Pearl S. Buck, Feminis Penjelajah Tradisi Timur dan Barat 

589

Angin Timur: Angin Barat, novel racikan penulis Amerika Serikat Pearl. S Buck. Perempuan pertama peraih Nobel Sastra yang membawa orang melintasi tradisi timur dan barat.

Tradisi Cina bertemu dengan pikiran-pikiran barat (Amerika Serikat). Buck meramu cerita dengan kuat lewat gambaran tradisi Cina yang bertentangan dengan kesetaraan gender. Perempuan-perempuan Cina zaman kerajaan mesti menanggung rasa sakit. Mereka menjadi selir raja, bersaing berebut kuasa. Selir pertama biasanya punya pengaruh kuat.

Dunia kerajaan dunia yang kolot. Keturunan mereka patuh pada tradisi kerajaan. Bila puteri kerajaan beranjak dewasa, maka mereka wajib patuh ketika dijodohkan dalam perkawinan. Buck menyuguhkan karakter seorang perempuan Cina (Kwei-lan) yang dijodohkan dengan seorang dokter Cina. Sang dokter anti-dogma-dogma dalam tradisi Cina. Ia seorang intelektual yang punya latar pendidikan barat.

Kedua pasangan yang dijodohkan menikah. Perempuan Cina keturunan raja berusaha tampil cantik sesuai tradisi Cina. Kaki-kakinya mungil diikat. Sejak anak-anak, ia menahan rasa sakit demi kaki-kaki mungil sesuai tradisi Cina. Tapi, suaminya yg seorang dokter tak suka. Ia melepaskan tradisi-tradisi itu. Sang dokter melepas ikatan di kaki isterinya.

Konflik kembali muncul. Perempuan Cina itu punya kakak yang berpendidikan ala barat. Keluarga kerajaan menjodohkannya dengan kerabat kerajaan. Si kakak menolak. Dia tak mau dijodohkan dan lebih suka memilih calon pendamping hidupnya sendiri. Ia berpacaran dengan perempuan barat (Mary). Perempuan barat dari negeri Paman Sam ini digambarkan bebas bicara. Kedua pasangan itu menentang tradisi keluarga kerajaan.

Ibunda kerajaan marah bukan kepalang. Ia tak setuju dengan pilihan sang anak. Pertengkaran terus terjadi antar-ibu dan anak. Perempuan barat itu berusaha mengikuti keinginan ibunda, memakai pakain Cina sewaktu datang ke kerajaan. Ia berusaha mengambil hati sang ibu. Tapi gagal.

Baca Juga:  MENEGASKAN SIKAP ANTI KORUPSI SEBAGAI BAGIAN DARI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PANCASILA

Sang anak lelaki kerajaan keras kepala. Ia tetap mempertahankan pilihan hidupnya, perempuan barat dengan pikiran-pikiran bebas. Ibunda kerajaan tak kuat menanggung perlawanan anaknya. Ia sakit keras hingga ajal menjemputnya.

Fyodor Dostoevsky, Penggerutu dari Rusia

Novel klasik garapan perdana Dostoevsky mengisahkan orang-orang miskin dalam situasi sosial politik Rusia yang tidak menguntungkan. Waktu itu Tsar berkuasa. Dia mengisahkan seorang juru tulis, Devuskhin yang sering diolok dan miskin. Devuskhin yang malang hanya memakai mantel bolong ketika dingin udara menyergap. Ia mengatasi rasa sakit diejek dengan mabuk-mabukan. Padahal, ia tak punya banyak duit. Devuskhin merasa sebagai keset, gombal tak berguna.

Ia menjalin kasih dengan seorang perempuan yatim piatu, Varenka. Perempuan ini juga hidup serba terjepit. Ia miskin dan sakit-sakitan. Devuskhin dan Varenka sama-sa menyukai sastra.

Mereka sama-sama hidup susah. Mereka berjauhan dan menjalin komunikasi lewat surat menyurat. Keduanya sering mengirim buku satu sama lainnya. Mereka membaca karya-karya Shakespeare dan Puskhin. Dalam surat-surat itu, mereka membahas karya-karya sastra.

Varenka suka sekali menulis dalam kondisinya yang terhimpit. Ia harus bekerja sebagai tukang jahit demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu ketika, kondisi Varenka semakin buruk. Dia sakit-sakitan.

Devuskhin sangat sedih. Kondisinya pun buruk. Ia tak punya banyak uang untuk membantu kekasihnya. Varenka yang semakin sakit keras tak punya pilihan. Di penghujung kisah, ia terpaksa menerima pinangan seorang tuan tanah.

Devuskhin semula kecewa dan meminta Varenka tak menerima pinangan tuan tanah. Di mana harga diri Varenka? Tapi, Devuskhin tak bisa berbuat apa-apa. Ia mendoakan agar Varenka bahagia dan bisa mengatasi situasi setelah ia menikah dengan si tuan tanah.

Dostoevsky tampaknya lihai menggambarkan kondisi psikologis yang dialami hampir semua manusia. Manusia-manusia miskin pun sama seperti orang-orang kaya. Mereka berusaha mempertahankan harga diri di tengah situasi yang sulit.