Benarkah Covid-19 itu konflik, jika konflik berarti ada kekerasan dan wujudnya jelas siapa lawan atau musuh. Namun kali ini Covid-19 sendiri tidak pernah melakukan kekerasan secara kasat mata, tapi ia bisa langsung mematikan orang seketika. Konflik ini sungguh sangat aneh, tidak ada gejala bahkan kekerasan namun bisa mematikan, berarti ini bisa dikatakan sebagai ‘konflik’ bentuk baru.
Jika biasanya konflik terjadi dan dipicu oleh kedua belah pihak, namun konflik Covid-19 ini tidak bisa dikatakan siapa yang memulai pertama kali, apakah orang per orang, atau memang satu melawan banyak. Agaknya, sangat sulit kalau Covid-19 terjadi karena konflik kedua belah pihak. Harus ada bukti yang kuat kalau konflik Covid-19 ini muncul diawali oleh kedua pihak, misal adanya konflik ekonomi antar Amerika dan Cina, sehingga memicu timbulnya Covid-19.
Karena bentuk konflik Covid-19 yang multi-pemahaman, maka perlu demargasi agar Covid-19 dapat dipahami bersama dan menemukan satu bentuk ‘konflik’ baru yang harus segera diselesaikan. Akhirnya konflik ini mengeskalasi dan tidak dapat menemukan resolusi. Berbagai macam eskalasi ini sangat terasa dampaknya, terutama secara filosofi konflik antar pengetahuan dengan agama sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial.
Bahkan tak jarang terjadi kontra antar pengetahuan dengan agama. Pengetahuan menguatkan bahwa ini bencana non alam, namun agama masih ada yang berpegang teguh bahwa semua bencana pastilah ada hikmah dan dapat diselesaikan bukan berlarut-larut. Sehingga, pengetahuan seolah berjalan sendiri, begitu juga agama, masing-masing menunjukkan konflik yang tidak menemukan resolusi. Meskipun ada yang mencoba mengharmonikan bahwa pengetahuan dengan agama tidak bertolak belakang.
Konflik Covid-19 ini sangat terasa dampaknya, berbagai aspek kehidupan merasakan konflik, bahkan tidak menemukan resolusi agar Covid-19 ini berakhir. Dalam kondisi ini, agaknya memang sulit namun setidaknya ada beberapa phisikis yang ingin mencoba meresolusi dan mengakhiri konflik Covid-19 ini, yaitu sebagai berikut:
Pertama, golongan manusia yang agresif ingin terus-menerus perang dan lawan Covid-19, dengan berbagai cara dan upaya agar Covid-19 musnah dari muka bumi. Kedua, golongan manusia yang menyerah dan pasrah dengan keadaan perang lawan Covid-19 dan berharap dengan mengalah dapat kemenangan yang diharapkan.
Ketiga, golongan manusia yang mencoba mencari problem solving dengan tidak frontal dan terus berusaha agar semua tetap dalam keseimbangan, meski korban Covid-19 berjatuhan, tapi tetap terus berusaha agar yang masih hidup bisa berusaha dan berjalan sebagaimana adanya. Keempat, golongan manusia yang mencoba lari dari perang atau menghindar sejauh mungkin untuk tidak mau tahu atas kejadian perang yang telah terjadi melawan Covid-19.
Kelima, golongan manusia yang diam dan tidak mau berbuat apa pun, sehingga mereka meskipun tahu keadaan dalam kondisi perang, mereka memilih diam, namun jika mereka terusik mereka bisa jadi lebih nekat untuk perang.
Dari kelima kondisi ini menunjukkan bahwa konflik Covid-19 memang ada dan tidak tampak meski perlu resolusi yang dapat mengakomodir semua pihak, dan pada akhirnya kita harus sepakat untuk meminimalisir konflik yang terjadi.
Jadikan konflik Covid-19 ini sebagai pelajaran yang sangat berharga, dan bisa jadi ini adalah sebuah kejadian luar biasa yang siklusnya ratusan tahun dan manusia harus lebih siap dalam menghadapi konflik bentuk baru apa-pun. Kekuatan sepenuhnya dikembalikan pada bagaimana manusia menyikapi atas bencana Covid-19 ini. Dengan melihat phisik pola lima yang ada, maka dapat diambil sebuah kekuatan agar konflik ini berakhir, dengan tetap menghargai keadaan yang ada, dan mengarahkan pada sebuah kesepakatan yaitu merdeka dari perang atau menuju perdamaian abadi.
Perang Covid-19 harus sepakat kita akhir dan menuju pada perdamaian abadi, untuk itu siapa pun dari kita, semampunya untuk terus berkontribusi, baik yang kuat-lemah, kaya-miskin, pemerintah-rakyat, dan seterusnya harus saling mendukung dan jadikan konflik Covid-19 ini sebagai bahan introspeksi bagi semua kalangan. Dengan demikian, akan timbul rasa solidaritas, menghargai, dan kerja sama yang kondusif, sehingga perdamaian abadi tercapai dan kita ‘merdeka’ dari Covid-19. Wallâhu ‘alam…
Dosen FEBI IIQ An-Nur Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...