Capek dengan banyaknya hoax yang beredar akhir-akhir ini? Bahkan bukan hanya capek, tapi juga bingung? Berarti tujuan sang penyebar hoax telah tercapai, karena penyebaran hoax itu tujuannya bukan untuk dipercaya, tapi untuk membingungkan masyarakat percaya mana yang benar, mana yang hoax. Bahkan kini mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris pun sudah tahu apa arti “hoax“, istilah yang hampir sepopuler “Google”, “email” dan … “which is“, yaitu “berita bohong”, lebih singkatnya bisa juga disebut fitnah.
Penyebaran fitnah dalam kampanye Donald Trump dan Jair Bolsonaro di Brazil terbukti ampuh memenangkan mereka. Strateginya adalah dengan “Firehose of Falsehood” (FoF) atau terjemahan Budiman Sudjatmiko yaitu “Semburan Dusta”, dengan mengambil prinsip dasar strategi propaganda Goebbels: “Jika anda mengulang kebohongan terus menerus, orang-orang akan percaya, dan bahkan anda juga akan mempercayainya”. Strategi ini digabung dengan dua metode lain, yaitu “playing victim” (meminta kasihan karena menempatkan diri menjadi korban) dan “menyebar ketakutan”.
FoF telah mengembangkan prinsip Goebbels jauh lebih canggih. Kini hoax harus dilancarkan secara agresif dan dengan frekuensi yang tinggi, dengan tema yang berbeda-beda untuk bisa efektif. Semakin dekat ke Pemilu, semburan fitnah ini harus semakin gencar untuk membuat masyarakat semakin bingung. Menurut infopresiden.com, Kementerian Kominfo telah mengidentifikasi 25 hoax di media sosial sejak Agustus 2018 yang sudah diidentifikasi, diverifikasi dan divalidasi. Meningkat di Desember 2018 sebanyak 75 hoax, Januari 2019 sebanyak 175 hoax, Februari sebanyak 353 hoax dan Maret semakin naik menjadi 453 hoax. Hal itu disampaikan Menteri Rudiantara seusai menjadi Jurkam kampanye Pro Jokowi, di Alun-alun Wates, Kabupaten Kulon Progo Minggu (7/4/2019) kemarin. Bulan April inilah “kunci”nya, dan sediakanlah payung yang banyak karena kemungkinan payung anda akan jebol dengan derasnya semburan fitnah.
Saat ini di Indonesia sudah banyak tema fitnah, tapi yang sudah lama dan melekat di otak mereka yang terkena hoax antara lain; bahwa Jokowi adalah anggota PKI, keturunan Cina, bukan Islam, menjual aset negara, dsb. Kenyataannya PKI bubar tahun 1965 sewaktu Jokowi berusia 4 tahun, keluarga Jokowi Islam, Jokowi selalu salat dan bisa mengaji bahkan menerima tantangan Ikatan Dai Aceh (sudah tradisi bahwa pemimpin di Aceh harus bisa mengaji dengan fasih), Jokowi mengembalikan 51% saham Freeport ke Indonesia. Tapi, di antara fitnah dan kenyataan ini manakah yang benar, manakah yang mau dipercaya oleh kebanyakan orang yang tidak dapat (atau malas) mengecek kebenarannya? Padahal justru Capres Prabowo sendiri yang sudah mengakui bahwa ibunya Nasrani, beliau lahir dari rahim Nasrani, lingkungan Nasrani. Setiap Jumat kita bisa lihat Jokowi salat Jumat, dan Prabowo hampir tidak pernah. Tapi, ini kekuatan strategi FoF. Banyak yang masih berpikir bahwa Jokowi yang bukan, bahkan anti Islam.
Mungkin mereka yang percaya fitnah kita anggap bodoh, tapi justru itu letak kekuatan penyebaran fitnah. Kebodohan adalah kekuatan yang lebih tangguh, apalagi dalam jumlah yang besar. Anda mungkin sering menang dalam berdebat dengan orang pintar, tapi coba saja berdebat dengan orang bodoh. Anda pasti kalah, karena sangat sulit dan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk mengubah pandangan dan pemikiran orang bodoh, apalagi yang sudah termakan fitnah. Fakta tidak penting lagi, yang penting adalah apa yang dirasakan dari “fakta” tersebut, benar atau tidak.
Strategi ini kelihatannya sangat “kuno”, karena saat ini sudah ada internet di mana setiap orang bisa mengecek kebenaran suatu berita. Tapi, apakah semua orang memang mau mengeceknya? Belum tentu. Apalagi akan sangat sulit mengecek kebenaran berita yang simpang siur, dengan berbagai versi. Namun, apa yang harus dilakukan sang pembohong saat kebohongannya ketahuan? Kita mengambil contoh metode Trump. Ia akan mengakuinya, tapi di saat itu juga Trump menuduh lawan bahwa lawan juga pembohong. Ini terjadi misalnya saat kampanye awal di konvensi partai Republikan. Trump justru memanggil lawan tangguhnya, Ted Cruz, sebagai “Lyin’ Ted”. Ia juga berkali-kali menjuluki “Crooked Hillary” (Hillary yang bengkok/tidak jujur). Tujuannya adalah menunjukkan ke publik bahwa semua orang juga berbohong. Trump juga akhirnya mengakui bahwa Obama lahir di Amerika Serikat, setelah sebelumnya ia terus melakukan fitnah bahwa Obama lahir di Kenya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Trump dan kubunya meminta maaf jika memang ketahuan, tapi kubu lawan tidak pernah meminta maaf. Masalahnya, kubu lawan itu tidak menyebarkan fitnah, jadi mau maaf untuk apa? Tapi dengan strategi ini, Trump kelihatan “manusiawi” dibandingkan kubu lawannya yang selalu memegang teguh pendapatnya (yang memang adalah fakta), dan itu akan menyentuh hati banyak orang. Data dan fakta terbukti tidak sepenting opini, dan kalau rakyat sudah bisa diambil hatinya, mereka akan secara buta mengikuti opini orang yang mereka jadikan panutan, lepas dari benar atau salahnya opini tersebut.
Apakah pemimpin pengguna FoF ini yang akan kita pilih? Atau pemimpin yang kerja nyata sekuat tenaga, meskipun difitnah sedemikian rupa? Bagaimanapun, jika sang pembohong nantinya menang dengan strategi FoF, ia akan memerintah sebuah negara yang rakyatnya terpecah-belah dan bingung. Obama mengatakan “Kalau anda mendapatkan kekuasaan dengan cara memecah-belah, anda akan kesulitan nantinya untuk menyatukan mereka”. Tapi tentu saja kalau seseorang mendapatkan kekuasaan dengan cara begini, mereka tidak akan peduli lagi dengan rakyat dan bangsa. Justru semakin bingung rakyat tersebut, semakin mudah untuk dieksploitasi, diperdaya dan diarahkan untuk melakukan tindakan apa pun, termasuk anarki dan pemberontakan.
Sebetulnya sulit buat saya menerangkan soal hoax dan dampaknya lewat kata-kata. Itu sebabnya saya mencobanya lewat musik, silakan akses di https://www.youtube.com/watch?v=AqSzV79Rll8. Karya ini saya tulis tahun 2018, bagian ke-2 dari Concerto Marzukiana No. 2 untuk biola solo dan orkes, menggunakan melodi “Halo-halo Bandung” untuk motifnya, tapi, terinspirasi oleh FoF, saya pelintir puluhan kali, sehingga sewaktu melodi asalnya akhirnya saya tampilkan secara telanjang, pendengar sudah tidak mengenalinya lagi. Sedangkan bagi pendengar yang belum pernah mendengar lagu aslinya, ia akan sulit mendeteksi lagu tersebut sebetulnya bagaimana bunyinya. Semoga dengan mendengarkannya, anda bisa merasakan dampak hoax ke otak kita.
Pianis, komponis yang menurut The Sydney Morning Herald “one of the world’s leading pianists … at the forefront of championing new piano music”. Penerima Dharma Cipta Karsa RI 2014 Dan Anugerah Kebudayaan RI 2015. Aktivis kebudayaan dan sebagai pengidap Asperger’s Syndrome juga berkampanye dalam membantu sesama penyandang sindrom ini.
Menyukai ini:
Suka Memuat...