JAKARTA – Dorongan untuk memunculkan figur Ketua Umum PBNU alternatif mulai menguat di tengah dinamika internal Nahdlatul Ulama. Figur alternatif itu dinilai perlu hadir di luar kubu-kubu yang sedang terlibat polemik.
Salah satu nama yang disebut layak menjadi poros tengah adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, itu dinilai memiliki posisi yang lebih sejuk dan dapat diterima banyak kalangan.
“NU butuh figur yang bisa menjadi titik temu. Bukan bagian dari konflik, tapi mampu merangkul semua pihak,” kata Muslih Hasyim, mantan Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).
Dinamika menjelang Muktamar NU tidak boleh hanya dipahami sebagai pertarungan dua kubu. Muktamar harus tetap menjadi forum permusyawaratan tertinggi yang menjaga marwah ulama, adab jam’iyyah, dan kepentingan besar Nahdlatul Ulama.
Karenanya, Hasyim yang juga Wakil Ketua IKA PMII Jawa Timur itu, menilai perlu ada figur alternatif yang dapat membuka ruang konsolidasi baru. Figur tersebut diharapkan mampu menjembatani perbedaan, meredakan ketegangan, dan membawa PBNU kembali fokus pada agenda khidmah.
Nama Gus Yusuf disebut memenuhi kebutuhan itu. Selain berlatar pesantren, Gus Yusuf juga dikenal memiliki pengalaman panjang dalam mengelola organisasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan jejaring sosial keagamaan.
“Gus Yusuf punya modal pesantren, pengalaman organisasi, dan komunikasi yang relatif diterima banyak pihak. Dalam situasi seperti sekarang, NU butuh pemimpin yang tidak menambah panas keadaan,” ujarnya.
Dorongan poros damai ini muncul karena sebagian warga NU tidak ingin Muktamar hanya menjadi arena pertarungan elite. Mereka berharap suksesi kepemimpinan PBNU berjalan lebih sehat dan tidak memperlebar pembelahan di tubuh organisasi.
Gus Yusuf juga dinilai memiliki karakter kepemimpinan yang tenang, egaliter, dan dekat dengan berbagai lapisan warga NU. Karakter itu dianggap penting untuk menjaga soliditas organisasi setelah Muktamar.
Dinamika ini diperkirakan terus berkembang menjelang Muktamar NU. Sejumlah kalangan berharap munculnya figur alternatif seperti Gus Yusuf dapat menjadi jalan tengah agar PBNU ke depan tidak terseret konflik berkepanjangan.
Menanggapi dorongan tersebut, Gus Yusuf di sela-sela pertemuan dengan 26 PCNU Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepercayaan yang diberikan sejumlah kiai, pengurus, dan warga NU. Ia menyebut setiap aspirasi yang muncul harus ditempatkan dalam kerangka menjaga keutuhan dan kemaslahatan jam’iyyah.
“Saya menghormati setiap aspirasi yang muncul. Bagi saya, yang paling penting adalah bagaimana NU tetap rukun, teduh, dan terus berkhidmah untuk umat,” kata Gus Yusuf.
Gus Yusuf menegaskan, dirinya tidak ingin dinamika menjelang Muktamar justru memperuncing perbedaan di tubuh NU. Menurutnya, seluruh proses organisasi harus dijalankan dengan adab, musyawarah, dan penghormatan kepada para kiai.
“NU ini pesantren besar. Siapa pun yang berkhidmah di dalamnya harus menjaga pesantren ini tetap utuh. Jangan sampai perbedaan pandangan membuat kita kehilangan adab dan persaudaraan,” ujarnya.
Menyukai ini:
Suka Memuat...