Sejak berhasil menggulingkan Gubernur terbaik DKI Jakarta di tahun lalu, demonstrasi demi demonstrasi dilakukan meski tak jelas apa tuntutannya. Menuntut mengganti kepemimpinan, padahal pemimpin Indonesia kali ini adalah yang terbaik, bukan saja untuk Indonesia tapi juga diakui dunia. Alasan tuntutan pun diulang-ulang meski sudah dijelaskan duduk perkara setiap permasalahan yang sedang dicarikan solusinya. Sebagaimana calon yang mereka dukung meski bertentangan dengan hati nurani, mereka senantiasa meneriakkan kesulitan rakyat tanpa data.
Energi demonstrasi ini bagai tak terkuras, senantiasa ada paling tidak untuk sekelompok oknum yang mengatasnamakan agama. Jangankan pada saat demo, di antara demo-demo itu mereka bersama pemimpin-pemimpin yang minta disebut ulama hanya karena bergamis dan bersorban terus menerus berteriak-teriak provokatif. Sang pemimpin berteriak dengan suara serak hampir habis, jamaahnya pun menyahuti tak kalah kencangnya. Terkadang demi menyahuti sang pemimpin mereka berteriak tanpa mengerti konten tuturan sang pemimpin.
Bayangkan saja, ketika orator demo bertanya, “orang takut masuk neraka itu orang pinter atau orang bodoh?“, tanpa berpikir dijawab oleh jamaah, “bodohhh!”. Meski diulang tiga kali, jawabannya pun masih sama hingga sang orator meluruskan, “orang pinter dong!”. Di sini kita dapat memahami bagaimana kualitas pengikut demonstrasi yang sayangnya memang tidak menyertakan akal kritis dalam pola pikir mereka tetapi terjebak pada provokasi-provokasi pemimpin mereka yang seringkali menyesatkan.
Orang-orang yang nampaknya memiliki tenaga berlebih ini seyogyanya dapat lebih menahan diri untuk dapat mengolah informasi dengan baik dan benar. Terkadang banjir adrenalin karena euforia berkumpul dan merasa kuat membuat akal tidak berjalan dengan semestinya. Contoh saja kelompok pelajar yang tawuran lantas merasa menjadi jagoan ketika merangsek kelompok pelajar lain; coba kalau pelajar itu berhadapan satu lawan satu disaksikan satu orang polisi atau militer, tidak akan mereka berani saling colek sekalipun.
Informasi itu harus didengar dan diolah dalam kepala; bilapun terasa membangkitkan “jiwa perjuangan” dengan berbagai embel-embel religius semacam “jihad“, “bela agama“, seseorang hendaknya mengendapkan setiap kata tersebut, mengumpulkan informasi perbandingan, dan akhirnya memutuskan dengan akal sehat apakah yang dikatakan oleh seseorang adalah benar adanya atau hanya merupakan provokasi untuk memicu kerusuhan.
Setiap manusia yang berakal harus dapat memisahkan yang baik dari yang salah. Jangan sampai pemimpin yang berdakwah dengan menghina orang lain, atau yang isi dakwahnya memuat pelecehan terhadap perempuan malah didewakan dan dianggap tidak bersalah. Jangan sampai pula label pemimpin yang disematkan hanya karena ybs mengaku keturunan Rasulullah membutakan penilaian kita terhadap kualitasnya yang perlu dipertanyakan. Keturunan Rasulullah seharusnya tidak hanya mendompleng nama beliau, lalu malah menodainya dengan berlaku sesuka hati.
Keturunan Rasulullah adalah yang pandai menjaga lisan, tidak memaksakan kehendak, mencontohkan perbuatan dan kegiatan yang berguna, mempelajari berbagai hal dan hidup di dalam masyarakat plural dengan damai. Segala tindak tanduk dan tutur kata keturunan Rasulullah mencerminkan akhlak dan adab yang tinggi, sebagaimana Rasulullah bersikap dan bertutur kata. Jangankan memulai lebih dahulu memaki orang lain, dimaki pun beliau tidak membalas dan beliau selalu melarang para sahabatnya menghukum orang yang melakukan hal tersebut kepadanya.
Rasulullah mencontohkan adab yang baik kepada pemakinya, yaitu ketika beliau dicaci maki oleh seorang Yahudi buta. Beliau setiap hari mendatangi sang Yahudi dan memberinya makan meski harus mendengarkan Yahudi tersebut tanpa sadar memaki-maki Rasulullah. Sampai akhir hayatnya beliau melakukan kebaikan tersebut pada orang yang membencinya. Ketika beliau wafat, sang Yahudi buta bertanya pada sahabat Rasulullah, di mana orang yang selalu menyuapinya? Sahabat berkata, bahwa orang yang menyuapinya dengan penuh kasih itu telah meninggal dunia. Dialah Rasulullah yang senantiasa dicaci maki tanpa sadar oleh sang Yahudi buta.
Kisah ini seharusnya menjadi suri tauladan bagi para pengikut Rasulullah. Alih-alih membalas caci maki yang menghabiskan energi, kita bisa mengubah keadaan dengan perbuatan baik. Energi berlebih yang dimiliki oleh sebagian pengikut Rasulullah yang terpancing provokasi pun sebenarnya dapat diarahkan pada “jihad” yang lebih berkualitas dan ada manfaatnya. Sebagai contoh, alih-alih bergerombol dalam demo yang mudah disusupi teroris, alangkah baiknya bila pada hari minggu itu setiap umat Islam menyingsingkan lengan baju membersihkan lingkungannya dari sampah.
Memisahkan sampah plastik dan sampah rumah tangga, dan mendaur ulang semua sampah tersebut menjadi produk kompos organik atau kerajinan tangan yang dapat menghasilkan tambahan uang. Lebih jauh lagi, setiap anggota masyarakat mendisiplinkan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan dan membuat saluran pembuangan yang terlokalisir secara gotong royong. Dengan demikian, sungai tidak lagi menjadi wadah penampung kotoran dan sampah; bila demikian, niscaya permasalah banjir tidak lagi menjadi momok yang menghantui ibukota di setiap musim hujan.
Menyukai ini:
Suka Memuat...