TERKADANG sebuah rumah tampak penuh sesak, bahkan gaduh sesekali. Itu bukan karena penghuninya berubah jahat, tetapi karena temboknya makin rapuh dan barang-barangnya semakin banyak. Mereka bingung harus menaruh dan menata seperti apa. Bahkan dinding yang lembap membuat penghuninya mudah sesak, masuk angin, apalagi kalau musim hujan. Jika pun tidak bocor, kadang airnya nyiprat melalui celah-celah daun pintu dan jendela.
Rumah adalah hunian yang – di mana penghuninya merasa aman, tenang, berlindung dan saling mengasih sayang kemanusiaan. Apa yang dicari di luar rumah, semata untuk seluruh penghuni rumah. Bukan untuk dirinya sendiri, apalagi digunakan untuk nggaya, mletre di depan tetangga. Pada intinya, rumah ada irisan penting dalam kehidupan untuk mempraktikkan rahmatan lil alamin.
Seperti rumah besar bernama Nahdlatul Ulama (NU), rumah yang didirikan para kiai dengan misi kemaslahatan, misi kemanusiaan, pendidikan dan keyakinan, bukan oleh strategi politik. Jika pun ada kepentingan, maka kepentingannya adalah bersama.
Saya membayangkan suatu sore di halaman pesantren, para pendiri NU duduk melingkar. KH. Hasyim Asy’ari tidak berkata banyak, hanya mengelus tasbihnya. KH. Wahab Hasbullah tersenyum kecil, seperti menyembunyikan kecemasan manis. Mereka membicarakan umat yang butuh bimbingan, bukan organisasi yang butuh kedudukan. Mereka sedang memikirkan bagaimana agar Islam tetap lembut, tetap membawa rahmat, tetap punya akhlak, bahkan ketika zaman menantang penuh nganga yang besar tentang kecongkakan.
NU lahir dari obrolan yang tidak butuh mikrofon, tidak butuh wartawan, dan tidak butuh panggung besar. NU lahir dari hati yang jernih dan rasa takut kepada Tuhan yang lebih besar daripada takut kehilangan jabatan. Tetapi sekarang, rumah besar itu sedang ribut, gaduhnya menyelinap sampai di timbunan kayu yang mengalir bersama banjir di Sumatera kemarin. Bahkan, sampai saat ini riuh itu semakin tegang.
Ada suara dari timur, suara dari barat. Ada yang merasa sah, ada yang merasa salah. Ada yang membuat keputusan, ada yang merasa keputusan itu bukan miliknya. Lalu media datang seperti burung-burung lapar yang memungut remah-remah keributan.
Tiba-tiba rumah itu tampak bising di luar, padahal di dalamnya sesungguhnya tetap banyak orang yang tenang. Para santri yang mengaji, dan para muslimat yang mendoakan. Para kiai kampung yang tidak punya waktu memikirkan konflik karena sapi ternak mereka harus diberi makan, melingkar bersama masyarakat dari langgar satu ke langgar lainnya. Nyaris tidak ada waktu memikirkan tambang, jabatan bahkan berebut benar sekalipun.
Konflik itu wajar. Rumah besar kadang memang retak di beberapa sudutnya. Ada yang retak karena gempa, ada yang memang konstruksi bangunannya. Sayangnya, retakan itu dijadikan tontonan, dipertontonkan seakan kita lupa bahwa dinding itu dibangun oleh doa orang-orang yang sudah tiada. Retakan itu bukan lagi ditambal, melainkan dipertunjukkan, diramaikan, di-share di sosial media pribadi masing-masing. Bahkan, sekarang sudah PD menggunakan identitas “official” di belakang akun sosmednya.
NU ini bukan untuk berebut takhta. NU adalah bentuk cinta. Para pendiri NU ingin pesantren tetap hidup. Mereka ingin suara Islam tidak keras, tidak menghukum, dan tidak melotot. Mereka ingin Islam yang menyerupai angin; tidak terlihat, tapi menyejukkan. Mereka ingin umat punya arah spiritual tanpa meninggalkan modernitas yang bergerak cepat. Mereka ingin umat punya kedewasaan yang lahir atas kepekaan dan sensitivitas dirinya, bukan hanya dogma-dogma dan fatwa.
NU bukan didirikan untuk menjadi pintu masuk politik kekuasaan, juga bukan untuk menjadi gudang bagi ambisi-ambisi duniawi. NU didirikan untuk menjaga moral, akhlak, tradisi, keseimbangan, harapan, dan budaya. Point utamanya adalah tata tentrem karta rahhardja, baldatun tlayyibatun wa rabbun ghafur.
Ketika hari ini ada yang ribut soal kursi, jabatan, atau legitimasi, bahkan ngeyel tambang yang nyata-nyata menunjukkan kecongkakan dan kerusakan lingkungan, kita sebaiknya mengingat satu kalimat pendek dalam perjalanan sejarah bahwa: “NU adalah ladang akhirat. Jika kau mencangkulnya untuk dunia, tanah itu akan menolakmu.”
Lalu bagaimana menyembuhkan retak itu? Tidak dengan saling mengalahkan. Tidak dengan mengumpulkan massa. Tidak dengan menekan, memojokkan, atau menjatuhkan.
Rumah yang retak, tidak akan selesai karena penghuninya makin keras teriak. Ia akan kembali kokoh, bahkan retakannya hilang ketika mereka duduk bersama, menata ulang, membuka pintu, lalu membiarkan angin masuk untuk menyejukkan.
Islah itu bukan pertemuan formal. Islah adalah kelembutan hati. Islah adalah kesadaran bahwa kebenaran tidak akan pernah bisa dimiliki oleh satu pihak. Islah adalah pengakuan bahwa kita semua manusia yang bisa salah, dan karena itu harus saling memaafkan.
Audit dilakukan bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk merapikan. Dialog dilakukan bukan untuk memenangkan, tetapi untuk menenangkan. Muktamar luar biasa, jika pun harus ada, itu bukan untuk mengulang perebutan, melainkan untuk mengembalikan rumah pada keseimbangannya.
NU masa depan adalah NU yang rapi secara administrasi, namun tetap lembut secara jiwa. NU yang melek digital, tapi tetap setia pada tasbih. NU yang kuat secara organisasi, namun tidak kehilangan akhlak warisan pesantren. Karena dunia sedang bergerak cepat, dan umat menunggu siapa yang bisa memandu mereka tanpa marah-marah, tanpa pamer ilmu, tanpa memaksa kehendak melainkan dengan kasih sayang.
Dan NU selalu punya modal itu, kiai-kiai yang tidak ambisius, santri-santri yang sabar, dan jamaah yang setia. Bagi kiai kampung dan warga masyarakat di akar rumput, “NU ini seperti lampu teplok. Kadang cahayanya kecil, kadang besar, tapi ia tetap menerangi.” Maka ketika rumah NU sedikit gaduh hari ini, sesungguhnya kita tidak perlu terlalu takut. Lampu itu tidak sedang padam. Lampu itu hanya sedang ditimpa angin.
Tinggal kita jaga sumbunya, kita benarkan kacanya, dan kita tiup perlahan agar apinya kembali stabil. Rumah besar ini tetap rumah kita. Tempat kita pulang. Tempat kita belajar bagaimana menjadi manusia. Dan selama masih ada doa para ibu, istighfar para santri, dan kesabaran para kiai—NU tidak akan ke mana-mana. Ia hanya sedang menata diri.
Bukankah setiap rumah besar memang begitu? Retak sedikit, ribut sebentar, lalu kembali utuh karena cinta para penghuninya lebih besar daripada masalahnya. Dalam bahasa Gus Dur “NU lahir untuk merawat yang sudah ada dan memperjuangkan yang belum ada.” Oleh karena itu, yang sudah ada di dalam rumah, sangat perlu memahami kepentingan menjaga bersama, ada kesalingan yang harus dibangun, bukan saling menjatuhkan bahkan mengumbar-umbar aib penghuni rumah.
Mahhadtanin nusha laakin lastu asma ‘uhu, Innal Muhibba ‘anil ‘udhdhaali fii samami, wallahu a’lam.
Sedang Nyantri di Bayt Al-Karim Gondanglegi dan Bayt Al-Hikmah Kepanjen Malang
Menyukai ini:
Suka Memuat...