik, pesan politik hanya membawa sebuah ingatan pada koalisi masa Pemerintahan Orde Baru, karena terlihat hadir seperti anak mendiang Presiden Suharto, Titiek Suharto mewakili Partai Berkarya sebagai koalisi yang mengusung Prabowo-Sandi. Pidato Prabowo yang berjudul “Indonesia Menang” mencoba merasionalisasikan keadaan Indonesia dan ia merelevansikan dengan visi misi dihadapan para pendukungnya di Jakarta Convetion Center.

Baca Juga:  Menyambut Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin

Pernyataan calon presiden nomor urut dua tersebut, menggunakan gaya komunikasi politik dengan bahasa hiperbola politisi, komunikasi hiperbola ini sengaja agar menjadi perbincangan publik. Strategi kampanye semacam ini dinilai dapat menurunkan kualitas demokrasi karena masyarakat sulit membedakan kondisi rill dan dan kabar bohong (hoax).

Keadaan Prabowo dihadapkan pada realitas bahwa mereka (koalisi) tidak boleh hanya berbahasa yang sederhana dan biasa-biasa saja, apalagi pesaing petahana Joko Widodo merupakan seorang politisi yang berbahasa sederhana. Maka dari itu bahasa hiperbola sangat tepat untuk kondisi politisi Indonesia yang berwabah exaggerating (membesar besarkan) dan pretending (sok tahu) ini juga terjadi dihampir semua Negara demokratis.

Secara kajian psikologis tipe Pidato Prabowo malam itu merupakan State Explanations (Penjelasan mengenai keadaan) tipe ini berfokus pada pernyataan pikiran berdasarkan pengalaman-pengalaman seseorang dalam jangka waktu tertentu. Komunikasi ini dipakai karena individu pada dasarnya tidak stabil, berubah-ubah, dan tidak kekal. Ketika pidato prabowo mulai mengarah kepada seseorang, kelompok, atau partai politik tertentu, mereka akan cenderung memberikan perhatian lebih dan lebih percaya diri untuk menjelaskan.

Pidato selama 1 jam 23 menit itu dapat dipahami sebagai pembuataan Opni Publik semata, sebelum debat capres dan cawapres pada Kamis 14 Januari mendatang, setelah fake news dan false news yang dilakukan berulang-ulang oleh BPN Prabowo-Sandi, pidato “Indonesia Menang” adalah senjata muktahir untuk membuat opini publik, menurut Lynda Lee Kaid dalam Handbook Penelitian Komunikasi, perlu disampaikan dan ditegaskan opini publik mengandung banyak makna berbeda bisa menyebabkan kebingungan”, apalagi setalah pidato tersebut pesan politik yang tersirat pidato belum ditangkap oleh masyarakat Indonesia malah banyak mengundang komentar negatif dari lawan politik, bahkan internal BPN Prabowo-Sandi sendiri.

Baca Juga:  May Day dan Perjuangan Politik Buruh

Replubika.com/Ratna
Katadata.id/Ameidyo
Efriza/Jerry Komunikasi Politik
Roni Tabroni Komunikasi Politik
Pengantar Ilmu Politik F Isjwara

Advertisement

Popular