Politik Psikopat Prabowo, Bahaya 22 Mei 2019 And Beyond

79

Secara manusiawi pantas Prabowo menangis. Sedih. Guling-guling. Dia adalah pahlawan yang terbuang. Untuk tidak mengatakan sampah politik Indonesia. Tiga kali maju, tiga kali kalah. Suatu derita tak berkesudahan. Nafsu berkuasa, dengan tujuan balas dendam politik ada di benaknya. Dia adalah psikopat, seperti yang disampaikan oleh Jenderal Agum Gumelar.

Buktinya? Banyak. Salah satunya, di depan publik dia suka mengancam orang lain. Dia mengancam-ancam wartawan. Media massa pun diancam. Semua media massa dia pikir bisa dikendalikan. Ketika acara kampanye terselubung acara 212 di Monas tidak diliput media, dia mencak-mencak. Tidak mau terima ketika Kompas tidak memberitakan secara masif.

Kalau masa dulu, bukti dia psikopat adalah SBY pernah digebuki ketika sekolah di AMN Magelang. Itu sebabnya dia mundur setahun dari kelulusan normal. Dia dihukum karena menghajar SBY sampai sengkleh.

Otak sengkleh Prabowo menghajar badan besar tapi lemah milik SBY. SBY tidak memberikan perlawanan karena dia paham hukum. Dia dianiaya. Prabowo dihukum. Sejak saat itu SBY adalah pelaku strategi politik jempolan. Dan, dia selalu mengatakan taat hukum, konstitusional. Dan, Gubernur AMN waktu itu Sarwo Edhie Wibowo – calon mantu SBY.

Studi dari Universitas Wisconsin-Madison menemukan kelainan otak pada psikopat. Otak psikopat pada bagian vmPVC (ventromedial prefrontal cortex) dengan amygdala putus. Padahal vmPVC – kayak nama pralon air ya – adalah alat kontrol perasaan seperti empati dan rasa bersalah.

Makanya, Prabowo tidak pernah merasa bersalah. Menculik tidak mengaku. Memukuli orang tidak merasa bersalah. Memaki-maki wartawan pun tidak merasa bersalah. Dia hidup di dunianya sendiri, menurut aturan otaknya sendiri. Bukan hukum. Bukan konstitusi. Makanya dia tidak bisa diatur. Oleh siapa pun. Makanya dia tidak memiliki teman sesungguhnya. Seperti paparan Profesor Mike King.

Orang psikopat hanya cocok berteman dengan orang yang suka mencari muka. Karena psychopat hanya senang mendengarkan yang dia suka, tidak ada ukuran nilai (value) dan aturan.

Baca Juga:  Jurnalisme yang Teruji

Maka tak salah, Prabowo dikelilingi para pengangguran seperti Martak, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Amien Rais, Kivlan Zen, Eggi Sudjana, Ratna Sarumpaet, Neno Warisman. Para orang sengkleh. Selain kaum pemuja Monas, Monaslimin 212. HTI, khilafah, PKS, yang semuanya para begundal politik yang licik.

Bahkan agama dijadikan alat provokasi – dimulai oleh Rizieq dan Ma’ruf Amin untuk menghajar Ahok, dengan fatwa MUI-nya. (Rizieq jadi pesakitan, Ma’ruf Amin wapres, karena diangkat derajatnya oleh Tim Kecil Jokowi.)

Fadli Zon sebagai bagian dari arsitek arsitek Firehose of Falsehood. Ratna Sarumpaet jadi kaki tangan. Amien Rais, manusia kufur nikmat, menjadi bagian dari arsitek kekisruhan. Dia seperti Mardani. Membuat rancangan people power. Mardani membuat hashtag 2019GantiPresiden yang sukses besar, dari sisi neuroscience politik.

Gerakan people power didorong oleh Prabowo, Sandi, Amien Rais, dkk. Dasarnya, tidak mau menerima kekalahan Pilpres 2019, tapi menerima hasil Pileg 2019. Mau enaknya sendiri. Yang menguntungkan mereka, diakui. Provokasi people power Prabowo cs sungguh membahayakan. Otak sengkleh mereka mengajarkan jihad, berjuang atas nama agama. Sampai orang Buddha macam Sungkharisma kepincut juga. Hahaha.

Jumlah orang waras di Indonesia masih lebih banyak. Orang waras baik kubu 02 atau 01 jelas tahu pemenang Pilpres 2019 adalah Jokowi-Amin. Perhitungan KPU yang transparan pun tidak dianggap benar. Karena tidak menguntungkan Prabowo. Bagi Prabowo hanya yang ada di otaknya yang benar. Lainnya salah.

Silent majority pendukung Jokowi-Amin siap menghadapi people power. TNI/Polri siaga tegas. Nah, kubu Prabowo akan menggerakkan massa lebih besar kalau ada korban. Rancangan untuk membuat chaos – dengan jatuhnya korban pada 22 Mei and beyond. Kenapa?

Baca Juga:  Radikalisme Konsep Hijrah

Lah Fadli Zon tidak mau menerima hasil Pilpres dan tidak mau mengadu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tujuannya? Makar. Menjungkalkan Jokowi dengan cara membuat chaos, kerusuhan. Membuat konflik horizontal. Perang sipil. Maka ketegasan dan kecerdasan TNI/Polri, relawan Jokowi tengah diuji menghadapi para psikopat dan pecundang.