JULUKAN juara tanpa mahkota makin melekat pada Belanda. Kalau cuma sekali tampil di Piala Dunia lalu tersingkir, mungkin bisa dimaklumi karena, misalnya, terkena sindrom demam panggung. Belanda menjadi kontestan di gelanggang megah empat tahunan ini sudah 12 kali.
Prestasi terbaik dicapai pada tahun 1974, 1978 dan 2010. Tim Oranye finish di posisi runner up. Bagaimana nasibnya di Piala Dunia kali ini? Belanda belum bisa menghindar dari kutukan kegagalan berulang-ulang meraih juara.
Berjumpa Maroko di babak knock out, Belanda tergusur melalui drama adu pinalti. Algojo yang gagal berjumlah 5 pemain (dua dari Maroko: Neil El Aynaoui, Achraf Hakimi, tiga dari Belanda: Justin Kluivert, Quinten Timber, Crysencio Summerville). Penendang yang sukses juga terdiri dari 5 pemain (tiga dari Maroko: Soufiane Rahimi, Chemdine Talbi, Ismael Saibari, dua dari Belanda: Teun Koopmeiners, Wout Weghorst)
Adu nasib melalui tos-tosan berpihak kepada Maroko dengan skor akhir 2-3. Kemenangan Singa Atlas ditentukan oleh eksekutor terakhir, Ismael Saibari. Placing bolanya dari titik putih berhasil mengecoh kiper Belanda, Bart Verbruggen.
Permainan Belanda di fase 32 besar sama sekali tidak mencerminkan total football. Maroko berhasil memaksa jalannya pertandingan tidak berimbang. Maroko menjadi pengendali serangan, Belanda membukukan penguasaan bola hanya 30%.
Belanda lebih dulu mencuri gol di menit 72. Hanya butuh empat sentuhan untuk merobek gawang Yassine Bounou. Kiper Belanda melepas bola ke area tengah, lalu disambut sundulan oleh Wout Weghorst dan diarahkan ke Crysencio Summerville. Crysencio membawa bola hingga ke kotak pinalti. Tubuhnya terpleset tapi sempat mengirim umpan ke Cody Gakpo. Gakpo tidak menyiakan-nyiakan peluang.
Gol balasan Maroko tidak kunjung tiba. Rapatnya pertahanan Belanda seolah tidak bisa dijinakkan. Sundulan Issa Diop di injury time menjadi ledakan bom yang mengguncang Belanda.
Ledakan bom ini tidak hanya menyamakan skor, tapi menyebabkan tim besutan Ronald Koeman tidak bisa keluar dari tekanan. Hal ini tergambar jelas dalam dua kali 15 menit di babak tambahan. Belanda tidak berani berduel secara konfrontatif; serangan dibalas serangan, serangan direspon serangan. Tim Oranye praktis hanya bertahan. Sungguh aneh, Belanda bertransformasi dari total football ke total defensive.
Maroko yang mendominasi penguasaan bola memilih bermain aman. Anak asuh Mohamed Ouahbi lebih banyak memainkan bola di areanya sendiri. Dalam situasi pertandingan yang monoton ini sulit diharapkan gol tercipta. Skor pun tidak berubah, tetap imbang 1-1.
Tiada pilihan lain, adu pinalti adalah langkah penentuan terakhir. Ketika jatuh pada pilihan paling mendebarkan ini, apakah skuad Belanda tidak ingat bahwa mereka adalah tim yang sering gagal dalam adu pinalti. Kenapa mereka tidak bertekad kuat meraih kemenangan di waktu normal dan babak tambahan. Dan apa yang terjadi? Belanda mau tidak mau harus menanggung resikonya, dihukum dengan kejam melalui adu pinalti.
Seorang matematikawan, Joachim Klement menjagokan Belanda juara Piala Dunia 2026. Joachim Klement yang juga berprofesi sebagai pakar ekonomi bukanlah pengamat bola. Meski bukan analis bola, ramalan dia mendapat kepercayaan public. Prediksi Klement siapa yang bakal juara dunia, tiga kali berturut-turut akurat.
Ramalan pakar ekonomi asal Jerman ini dalam Piala Dunia edisi 2014, 2018 dan 2022 tidak meleset. Tapi kali ini ramalan Klement melenceng jauh. Jangankan tampil di putaran final dan menjadi juara, Belanda dipaksa angkat koper setelah menjalani babak 32 besar.
Pemerhati dan pecinta bola. Pengasuh pondok pesantren API Salafi Tegalrejo Magelang.
Menyukai ini:
Suka Memuat...