Syirik Dalam Fanatisme Agama

310

Syirik adalah perbuatan yang bermaksud menyamakan sesuatu selain Allah dan disandingkan pada Allah dalam hal rububiyyah (menyekutukan-Nya di dalam perbuatan-Nya) dan uluhiyyah (menyekutukan Allah di dalamm peribadahan hamba-Nya). Secara Etimologi, syirik berarti persekutuan yang terdiri dari dua atau lebih yang disebut sekutu. Sedangkan secara terminologi, syirik berarti menjadikaan bagi Allah tandingan atau sekutu. Dalam Islam sendiri, syirik adalah dosa yang tidak bisa diampuni kecuali dengan pertobatan dan meninggalkan kemusyrikan itu sejauh-jauhnya dan tidak akan pernah mengulanginnya kembali.

Dewasa ini yang kita sama-sama ketahui pesatnya perkembangan teknologi dan informasi sangat mendekatkan kita pada prilaku syirikan, bagaimana bisa? Bukannya dengan dilihat dari masa sekarang ini orang-orang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu agama sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya, dengan mengakses melalui apa saja, seperti media sosial, buku-buku diperpustakaan, jurnal-jurnal dalam internet dan lain sebagainya. Ternyata disamping itu, dengan era yang semakin berkembang ini pun banyak bermunculan konflik-konflik agama, salah satunya adalah seseorang yang mulai dan sangat fanatis terhadap agama yang mereka anut ataupun mereka percaya. Hal ini terjadi karena deras nya informasi yang di serap publik atau masyarakat sekitar tanpa adanya filterisasi terhadap berita tersebut.

Fanatisme sendiri adalah keyakinan ataupun kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya). Fanatisme agama berarti keyakinan ataupun suatu kepercayaan yang sangat terhadap suatu agama. Fanatisme lebih kepada perilaku ataupun keyakinan yang sudah terkunci dalam otak manusia yang sulit dirubah karena tertutupnya otak dalam mekasisme kritisasi terhadap keyakinan, yang mana malah melahirkan sikap antitoleransi. Dimana orang-orang yang terlalu fanatik terhadap agama atau ajaran di dalam agama seolah-oalah apa yang mereka lakukan berangkat atas nilai-nilai fundamentalis atau nilai dasar suatu ajaran, tetapi pada realitasnya sangat banyak kejanggalan, fanatismen akhir-akhir ini banyak menimbulkan pertikaian secara nyata maupun didunia maya (bullying) yang mengatas namakan kebenaran agama.

Baca Juga:  Terima Kasih Pada Ahok, Untuk Pendidikan Politik Anggaran Daerah

Mulai banyaknya konflik yang di hasilkan oleh sikap fanatisme yang negatif, ketika kesadaran berada diluar batas wajar yang akhirnya menyebabkan konflik antar sesama. ketika sampai puncaknya seseorang fanatis terhadap suatu agama melahirkan perilaku yang membahayakan orang lain. Yang mana agama sebenarnya mempunyai nilai dasar damai, kasih sayang, keharmonisan kepada semua mahluk, dan bagaimana kita menyikapi persoalan-persoalan yang ada didunia ini. Apalagi agama adalah isu yang sangat sensitif dalam diri setiap orang, karna agama adalah suatu bentuk nafas manusia, yang mana ajaran dan pedoman hidup seseorang tergantung pada agama mereka, sesuai dengan agama mereka.

Banyaknya kasus ataupun kejadian seperti seseorang ataupun kelompok merasa agama nya lah yang paling benar, yang patut dijadikan kepercayaan semua orang, dan meninggalkan sikap tasamuh (toleransi), mengagung-agungkan bahwa agamanya lah yang satu dan paling benar, yang pada akhirnya bisa berujung pada perilaku saling serang bahkan sampai kepada tindakan yang paling ekstrem yaitu pembunuhan terhadap seseorang atau kelompok penganut tersebut. sangat disayangkan ketika hal-hal negatif tersebut menjadi ujung dalam ke fanatismean kita terhadap agama kita sendiri.

Sebenarnya ketika hal ini terjadi, biasanya disebabkan oleh kurang pahamnya seseorang secara baik dan benar pada hakikat agama itu sendiri. dewasa ini berdasarkan hasil diskusi penulis dengan beberapa kelompok yang memiliki fokus terhadat kasus serupa (fanatisme agama), banyak orang-orang yang baru belajar tentang agamanya secara lebih dalam dan merasa dalam masa pencerahan yang luar biasa yang mana menurutnya sebagai saat yang amat sangat berharga, sehingga mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi dirinya menurut agama yang sudah ia pelajari dan tentu rasa ingin mengabarkan (dakwah) kepada sesama saudaranya apa yang sudah ia ketahui tentang pengetahuannya, dan rasa ingin membenarkan hal-hal yang berkaitan dengan agamanya, tentu sesuai dengan pengetahuan agama yang ia peroleh.

Baca Juga:  Anarkisme Dan Proyeksi Gagasannya

Ada juga seseorang yang mencerna petuah-petuah dan ajaran agama secara mentah-mentah tanpa proses filterisasi terlebih dahulu melalui seorang guru agama, tanpa mencari tahu pendapat lain tentang hal tersebut karna sudah sangat kagum dan mempercayai gurunya tersebut dan merasa gurunya tersebut adalah salah satu orang yang sudah mengubah hidupnya, mengubah cara pandang dan berfikirnya tentang agama, dan ia mulai melakukan perubahan pada dirinya sendiri secara lebih mendasar sampai menganggap bahwa dirinya lah yang paling paham dan mengerti tentang agamanya, bahkan mengkafirkan dan menyalahkan orang yang tidak sependapat ataupun tidak sama aturan ataupun cara beribadah nya dengan dirinya tersebut, padahal dirinya belum mempelajari sampai pada dalam konteks apa ayat dan hadis yang sudah ia pelajari itu diturunkan, dalam hal apa ayat dan hadis itu diturunkan, untuk menjawab persoalan apa hadis dan ayat itu diturunkan, dan sebaginya.

Dan melihat pada zaman sekarang ini, bukanlah zaman yang sama seperti islam yang ada pada zaman Nabi Muhammad dahulu kala, zaman sekarang ini agama islam pun sudah ada dalam beberapa mahzab yang ada pada islam sekarang ini, dan tentu persoalan-persoalan sekarang yang terjadi bisa lebih sulit, dan dimana tidak bisa melihat ataupun mengambil hanya dari satu pemahaman yang ada. Hal-hal yang seperti ini sangatlah mengerikan tentunya.

Melihat dari isu-isu yang sudah terjadi, untuk mencegah hal tersebut agar tidak terulang adalah bagaimana kita harus membuka fikiran kita selebar-lebarnya, dan tentu harus bisa menerapkan sikap tasamuh, karna yang hidup didunia ini bukan hanya kita saja kita hidup pada masyarakat heterogen, dan tiap orang mempunyai pendapat dan pemahaman yang berbeda-beda, yang tentu tidak bisa kita pungkiri. Jadi kita harus bisa menerima pendapat orang lain dan tidak merasa bawah diri kitalah yang paling benar. Belajar tentang agama sejak anak-anak adalah pilihan yang sangat mengurangi resiko-resiko seperti hal-hal yang sudah terjadi, yang mana mengurangi rasa baru mengetahui secara dalam ajaran-ajaran agama dan ingin melakukan pemebenaran-pembenaraan sesuai dengan pengetetahuanya (norak) dan mengurangi kepatuhan buta hanya pada satu guru saja.

Baca Juga:  Dilema Demokrasi Terhadap Kaum Radikalisme Ekstrem Kanan

Daftar Pustaka

  • Kimball, Charles. 2003. Kala Agama Menjadi Bencana. Jakarta Selatan: Mizan Publika.
    Hardian, Siroj. 2000. Bahaya Syirik. Bandung: Pustaka Ibnu Umar.
    Wongkaren, Zora A. “Agama dan Fanatisme Berlebihan” . 27 November 2018.
    Agama dan Fanatisme Berlebihan
    Tanpa Nama, “Syirik” Wikipedia. 27 November 2018.
    http://id.m.wikipedia.org/wiki/syirik