SERIKATNEWS.COM – Kenzio Putra Irawan balita umur 4 tahun menderita gangguan fungsi ginjal. Kenzio, putra dari ibu Rensi Etya Rini (37) seorang warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo butuh penanganan serius dan operasi segera karena sekarang kondisinya semakin menurun.
Mochammad Taufiq Hariyanto (46) warga yang ikut menangani balita tersebut mengatakan, sebelumnya ditangani di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, lalu dipindah ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo Surabaya.
“Ini sudah dipindahkan ke RSSA Malang ke-RSUD dr. Soetomo Surabaya karena RSSA Malang gak sanggup dan sekarang dibawa pulang karena terkendala biaya. Kemarin waktu drop sempat disuruh opnam lagi,” kata Taufiq, saat diwawancarai oleh Serikat-News pada Minggu (31/12/2023).
Serikat-News juga menghubungi Rensi Etya Rini (37), orang tua dari balita tersebut. Rini orang tua balita itu sudah kebingungan untuk mencari dana pengobatan anaknya di rumah sakit.
Keseharian ibu dari balita itu hanya tukang pijat. Sementara sang suami awalnya bekerja jualan keliling di sekolah-sekolah, akan tetapi saat ini sang suami sudah tidak bekerja lagi lantaran modal sudah habis.
“Kalau suami kerja jualan keliling di sekolah-sekolah, saya buka jasa pijat. Suami sudah lama gak kerja karena gak ada modal buat jualan. Jadi, untuk kebutuhan sehari-hari dari saya mijat dan di rumah saya juga ninggalin anak yang masih sekolah, butuh uang saku dan makan sehari-hari,” ujar Rini, orang tua Kenzio balita yang menderita gangguan fungsi ginjal.
Ibu yang berprofesi sebagai tukang pijat itu juga mengatakan, jika pernah mendapatkan bantuan dari Swarso Solo sebesar Rp2,4 juta. Namun bantuan itu hanya sekali, sedangkan untuk pengobatan anaknya masih panjang.
“Saya dapat bantuan sekali dari Swarso Solo Rp2,4 juta, itu Dinsos yang mengajukan. Terus saya tanya ‘Apa tiap bulan dapat? Katanya cuma sekali aja’. Sementara Kenzio pengobatannya masih panjang. Tiap hari BAB warna pucat campur darah, sehari kalau BAB bisa 10 kali kadang lebih, perutnya sekarang makin membesar dan bengkak,” ujar Rini.
“Saya juga WA orang Dinkes mengenai Kenzio harus dibawa ke rumah sakit tapi saya gak punya uang. Pihak Dinkes menjawab ‘Kami sudah memberikan ambulan dan kartu pendalungan,'” sambungnya.
Rini juga sudah mendatangi pemerintah kelurahan berkali-kali. Namun, pada akhirnya ia tidak mendapatkan hasil yang diinginkan untuk bisa mendapatkan bantuan untuk membiayai pengobatan anaknya.
“Saya juga ke-kelurahan berkali-berkali, katanya yang mengurusi pihak bantuan pak Dwi. Pak Dwi-nya di WA cuma di baca saja, terus saya menemui langsung lurahnya. Lalu lurahnya bilang ‘bantuannya itu apa kata Dinsos’ tapi kata orang Dinsos ‘apa kata kelurahan’. Di sini saya merasa di permainkan. Padahal ini urusan nyawa anak saya,” kata Rini.
Menyukai ini:
Suka Memuat...