Sudah sekian kali, setiap tahun Indonesia menjalankan ritual keagamaan, korban untuk sesama. Korban yang dijalankan ini adalah suatu ibadah yang berlangsung sejak zaman Nabi Adam, dan lebih ditekankan lagi di zaman Nabi Ibrahim dan seterusnya. Sejak penciptaan Adam dan keturunannya, Tuhan menyaratkan keikhlasan ciptaanNya untuk memberikan yang terbaik yang dimiliki. Bukan karena Tuhan tidak punya, tetapi karena Tuhan akan menilai rasa syukur setiap ciptaan terhadap apa yang diberikan Sang Pencipta.
Maka dari dulu, hanya persembahan yang paling segar, paling besar, paling baik yang seharusnya diberikan oleh manusia kepada Tuhan sebagai wujud terima kasih atas apa yang telah dinikmati. Di masa umat akhir zaman ini, bentuk pengorbanan mengikuti sejarah nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ketika Tuhan meminta nabi Ibrahim mengorbankan putera satu-satunya, keikhlasan satu keluarga Ibrahim yang menjadi ukuran keshalehan dan kecintaannya pada Tuhan. Apa yang diminta olehNya, harus diberikan kepadaNya. Sejatinya segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah titipan Tuhan, termasuk keberadaan manusia dan seluruh ciptaanNya.
Di tengah bencana yang menimpa saudara kita di NTB, keikhlasan setiap manusia Indonesia sedang kembali diuji. Penduduk NTB yang tertimpa musibah diuji kesabaran, ketabahan dan kerelaannya menghadapi bencana; sementara kita penduduk Indonesia di daerah lain yang tidak terkena bencana seyogyanya berbondong-bondong mengasihi mereka yang berada di NTB. Tidak ada politisasi dalam bencana, yang ada adalah bagaimana secara efektif dan efisien menanggulangi bencana, memperbaiki sarana prasarana yang ada, mengevakuasi korban ke tempat yang aman dan menjaga mereka dari serangan penyakit fisik dan psikis.
Mohon janganlah mengutarakan ujaran-ujaran yang memantik percekcokan, apalagi dengan menunggangi penderitaan rakyat NTB. Sudah cukup sulit Indonesia menangani permasalahan demi permasalahan tanpa harus ditambah-tambahi dengan komentar-komentar yang menyakiti telinga dan hati, tanpa wujud nyata untuk solusinya. Apalagi ketika orang-orang yang berada di sana, ataupun tidak berada di sana, alih-alih menggelontorkan bantuan, malah menyebar berita hoax. Itu namanya menetesi luka menganga dengan perasan jeruk nipis.
Untuk NTB, kita harus sigap bergerak bersama. Bukan hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah, ataupun TNI, tetapi juga masyarakat NTB sendiri. Kita harus sanggup bangkit kembali setiap kali terjatuh, dan jangan pernah tergoda untuk mengomentari buruk apapun yang berusaha diberikan oleh orang lain sebagai bantuan. Selalu ingat akan keberadaan Tuhan dan para malaikat, yang mencatat keikhlasan setiap manusia dalam berbagai cobaan. Semoga setiap cobaan yang dapat dilalui dengan berlapang dada, dapat menjadi amalan “naik kelas” untuk para korban bencana.
Pengorbanan tak boleh hanya berhenti pada masyarakat NTB walau sekarang mereka yang paling membutuhkan. Indonesia butuh kontribusi nyata materiil dan kerjasama. Di tengah perekonomian global yang menghimpit berbagai negara di dunia, Indonesia seharusnya masih bisa bertahan, asal kita tidak malah sibuk saling menyalahkan. Siapa yang bisa bantu Indonesia, walaupun Rp. 100, berikan dengan sukarela. Tak punya duit Rp. 100, sumbangkan tenaga dan pikiran untuk membangun bangsa. Jangan pernah mengeluh, apalagi menyinyiri pemerintah karena biasanya membayar listrik “hanya” Rp.1.000.000,-, kini terpaksa membayar Rp. 1.200.000.
Jangan lagi berteriak-teriak manja, ketika premium tidak lagi diperuntukkan bagi mobil-mobilmu yang harganya selangit itu. Mulailah pakai Pertamax, karena selain membantu perekonomian, hasil buangan dari bensin lux tersebut lebih baik untuk lingkungan. Atau, lebih baik jangan sama sekali menggunakan kendaraan pribadi dan pilih naik transportasi umum. Orang kaya bukan berarti harus naik turun mobil; orang kaya adalah mereka yang memilih untuk menyimpan uang rapat-rapat untuk anak keturunannya, daripada gengsi-gengsian dan pamer kendaraan ke orang lain.
Segala subsidi yang dicabut pemerintah karena dianggap terlalu memanjakan masyarakat perkotaan Jakarta, kini disebarkan sebagai bentuk pemerataan keadilan ekonomi dan sosial untuk seluruh masyarakat Indonesia. Tidaklah pantas ketika masyarakat Jakarta dengan santai naik turun kendaraan, masyarakat Papua dan Kalimantan, atau pedalaman Jambi masih harus berjalan ratusan kilo naik turun gunung karena tidak adanya jalan antar daerah. Mereka yang sempat puluhan tahun terpaksa hidup dalam keterbelakangan, harus diangkat derajat pengetahuan dan kehidupannya, agar Indonesia utuh maju bersama.
Pengorbanan seperti itu belum seberapa bila dibandingkan pengorbanan darah dan nyawa yang dilakukan para pejuang untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 73 tahun silam. Pengorbanan kita hanya sedikit mengetatkan ikat pinggang dan berupaya mencari berbagai solusi kreatif untuk mempertahankan Indonesia. Bukannya mencari jalan pintas untuk memilih bentuk negara yang baru dan salah, seperti khilafah yang terbukti gagal total di Suriah sana. Bukan juga dengan geram tak menentu untuk segera mengganti pemimpin negara, tanpa tahu siapa sosok pengganti yang lebih mumpuni.
Pengorbanan kita dibutuhkan oleh Indonesia saat ini; ikhlaskah kita memberikan sedikit kemewahan semu hidup perkotaan yang biasa mengelabui kita selama bertahun-tahun yang lalu? Relakah kita bangun membuka mata dan ikut berjuang bersama-sama keluar dari masa paceklik, dan mewujudkan Indonesia Jaya di masa depan? Sanggupkah kita memberi pengorbanan sebagai manusia kepada Tuhan, yang telah memberikan Indonesia sebagai tempat bernaung selama hidup, dan akan menjadi tanah berpulang kepadaNya?
“Hanya orang-orang yang bersyukur yang mampu meresapi arti pengorbanan, dalam hening yang syahdu”