SERIKATNEWS.COM – Indonesia sebagai negara tropis, memiliki dua musim yaitu musim panas dan musim penghujan. Sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa, Indonesia juga merupakan negara yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Saat musim hujan berlangsung, curah hujan yang turun tidak dapat diprediksi. Selain memiliki risiko bencana, curah hujan tinggi juga menyimpan berbagai risiko masalah kesehatan. Risiko masalah kesehatan yang sering muncul pada saat musim hujan adalah penyakit menular. Contohnya malaria, demam berdarah, dan leptospirosis.
Tim KKN-PPM UGM pun menyoroti adanya risiko masalah kesehatan pada musim hujan di Desa Nglanggeran. Dengan kegiatan metode daring, KKN-PPM UGM menyelenggarakan serangkaian acara yang dimulai sejak 8 Maret 2021, yaitu “Edukasi Mengenai Pencegahan Penyakit Menular yang Rentan Terjadi Saat Musim Hujan”. Kegiatan ini ditujukan kepada masyarakat umum, khususnya kader kesehatan dusun Nglanggeran Kulon dan ibu PKK. Walaupun edukasi yang disampaikan terbatas dengan metode daring, masyarakat tetap dapat menerima dengan baik melalui media interaktif yang disiapkan oleh tim KKN-PPM UGM Patuk.
Desa Nglanggeran yang terkenal dengan wisata alamnya terletak di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Desa Nglanggeran sendiri berbatasan dengan Desa Ngoro-oro di bagian utara dan Desa Putat di bagian selatan. Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran merupakan contoh objek wisata alam yang berlokasi di Desa Nglanggeran. Mayoritas masyarakat Desa Nglanggeran berprofesi sebagai petani dan pekerja perkebunan, mengingat Desa Nglanggeran merupakan sentra penghasil kakao dan pisang yang terkenal di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini diisi oleh dokter muda dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM dan juga mengundang dokter umum dari Universitas Padjajaran. Fokus dari kegiatan edukasi ini adalah menjelaskan penyebab, gejala, hingga pencegahan resiko penyakit menular yang terjadi saat musim hujan, di mana saat ini masyarakat juga sedang berjuang bangkit dari kondisi pandemi COVID-19. Salah satu masalah kesehatan yang disoroti oleh tim KKN-PPM UGM Patuk adalah Leptospirosis karena salah satu faktor risiko penyakit menular ini berkaitan dengan pekerjaan petani dan pekebun.
Mungkin masih asing terdengar ditelinga, Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospirae. Bakteri ini dapat masuk melalui kulit, area yang luka, dan selaput lendir atau mukosa (misalnya mulut, hidung, dan mata). Tidak semua orang yang terinfeksi leptospirosis akan langsung memunculkan gejala, terkadang butuh waktu hingga 10 hari hingga gejala muncul. Gejala yang muncul dapat berupa demam tinggi hingga menggigil; nyeri kepala; nyeri otot khususnya area betis; sakit tenggorokan; batuk; mata merah dan kulit menguning; serta mual, muntah, atau diare. Penularannya sendiri terjadi dari hewan ke manusia dan paling sering diperantarai oleh tikus atau hewan pengerat.
Agenda pertama dalam rangkaian kegiatan ini adalah sosialisasi risiko masalah kesehatan melalui laman Youtube KKN-PPM UGM Patuk. Agenda dilanjutkan dengan bincang kesehatan bersama dr Hanna Silmi Zahra sebagai narasumber. Pada bincang kesehatan ini disampaikan mengenai penyebab, faktor risiko, gejala, hingga komplikasi dari leptospirosis. Dijelaskan pula bahwa pencegahan leptospirosis sangatlah mudah, bisa dimulai dari menjaga kebersihan tubuh, membersihkan lingkungan rumah yang berpotensi menjadi tempat berkembang-biak tikus, dan menggunakan alat pelindung diri berupa sepatu boots dan sarung tangan saat melakukan kegiatan pertanian atau perkebunan.
Pada bincang kesehatan ini, disampaikan pula bahwa sebaiknya masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti leptospirosis. “Kejadian leptospirosis dapat menjadi kejadian luar biasa (KLB) di suatu tempat apabila banyak masyarakat yang terjangkit bersamaan,” ujar dr Hanna dalam podcast Bersama tim KKN-PPM UGM Patuk. Tidak lupa, tim KKN-PPM UGM menghimbau masyarakat khususnya di Desa Nglanggeran untuk terus menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengonsumsi makanan yang bergizi dalam jumlah yang cukup, dan menjaga protokol kesehatan agar tubuh senantiasa dalam kondisi sehat. (Belinda Kusuma Melati)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...