Hoax Merusak Keadaban

23

Fenomena Hoax

Fenomena hoax (kabar bohong) terutama di media sosial semakin tidak terkendali. Pengendalian secara parsial tentu tidak menunjukkan keredaannya, harus secara komprehensif melibatkan peran aktif berbagai pihak dalam menghalau dan membatasi efek negatif dari hoax. Sanksi tegas secara hukum pun sebenarnya perlu karena memang dampak negatifnya meluas pada pemahaman orang ketika menerima kabar yang diterima. Terhasutnya orang dari berita bohong (hoax) itu akan mengakibatkan pada dirinya dengan timbul dugaan atas kebohongan tersebut sampai kemudian menjalar pada orang lain dalam menerima kabar bohong tersebut tanpa sedikit pun menyaring, dan tindakan atas kabar bohong yang diterima akan mengarah sikap misunderstanding terhadap hukum yang berlaku, akhirnya sikap main hakim sendiri atau berlaku persekusi bisa terjadi di berbagai tempat.

Aspek sosial ini pada kenyataannya menjadi titik perhatian kita bahwa tatanan sosial yang telah terbangun sejak lama dengan didasari budaya, adat setempat, serta norma sosial bisa menjadi seperti “bangunan yang roboh“ manakala hoax tanpa tersaring akan menjadi titik dari benturan sosial hingga sampai pada konflik sosial. Bahaya itu bisa mempengaruhi dan memperlambat dinamika peradaban manusia yang dibangun oleh agama, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (filsafat).

Islam Menentang Hoax

Hoax (al-Kidzb) adalah sikap atau ucapan berbohong. Islam memandang bahawa mendustakan sesuatu, menyebarkan berita bohong adalah diharamkan dan termasuk pada kategori munafik (idza hadatsa kadzaba), dan menurut Syaikh Abdullah bin Husain Ba’lawi dalam kitabnya Matan Sulam al-Taufiqi bahwa alkidzb itu adalah al kalamu bi khilafi al waqi’i (ucapan yang bertentangan dengan faktanya). Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda “inna al kidzba babun min abwabi al nifaqi“ (sesungguhnya bohong itu adalah pintu-pintu dari perbuatan nifak atau munafik), dan juga memberi ciri atas perilaku orang munafik, Rasul SAW telah bersabda “ayatu al munafiqi tsalatsatun: idza hadatsa kadzaba wa idza wa’ada khalafa wa idza tumina khana“. Imam Ali bin Abi Tholib Karramallahu Wajhah berpandangan bahwa “a’dhomu al khothoya ‘inda allahi al lisanu al kudzubu“ (kesalahan terbesar di sisi Allah SWT adalah ucapan bohong). Bahkan Allah pun mengecam para tukang bohong dengan mengancam memasukkan ke neraka wail, seperti dalam firman Allah Q.S. al-Mursalat ayat 19 dan ayat 28.

Baca Juga:  Media Massa, Sensasinya atau Esensinya ?

Dalam menghadapi berita bohong tersebut Nabi SAW telah mengajarkan pada kita untuk berdoa agar terhindar dari ucapan dan tindakan bohong terebut seperti dalam sabdanya “allahumma thohhir qolbi min al nifaqi, wa farji min al zinaa wa lisani min al kidzbi“. Terkait ini pula bohong adalah tanda dari perbuatan orang munafik, sedangkan orang munafik diancam oleh Allah SWT “inna al munafiqina fi darki al asfali min al naari“ (sesungguhnya orang-orang munafik akan dimasukkan ke dalam keraknya api neraka).

Solusi Menghindari Hoax

Pemberitaan yang mengarah bohong tanpa bukti dan tanpa fakta harus disikapi dengan kehati-hatian baik menerima maupun mengkhabarkannya. Mencermati materi berita atau informasi perlu juga bersikap cerdas serta mampu memfilter, sehingga kita pun diarahkan untuk meminta tabayyun (penjelasan dari pihak yang memberi informasi). Hal tersebut menjadi sikap kita dalam menyiasati fenomena hoax yang begitu membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesimpulannya hoax adalah musuh bersama kita, bahkan kita pun wajib hukumnya meninggalkan perbuatan dan ucapan hoax tersebut, kita berpegangan dengan prinsip “dar’u al mafasidi aula min jalbi al masholihi“ (menolak kemafsadatan/kerusakan itu lebih utama dari mencari/menuntut kemaslahatan).

Wakil Ketua PW Ansor Banten