ADA sesuatu yang menarik ketika kita mencoba membaca sosok Ali Khamenei melalui kacamata yang jauh dari Teheran, yaitu melalui kacamata tradisi Jawa. Tentu ini dua ruang yang berbeda; antara Persia dan Nusantara, Syiah revolusioner dan tradisi Jawa yang hening, ngening, ngenung. Namun, ketika berbicara tentang kepemimpinan, martabat, dan pengorbanan, nilai-nilai bertemu di ruang yang lebih dalam, ada titik temu pada ruang batin yang bernama manusia.
Dalam tradisi Jawa, pemimpin bukan sekadar penguasa administratif. Ia adalah pusat batin masyarakatnya, sebagai raja yang selesai wilayah batin dan duniawinya, pangeran yang memiliki tugas ngenger, kanjeng gusti tumenggung yang memiliki tugas mengomunikasikan secara horizontal, sunan atau susuhunan yang menjadi wakil atau wali yang menyinari dan merangkul seluruh masyarakatnya.
Ada ungkapan yang sangat mafhum di benak kita bahwa Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Kepemimpinan bukan pertama-tama soal kekuasaan, melainkan soal laku, soal suluk dan soal cara hidup yang memancarkan arah dan cahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khamenei tumbuh dalam revolusi, dalam dunia yang penuh tekanan dari luar. Sejak Revolusi 1979 bersama Ruhollah Khomeini, ia meyakini bahwa Iran harus berdiri dengan caranya sendiri. Revolusi itu bukan sekadar mengganti sistem, relasi dan struktur komunikasi. Ini adalah tentang pernyataan harga diri dan jati diri. Istilah ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana, harga diri lahir dari kata-kata dan sikap. Khamenei memilih kata-kata yang tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia tidak menyamarkan sikapnya, tidak membungkusnya dengan diplomasi yang terlalu lunak. Ia berbicara tentang perlawanan, tentang martabat, tentang kedaulatan.
Bagi para pendukungnya, ketegasan itu adalah wujud teguh pendirian (bhagaskara) tidak goyah oleh tekanan. Seorang pemimpin memang diharapkan memiliki watak ksatria; berani, konsisten, siap menanggung risiko. Ketika Iran dihantam sanksi ekonomi bertahun-tahun, ketika nilai mata uang melemah dan tekanan internasional datang silih berganti, Khamenei tidak memilih jalan kompromi besar yang bisa mengubah arah ideologis negaranya. Ia justru menekankan ketahanan nasional, ekonomi perlawanan, dan kemandirian teknologi.
Agaknya kita juga perlu melihatnya pada sisi Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, bahwa kerukunan membawa kekuatan, perpecahan membawa kehancuran. Kepemimpinan diuji bukan hanya oleh keberanian melawan musuh luar, tetapi oleh kemampuan merawat harmoni di dalam.
Sepanjang masa kepemimpinannya, Iran mengalami dinamika internal, protes mahasiswa, gerakan reformasi, keresahan generasi muda yang hidup di era digital. Dalam pandangan negara, stabilitas adalah fondasi yang tak boleh retak. Dalam pandangan sebagian rakyat, ruang kebebasan terasa menyempit. Seorang pemimpin Jawa idealnya mampu menyeimbangkan ketegasan dan keluwesan, antara ketertiban dan welas asih.
Dalam banyak pidatonya, Khamenei berbicara tentang membela yang tertindas. Ia menyuarakan Palestina, mengkritik intervensi Barat, dan mendukung poros perlawanan termasuk hubungan dengan Hezbollah sebagai bagian dari solidaritas regional. Jika dibaca melalui kearifan Jawa, ini mengingatkan pada prinsip memayu hayuning bawana tentang menjaga stabilitas dunia. Dalam narasinya, perlawanan bukan agresi, melainkan usaha mengembalikan keseimbangan yang dianggap timpang.
Tetapi keseimbangan dunia sering kali dibayar mahal. Ketegangan panjang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel akhirnya mencapai puncaknya pada awal 2026. Serangan udara besar-besaran mengguncang sejumlah fasilitas strategis Iran. Kota-kota dalam siaga, rakyat cemas, dunia menahan napas. Dalam pusaran konflik itu, pada 28 Februari 2026, Ali Khamenei dilaporkan wafat akibat serangan yang menghantam kompleks yang menjadi pusat aktivitas kepemimpinannya. Bagi para pendukungnya, ia gugur dan disebut sebagai syahid seorang yang wafat dalam perjuangan mempertahankan keyakinan dan negaranya.
Ada nilai mendasar tentang kematian, mati sajroning urip, urip sajroning pati. Seorang pemimpin sejati hidup dalam nilai-nilai yang ia perjuangkan, dan bahkan setelah wafat, namanya tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Kematian Khamenei bukan sekadar akhir biologis; ia menjadi simbol. Bagi sebagian rakyat Iran, itu adalah lambang konsistensi sampai titik terakhir ia tidak mundur dari garis yang ia yakini benar. Karena laku sepi ing pamrih, rame ing gawe bekerja keras demi keyakinan, tanpa terlalu sibuk menghitung keuntungan pribadi menjadi laku dalam menjaga stabilitas sosial di Iran, khususnya.
Namun sejarah selalu memiliki dua wajah. Ada pula mereka yang bertanya dengan jujur, bahwa apakah jalan konfrontasi panjang membawa lebih banyak martabat atau lebih banyak luka? Sanksi ekonomi, inflasi, keterbatasan akses global semua itu dirasakan oleh rakyat biasa. Bahwa pemimpin ideal berusaha mencapai penyatuan, mencapai manunggaling kawula lan gusti kesatuan batin antara pemimpin dan rakyat. Tantangan terberat bukan hanya berdiri tegak di hadapan musuh luar, tetapi memastikan bahwa keputusan besar tidak menjauh dari denyut kehidupan rakyat kecil.
Bahwa keberanian melawan hegemoni global bisa menjadi sumber kebanggaan nasional. Tetapi keberanian juga harus berjalan beriringan dengan kebijaksanaan. Dalam dunia wayang, Yudhistira dihormati bukan karena ia selalu menang perang, melainkan karena ia selalu menimbang dharma dan kebenaran moral sebelum melangkah. Kepemimpinan bukan soal menang atau kalah semata, melainkan tentang kesetiaan pada nilai dan kesediaan memikul konsekuensi.
Khamenei memilih jalannya sendiri, jalan perlawanan keras terhadap Amerika dan Israel, jalan menjaga identitas Islam dalam negara, jalan mempertahankan revolusi hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada usia 86 tahun dalam konflik yang menjadi kulminasi dari sikapnya selama puluhan tahun. Bagi para pengikutnya, kematiannya adalah penutup yang selaras dengan hidupnya, ia pergi dalam garis perjuangan yang tak pernah ia tinggalkan. Bagi para pengkritiknya, itu adalah akhir tragis dari ketegangan yang seharusnya bisa diredakan.
Kita belajar bahwa pemimpin besar selalu hidup dalam paradoks. Ia bisa dipuji sebagai ksatria dan dikritik sebagai penguasa keras dalam waktu yang sama. Ia bisa menjadi simbol martabat sekaligus sumber perdebatan. Kepemimpinan sejati memang jarang sederhana. Ini bukan hanya kebijakan dan pidato, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang ia wariskan: bagaimana menjadi kuat tanpa kehilangan welas asih? Bagaimana menjaga martabat tanpa memutus ruang dialog? Bagaimana mempertahankan iman tanpa mengabaikan kebutuhan zaman?
Mau tidak mau pertanyaan-pertanyaan itulah yang paling layak direnungkan. Sebab di sanalah hakikat kepemimpinan diuji, bukan hanya dalam sorak dukungan atau teriakan kritik, tetapi dalam kesediaan untuk menimbang keberanian dan kebijaksanaan dalam satu tarikan napas panjang.
Sedang Nyantri di Bayt Al-Karim Gondanglegi dan Bayt Al-Hikmah Kepanjen Malang
Menyukai ini:
Suka Memuat...