Oleh: Aliya Zahra
SEBAGAI bulan yang penuh berkah, Ramadan begitu sakral dinantikan oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Suasana syahdu berpuasa selama sebulan penuh membawa khidmat umat Islam untuk selalu bermuhasabah diri dan berlomba-lomba pada kebaikan. Esensi dari menahan lapar saat berpuasa selama sebulan berturut-turut adalah bagian dari penguatan nilai-nilai spiritual.
Selain manfaat kesehatan, meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT selama bulan Ramadan adalah goals yang harus dicapai. Maulana, dalam The Holy Qur’an menafsirkan orang yang bertakwa itu adalah orang-orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan (M. Rojaya, 2021).
Tahapan dalam menuju ketakwaan yang hakiki tersebut merupakan satu kesatuan kegiatan positif selama Ramadan, ditambah dengan kondisi tubuh yang didetoksifikasi melalui rasa lapar. Khidmat bertadabbur, tadarus, tarawih, berbagi takjil dan memperkuat ukhuwah islamiah dengan buka puasa bersama hanya ditemui dalam nuansa Ramadan.
Aspek perenungan di sini adalah setiap gerak manusia ketika berpuasa diniatkan untuk hal yang bersifat esensial. Puasa mengingatkan untuk berhati-hati dengan makanan yang dimakan, asal-muasal barang yang hendak dimakan dan digunakan, menjaga ibadah untuk mencapai kesempurnaan puasa dan berimbas pada naiknya taraf keimanan (Hafidz Muftisany, 2021).
Penguatan Ubudiah
Secara gramatikal bahasa, ubudiah adalah proses penghambaan manusia kepada Allah SWT. Penghambaan yang didasarkan pada perasaan ikhlas untuk mencapai mahabbah pada Allah SWT dan menghilangkan tujuan tertentu, baik itu aspek duniawi atau ukhrawi. Penguatan ubudiah hanya bisa dicapai dengan ibadah yang berkesinambungan dan konsisten terlepas itu yang wajib ataupun yang sunnah.
Setiap umat Islam memaksimalkan kegiatan bernuansa Ramadan, sebab momen yang hanya sekali dalam setahun itu belum tentu bisa dirasakan di tahun-tahun berikutnya. Bulan Ramadan ibarat lahan basah untuk beribadah, dengan kondisi iman yang sering naik turun, maka manusia perlu distimulus dengan euforia ibadah yang demikian masif dan hanya ada di bulan Ramadan, seperti halnya tadarus tanpa batas waktu, berbagi rejeki, dan zakat fitrah.
Mencapai Keutamaan Ramadan
Dalam hadits riwayat an-Nasai dengan derajat shahih, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Telah datang kepada kalian Ramadhan bulan penuh berkah (syahrun mubarokun), Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya.”
Selain khidmat berpuasa, terdapat beberapa keutamaan Ramadan di antaranya ialah malam Lailatul Qadar yang dijanjikan lebih baik dari 1000 bulan. Di balik kepercayaan individual terkait dengan keistimewaan ruhaniah, momentum berlipatnya pahala ibarat pembagian takjil yang banyak diburu namun tak semuanya bisa mendapatkan.
Meskipun demikian, umat Islam wajib memahami bahwa esensi dari berbagai kelebihan bulan Ramadan adalah perbaikan budi pekerti, kualitas ibadah, dan keimanan. Bahkan lebih luas lagi, Ramadan peduli pada aspek sosial dengan mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh umat Islam tanpa terkecuali.
Mencapai keutamaan Ramadan berarti telah berhasil mencapai kemenangan.
Penulis: Mahasiswi TI Universitas Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...